Ngabuburit Penuh Makna: Geotheater Sumedang Hidupkan Kembali Budaya Sumedang Lewat Tarawangsa di Bulan Ramadan
Di tengah senja Ramadan, Geotheater Rancakalong menjadi pusat perjumpaan seni, budaya, dan dakwah. Ngabuburit di Sumedang kini lebih dari sekadar menunggu buka puasa, melainkan momentum merawat identitas dan mengukuhkan Budaya Sumedang sebagai Puseur Buda
Senja perlahan turun di Kecamatan Rancakalong, Sumedang, menyelimuti Geotheater dengan cahaya keemasan yang hangat. Udara sore membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru disiram hujan ringan, menciptakan suasana syahdu. Ratusan warga berkumpul, menyiapkan diri untuk ngabuburit yang berbeda dari biasanya, bukan sekadar menunggu azan magrib, tetapi merayakan budaya dan iman.
Bupati Sumedang yang hadir dalam acara tersebut menyebut Geotheater bukan sekadar panggung pertunjukan. "Geotheater ini bukan hanya tempat tampil seni, tetapi ruang perjumpaan nilai. Di sini seni, budaya, dan dakwah bisa berjalan berdampingan. Inilah wajah Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda," ujarnya sembari memandang barisan warga yang memenuhi area terbuka itu.
Anak-anak duduk bersila dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu saat seniman menyesuaikan senar tarawangsa, alat musik gesek tradisional Sunda, dan menyiapkan wayang golek untuk pertunjukan. Suasana hangat dan kebersamaan terasa kental, memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat berpadu harmonis dengan nilai-nilai spiritual di bulan suci Ramadan.
Geotheater: Jantung Pengembangan Seni dan Tradisi Lokal
Geotheater di Rancakalong dirancang sebagai pusat pengembangan seni budaya, melayani sekitar 45 ribu jiwa penduduk setempat. Tempat ini secara rutin menampilkan berbagai kesenian tradisional setiap Sabtu dalam program Ekosistem Budaya Kasumedangan. Mulai dari jaipongan, kaulinan tradisional, Ngulik Bareng Gamelan, panahan tradisional, hingga tarawangsa, semua hadir sebagai bagian dari upaya pelestarian.
Pemerintah daerah berencana memperkuat fasilitas kawasan Geotheater, termasuk penambahan lampu penerangan dan pelebaran jalan. Selain itu, akan dikembangkan pula camping ground bernuansa seni budaya serta unit usaha UMKM. Akses menuju lokasi juga semakin mudah melalui Tol Cisumdawu, hanya sekitar 20 menit dari pintu Tol Pamulihan, memungkinkan warga dari berbagai wilayah untuk berpartisipasi.
Dengan adanya pengembangan ini, tarawangsa dan seni tradisional lainnya diharapkan dapat lebih dikenal luas. Hal ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang hidup dan terus lestari. Geotheater menjadi ruang edukasi budaya penting bagi generasi muda, memastikan keberlanjutan tradisi.
Harmoni Tarawangsa dan Wayang Golek dalam Dakwah Ramadan
Panggung mulai hidup ketika alunan tarawangsa terdengar lembut, memecah hening sore dengan nada-nada mengalun pelan, menenangkan, dan menyentuh hati. Setelah beberapa menit, wayang golek pun mulai menari, setiap gerakannya bercerita ajaran nilai-nilai Islam yang dibalut kearifan lokal Sunda. Pesan-pesan tersebut berbisik lembut ke hati para penonton, membuat mereka terhanyut dalam kisahnya.
Acara ini tidak hanya disaksikan warga lokal secara langsung, tetapi juga direkam dan disiarkan secara daring oleh kamera warga, menjangkau penonton yang tidak bisa hadir. Hal ini menjadikan ngabuburit sebuah pengalaman kolektif yang menghubungkan ruang fisik Geotheater dengan dunia maya, sekaligus mempromosikan Sumedang sebagai pusat budaya yang hidup.
Bupati Sumedang menyempatkan diri memberikan komentar singkat usai acara, menatap panggung yang perlahan mulai sepi. "Ngabuburit kali ini bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi diisi seni, budaya, dan dakwah yang menyentuh hati," ujarnya. Ia mengajak masyarakat untuk mengisi bulan puasa dengan kegiatan bermanfaat, berdampak, dan meninggalkan kesan mendalam, menjadikan ngabuburit momentum merawat budaya dan iman.
Sumedang: Puseur Budaya Sunda yang Terus Dilestarikan
Identitas Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda ditegaskan melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2021. Hingga tahun 2025, Sumedang telah memiliki 15 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang diakui secara nasional maupun provinsi. Beberapa di antaranya adalah tarawangsa, Ngalaksa Rancakalong, Goong Renteng, dan Seni Ajeng Kasumedangan.
Pelestarian budaya juga menyasar situs fisik, seperti Benteng Palasari dan Keraton Sumedang Larang, yang sedang direvitalisasi sebagai bagian dari penguatan narasi sejarah Sunda. Upaya ini sejalan dengan visi nasional untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat kebudayaan dunia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengemukakan potensi daerah Sumedang dan Keraton Sumedang Larang menjadi destinasi wisata budaya unggul di wilayah Provinsi Jawa Barat. "Sumedang sangat berpotensi untuk menjadi pusat kebudayaan Sunda. Nantinya, Sumedang ini jangan jadi tempat persinggahan saja, tapi harus benar-benar menjadi destinasi utama," katanya.
Saat ini, Indonesia memiliki 2.213 warisan budaya tak benda yang diakui secara nasional, dengan 16 di antaranya telah terdaftar di UNESCO, seperti wayang, batik, angklung, dan gamelan. Tahun ini, sebanyak 550 tambahan warisan budaya tak benda akan segera diumumkan, termasuk 60 di antaranya berasal dari Jawa Barat. Geotheater menjadi simbol keberlanjutan budaya, tempat seni, iman, dan tradisi berpadu, menciptakan ruang bagi setiap warga untuk merasakan kedekatan dengan akar budaya mereka.
Sumber: AntaraNews