Penanganan Bencana Aceh Kurang Terekspos, Komdigi Diminta Gerak Cepat
Dalam rapat bersama Komisi I DPR, Senin (8/12), Endipat menekankan bahwa Komdigi harus mampu membaca isu-isu sensitif.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) diminta berperan lebih aktif dalam menyebarluaskan informasi terkait upaya pemerintah menangani bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Penguatan publikasi dianggap penting agar langkah pemerintah tidak tenggelam oleh narasi lain di media sosial.
Dalam rapat bersama Komisi I DPR, Senin (8/12), Endipat menekankan bahwa Komdigi harus mampu membaca isu-isu sensitif di tingkat nasional serta memastikan kerja pemerintah tersampaikan secara luas.
"Fokus nanti ke depan Kementerian Komdigi ini mengerti dan tahu persis isu sensitif nasional dan membantu pemerintah memberitahukan dan mengamplifikasi informasi sehingga nggak kalah viral dibandingkan dengan teman-teman yang sekarang ini paling-paling di Aceh, di Sumatera, dan lain-lain itu, Bu. Ada orang yang cuma datang sekali seolah-olah paling bekerja di Aceh," kata Endipat.
Sejak awal bencana
Ia menegaskan bahwa sejak awal bencana melanda Sumatera, pemerintah telah lebih dulu turun ke lapangan.
"Padahal negara udah hadir dari awal. Ada orang baru datang, baru bikin satu posko, ngomong pemerintah nggak ada. Padahal pemerintah udah bikin ratusan posko di sana," ungkapnya.
Endipat menyebutkan pentingnya penyampaian informasi yang tepat agar masyarakat mengetahui skala kerja pemerintah.
"Yang sehingga publik itu tahu kinerja pemerintah itu sudah ada dan memang sudah hebat," kata dia.
Donasi kecil dari relawan
Ia juga menyoroti fenomena di mana donasi kecil dari relawan bisa lebih viral dibanding kontribusi pemerintah yang jauh lebih besar.
"Orang-orang cuma nyumbang 10 miliar, negara udah triliun-triliunan ke Aceh itu, Bu. Jadi yang kayak gitu-gitu, mohon dijadikan perhatian sehingga ke depan tidak ada lagi informasi yang seolah-olah negara tidak hadir di mana-mana. Padahal negara sudah hadir sejak awal di dalam penanggulangan bencana," ungkapnya.
Endipat menambahkan bahwa kehadiran TNI AU di lokasi bencana sejak hari pertama seringkali tidak terlihat oleh publik karena kurangnya publikasi.
"Angkatan Udara hari pertama langsung ada 4-5 pesawat datang ke sana. Tapi dibilang nggak pernah hadir. Nah mungkin itu karena kita kalah dalam menginformasikan," katanya.