Mendikdasmen Bicara Masalah Adab Digital, Singgung Buzzer Rp Dipakai untuk Menyerang
Mu'ti menyebut, pengerahan buzzer bisa dilakukan sesuai biaya yang dibayar. Mereka bergerak layaknya mesin.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti masalah keadaban di ruang digital. Salah satunya penggunaan buzzer sebagai alat serangan di media sosial.
"Ada masalah keadaban digital dalam kehidupan kita. Sekarang ini ada istilah baru namanya buzzer. Dan buzzer itu ditambahin dengan buzzer RP kira-kira begitu," kata Mu'ti di Semarang, Minggu (8/6).
Mu'ti menyebut, pengerahan buzzer bisa dilakukan sesuai biaya yang dibayar. Mereka bergerak layaknya mesin.
"Yang ternyata untuk menjadi buzzer itu ada angkanya. Kalau ingin mengerahkan 100.000 buzzer maka berapa yang perlu dikeluarkan biayanya. Dan itu bisa dikerjakan oleh mesin," ucapnya.
Mu'ti menyebut, jika orang ingin terkenal maupun ingin menyerang maka cara memakai buzzer bisa dilakukan.
"Sehingga kalau ingin seseorang itu ngetop kerahkan buzzernya. Kalau ingin menyerang seseorang misalnya menyerang menteri pendidikan dasar menengah. Sudah kerahkan buzzer saja kira-kira begitu," ujarnya.
Bahkan, kata Mu'ti ada orang yang tidak berani membuka akun medsosnya karena takut diserang buzzer. Dia menilai, kurangnya adab digital menjadi masalah serius.
"Sampai ada orang yang tidak berani membuka akun instagramnya karena khawatir diserang oleh para buzzer itu. Kita mengalami masalah terkait dengan digital civility atau keadaban digital kita itu. Yang awalnya seharusnya kita memiliki keadaban digital," tuturnya.
"Tapi yang terjadi adalah kebiadaban digital. Dan ini adalah masalah yang sangat serius," pungkasnya.