Munculnya sejumlah grup komunitas gay di Facebook dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu akun memicu perbincangan luas di Jawa Timur. Keberadaan grup-grup tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai fenomena sosial yang mengkhawatirkan karena aktivitasnya berlangsung secara terbuka di media sosial dan dapat diakses publik.
Berdasarkan penelusuran pada platform Facebook, terdapat sejumlah grup yang saling terhubung melalui anggota maupun rekomendasi komunitas serupa. Beberapa di antaranya menggunakan nama wilayah di Jawa Timur sebagai identitas grup.
Di antara grup yang terpantau aktif yakni Gay Jombang dengan sekitar 15,9 ribu anggota, Mojokerto Gay sekitar 6 ribu anggota, Gay Pacet Mojokerto sekitar 2,7 ribu anggota, Gay Private Gondang-Pacet Mojokerto sekitar 2,6 ribu anggota, Gay Sampang sekitar 2,6 ribu anggota, Gay Top Madiun sekitar 2,3 ribu anggota, PSP-G (Pandaan, Sukorejo, Purwosari) Gay sekitar 1,6 ribu anggota, Gay Krian, Prambon, Driyorejo sekitar 1,6 ribu anggota, Gay Pacitan sekitar 1,5 ribu anggota, serta Cowok Manly Sidoarjo dengan sekitar 1,2 ribu anggota.
Selain itu, terdapat pula komunitas lain yang menggunakan nama wilayah Surabaya dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Seperti, gay surabaya timur dengan jumlah anggota mencapai 7,9 ribu. Da juga grup gay & bisex situbondo dengan anggota 3 ribuan, gay paron ngawi; 9 ratusan anggota, gay.tulungagung; 2,1 ribu anggota, kumpulan gay jember; 8 ribuan anggota, dan gay, lamongan, babat, bojonegoro, tuban dan sekitarnya; 2,4 ribu anggota.
Sebagian grup berstatus publik sehingga profil, jumlah anggota, hingga unggahan dapat dilihat oleh siapa saja. Dalam sejumlah unggahan yang tampak di ruang publik, ditemukan percakapan bernuansa seksual, pencarian pasangan, hingga penggunaan istilah dan simbol tertentu yang lazim digunakan dalam komunitas tersebut.
Sementara itu, sebagian grup lainnya menerapkan pengaturan privat. Pada grup tertutup, hanya anggota yang telah diterima administrator yang dapat melihat isi percakapan, unggahan, maupun berinteraksi melalui kolom komentar.
Fenomena tersebut memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana grup-grup tersebut dapat berkembang dan menghimpun ribuan hingga puluhan ribu anggota tanpa banyak diketahui publik.
"Kalau dijumlahkan anggotanya sudah puluhan ribu akun. Ini menunjukkan fenomena yang tidak bisa lagi dianggap kecil," tulis seorang netizen dengan akun @bowohterus .
Advertisement
Kota Jawa Timur Dikenal Religius
Komentar lain menyoroti kontras antara aktivitas komunitas digital tersebut dengan identitas sejumlah daerah di Jawa Timur yang dikenal religius. "Jombang dikenal sebagai Kota Santri, tapi grup yang memakai nama daerah itu justru punya anggota hampir 16 ribu akun," tulis pengguna media sosial lainnya dengan akun @sumirkeras.
Namun, sebagian netizen mengingatkan bahwa jumlah anggota grup tidak otomatis merepresentasikan jumlah individu maupun kondisi sosial suatu daerah.
"Belum tentu seluruh anggota berasal dari daerah yang tercantum dalam nama grup. Banyak akun dari luar kota yang bisa bergabung," tulis seorang pengguna Facebook dengan akun @dajalalon23.
Sejumlah pihak menilai aktivitas yang mengandung unsur pornografi, eksploitasi seksual, atau pelanggaran norma kesusilaan harus menjadi perhatian aparat dan penyelenggara platform.
Fenomena maraknya grup komunitas gay dengan ribuan anggota di berbagai daerah Jawa Timur akhirnya memunculkan diskursus baru di tengah masyarakat.
Menyikapi fenomena tersebut, Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, mengajak masyarakat untuk memperkuat ketahanan keluarga, pendidikan karakter, serta nilai-nilai agama dan moral sebagai benteng utama menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital.
Advertisement
Pengaruh Negatif
Menurut Lilik, perkembangan teknologi informasi dan media sosial membawa banyak manfaat bagi masyarakat. Namun di sisi lain, ruang digital juga membuka peluang munculnya berbagai pengaruh negatif yang berpotensi memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda jika tidak disikapi dengan bijak.
"Sebagai wakil rakyat, saya mengajak seluruh masyarakat Surabaya untuk bersama-sama menjaga nilai-nilai agama, moral, budaya, dan ketahanan keluarga yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat," kata Lilik.
Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur itu menilai fenomena yang berkembang di media sosial perlu disikapi secara proporsional dengan mengedepankan langkah-langkah preventif melalui edukasi, pembinaan, dan penguatan karakter sejak dini.
Menurutnya, masyarakat harus memiliki kemampuan literasi digital yang baik agar mampu menyaring berbagai informasi, kampanye, maupun gaya hidup yang beredar di ruang digital dan tidak serta-merta menerima seluruh pengaruh yang datang dari luar.
"Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh global, masyarakat perlu lebih bijak dalam menyaring berbagai kampanye maupun gaya hidup yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai budaya, agama, dan norma sosial yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia,” katanya.