Mendikdasmen Soroti Fenomena Grup WhatsApp: Beda Pendapat Dihajar Habis-habisan dan Dikeluarkan dari Anggota
Menurut Mendikdasmen, media sosial yang seharusnya menjadi ruang membangun kebersamaan, justru kerap menjadi tempat munculnya sikap pertikaian.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti fenomena yang kian marak terjadi di era digital, terutama dalam penggunaan grup WhatsApp (WA) sebagai sarana komunikasi sosial.
Dia menyinggung bagaimana media sosial yang seharusnya menjadi ruang membangun kebersamaan, justru kerap menjadi tempat munculnya sikap pertikaian.
"Orang sekarang membuat misalnya grup-grup WhatsApp. Yang grup WhatsApp itu semangatnya adalah membangun komunikasi di antara warga WhatsApp itu," kata Abdul Mu'ti di Semarang, Minggu (8/6).
Medsos Malah Jadi Saling Serang
Mu'ti menyebut meski awalnya bertujuan mempererat komunikasi antar anggota, kenyataannya justru berbalik arah ketika terjadi perbedaan pendapat.
"Ketika ada satu orang anggota grup yang pendapatnya berbeda dengan anggota grup lain, dia kemudian dihajar habis-habisan oleh admin dan anggota grup itu. Bahkan bisa dikeluarkan dari grup," ujar Mu'ti.
Medsos Bikin Asosial
Dia menilai, alih-alih membangun kerukunan sosial, media sosial kini kerap memperlihatkan sisi asosial masyarakat digital.
"Sehingga kadang-kadang media sosial yang harapannya untuk membangun kerukunan sosial. Yang terjadi adalah sikap asosial," pungkasnya.