Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa di Era Digital
Para guru menghadapi tantangan ganda jauh lebih kompleks dibandingkan dekade sebelumnya, yakni beradaptasi dengan laju teknologi
Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini menjadi momentum krusial untuk menyoroti pergeseran beban kerja tenaga pendidik.
Para guru menghadapi tantangan ganda jauh lebih kompleks dibandingkan dekade sebelumnya, yakni beradaptasi dengan laju teknologi sekaligus menangani kerentanan mental siswa.
Pakar Pendidikan Nasional, Darmaningtyas menganggap peran guru saat ini tidak lagi sekadar mentransfer ilmu, melainkan menjadi pondasi dalam pembentukan karakter siswa. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya benturan budaya dan mentalitas yang tajam.
"Di satu sisi, guru banyak di-drive oleh perkembangan teknologi kekinian. Di sisi lain, para guru dihadapi dengan mental-mental siswa yang mungkin lemah," ujar Darmaningtyas dalam keterangannya, Selasa (25/11).
Menurutnya, kompleksitas masalah ini semakin dalam ketika menelisik karakteristik siswa zaman sekarang, atau yang sering diasosiasikan dengan generasi digital. Ada kesenjangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial yang nyata.
Dunia digital yang membentuk perilaku mereka seringkali gagal memberikan perspektif kebangsaan dan kenegaraan, menciptakan generasi yang cerdas secara teknis namun rapuh secara emosional.
Ia menilai, kondisi ini diperparah oleh minimnya ruang ekspresi yang sehat, baik di rumah maupun di lingkungan sosial. Ketidakmampuan menyalurkan emosi ini bermanifestasi menjadi masalah perilaku di sekolah, mulai dari sikap acuh hingga tindakan agresif.
"Anak-anak kaum milenial itu juga punya persoalan, terutama dalam hal komunikasi maupun juga dalam interaksi dengan sesama. Termasuk juga memberikan ruang untuk penyaluran semacam kegelisahan, kekecewaan, dan sebagainya," jelas penulis buku Manipulasi Kebijakan Pendidikan ini.
Menurut Darmaningtyas fenomena ini menegaskan kembali konsep Tri Pusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, di mana porsi pengaruh sekolah sejatinya hanya 30 persen, sementara keluarga memegang peran dominan sebesar 50 persen, dan lingkungan 20 persen. Ketimpangan peran keluarga berdampak langsung pada siswa.
Menghadapi situasi pelik ini, lanjut Darmaningtyas, pendekatan kekerasan atau otoriter, seperti layaknya seorang mandor sudah tidak lagi relevan. Guru dituntut untuk menjadi fasilitator yang mendorong anak tumbuh dan berkembang tanpa menggunakan kekerasan verbal maupun fisik.
"Kuncinya, guru perlu membaca banyak hal, terutama biografi para pendiri bangsa sehingga bisa memahami jiwa kebangsaan, bagaimana negara ini dibentuk," pungkasnya.