Penyandang Disabilitas di Sukoharjo Terbantu Program MBG untuk Penuhi Kebutuhan Keluarga
Rohmat berprofesi di SPPG Yayasan Permata Mitra Keluarga, yang merupakan salah satu bagian dari program MBG.
Saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum dimulai, Rohmat Riyadi (24) dengan cermat membersihkan setiap sudut ruangan fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Dengan mengenakan masker, penutup kepala, dan sarung tangan, ia juga memastikan bahwa lantai toilet bersih sebelum digunakan oleh pegawai SPPG yang setiap hari menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak penerima program.
Rohmat berasal dari Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, dan memiliki gangguan penglihatan pada mata kirinya yang menyebabkan penglihatannya rabun. Selain itu, ia juga mengalami disabilitas pada kaki kiri akibat polio sejak kecil, yang memengaruhi langkahnya saat berjalan.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya terpinggirkan. Di SPPG Yayasan Permata Mitra Keluarga, Rohmat bekerja sebagai petugas kebersihan (cleaning service) dan berperan penting dalam menjaga kebersihan fasilitas dapur yang merupakan bagian dari program MBG.
Bagi Rohmat, pekerjaan ini lebih dari sekadar sumber penghasilan. Kesempatan ini memberinya ruang untuk tetap berdaya dan membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu bekerja tanpa diskriminasi.
"Teman-teman di sini baik semua. Mereka memperlakukan saya sama, tidak dibedakan," ungkap Rohmat, seperti yang dikutip pada Sabtu (14/3). Sebelumnya, Rohmat mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pabrik mebel dan kini sangat bersyukur atas kesempatan yang ia dapatkan.
Rohmat berharap dapat menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto jika suatu saat bertemu. "Terima kasih untuk Pak Prabowo. Kaki saya sakit karena polio, saya disabilitas, mata saya juga agak rabun. Tapi saya bisa bekerja di dapur MBG dan bisa membantu orang tua serta memenuhi kebutuhan sehari-hari," tambahnya.
Ciptakan Peluang Kerja
Ketika ditanya tentang harapannya terkait pekerjaan yang dijalaninya, pemuda berusia 24 tahun ini menyatakan keinginannya untuk menggunakan penghasilannya demi kebahagiaan orang tua serta memenuhi kebutuhan hidupnya.
Rohmat juga mengharapkan agar dapur MBG terus memberikan kesempatan kerja tanpa adanya diskriminasi, sehingga penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya dapat memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan pekerjaan. "Harapan saya dapur MBG bisa terus berjalan dan disabilitas seperti saya bisa bekerja di dapur MBG," ungkapnya.
Cerita Rohmat ini menggambarkan bahwa Program MBG tidak hanya berfokus pada peningkatan pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah, tetapi juga berupaya membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Dengan adanya operasional dapur SPPG di berbagai daerah, program ini berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat, termasuk bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat.