Silaturahmi Momentum Penting Perkuat Kerukunan Bangsa, Kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan silaturahmi sebagai sarana esensial untuk memperkuat persatuan dan kerukunan, modal utama kemajuan bangsa.
Pekalongan – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan pentingnya silaturahmi atau halal bihalal sebagai fondasi untuk memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan antar-sesama masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Mu'ti dalam sebuah acara di Pekalongan, Jawa Tengah, pada Jumat.
Menurutnya, persatuan dan kerukunan bukan hanya sekadar nilai, melainkan bekal serta modal krusial bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang kuat dan besar di tengah berbagai perbedaan dan persoalan yang ada. Nilai-nilai ini menjadi kekuatan pendorong untuk mencapai kemajuan dan kedaulatan.
Mu'ti juga menambahkan bahwa acara halal bihalal seharusnya tidak hanya dipandang sebagai seremonial belaka. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan momentum strategis untuk meningkatkan upaya pembangunan dan mempererat kerukunan serta kebersamaan di seluruh lapisan masyarakat.
Memperkuat Persatuan di Tengah Perbedaan
Abdul Mu'ti, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa kerukunan dan persatuan merupakan modal sangat penting agar Indonesia dapat menjadi bangsa yang maju dan berdaulat. Di tengah dinamika sosial dan pembangunan daerah, nilai-nilai ini menjadi kekuatan sosial politik yang tak tergantikan.
Dalam konteks acara halal bihalal Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan, Mu'ti menggarisbawahi bahwa pertemuan semacam ini menjadi ajang penguatan persatuan. Hal ini krusial mengingat berbagai perbedaan dan persoalan yang mungkin timbul dalam masyarakat, sehingga kerukunan tetap terjaga.
Oleh karena itu, setiap kegiatan yang mengedepankan silaturahmi harus dimaknai lebih dalam. Bukan hanya sebagai tradisi, melainkan sebagai kesempatan untuk refleksi dan komitmen bersama dalam membangun harmoni sosial yang berkelanjutan.
Makna Mendalam 'Minal Aidin Wal Faizin' dan Budaya Lokal
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu'ti turut mengulas makna di balik ungkapan populer 'minal aidin wal faizin'. Ungkapan ini, menurutnya, berasal dari tradisi sastra era Andalusia dan mencerminkan harapan agar setiap individu dapat kembali pada fitrahnya sebagai hamba yang meraih kemenangan.
Ia juga menyoroti kekhasan tradisi di Indonesia yang mengenal ungkapan 'mohon maaf lahir dan batin'. Frasa ini sarat akan nilai kebaikan dan menunjukkan bagaimana Islam di Indonesia mampu membumi serta menyatu dengan budaya lokal.
Integrasi nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal ini menciptakan corak keberagamaan yang unik dan memperkaya khazanah budaya bangsa. Hal ini menjadi bukti nyata adaptasi Islam yang harmonis di Nusantara.
Etos Kerja Muhammadiyah untuk Kemajuan Daerah
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Mulyono, menekankan pentingnya etos kerja yang terintegrasi untuk memajukan organisasi dan daerah. Ia menyerukan agar kerja keras, kerja cerdas, dan kerja cermat menjadi landasan utama dalam setiap aktivitas.
Mulyono juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Abdul Mu'ti atas kehadirannya. Kehadiran Mendikdasmen tersebut dinilai telah menyempurnakan kebahagiaan warga Muhammadiyah Pekalongan dan memberikan semangat baru dalam berorganisasi.
Dengan semangat kebersamaan dan etos kerja yang kuat, diharapkan Muhammadiyah dapat terus berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah. Sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah sangat penting untuk mencapai tujuan bersama dalam memajukan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Sumber: AntaraNews