Ribuan Warga Padati Tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik di Bangka Barat, Lestarikan Budaya Lokal
Ribuan warga antusias mengikuti tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik di Bangka Barat, sebuah warisan leluhur yang terus dilestarikan untuk mempererat kebersamaan dan wujud syukur.
Ribuan warga dari berbagai daerah memadati pelaksanaan tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik di Desa Kacung, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Antusiasme tinggi terlihat jelas saat masyarakat berkumpul untuk merayakan warisan leluhur yang telah berlangsung puluhan tahun ini. Acara ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat dalam menjaga kekayaan budaya lokal.
Pesta Panggil Suku Ketapik merupakan tradisi tahunan yang bertujuan memanggil sanak saudara serta handai taulan. Kegiatan ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menjadi wujud syukur kepada Sang Pencipta. Pemerintah daerah turut mendukung penuh pelestarian tradisi ini sebagai aset budaya yang berharga.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan, menegaskan pentingnya tradisi ini. "Tradisi ini rutin digelar setiap tahun, sejak puluhan tahun lalu," ujarnya. Pihaknya akan terus mendorong agar warga rutin menggelar tradisi ini sebagai upaya pelestarian budaya.
Makna dan Sejarah Pesta Panggil Suku Ketapik
Pesta Panggil Suku Ketapik adalah sebuah perayaan adat yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Desa Kacung. Nama "pesta panggil" sendiri merujuk pada esensinya, yaitu mengundang kerabat dari berbagai penjuru untuk pulang kampung. Tujuan utama dari tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik ini adalah untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan di antara warga.
Selain sebagai ajang silaturahmi, tradisi ini juga merupakan bentuk ekspresi syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah. Warisan leluhur ini telah berlangsung secara turun-temurun selama puluhan tahun, menunjukkan keteguhan masyarakat dalam mempertahankan budayanya. Keberlanjutan tradisi ini diharapkan dapat terus menginspirasi generasi mendatang untuk mencintai adat istiadat mereka.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat telah mengakui nilai penting dari tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik. Tradisi ini telah dimasukkan sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan daerah. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melestarikan serta mengembangkan potensi budaya lokal.
Rangkaian Acara Meriah Pesta Panggil Suku Ketapik
Rangkaian Pesta Panggil Suku Ketapik dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Salah satu acara utama adalah arak-arakan anak-anak yang telah khatam Al Quran yang diikuti sejumlah pejabat daerah, keluarga santri dan warga.
Para santri dan santriwati yang berhasil khatam Al Quran diarak menggunakan sador, yaitu alat transportasi rangkaian sepeda yang dihias menyerupai kereta. Arak-arakan ini dimulai dari halaman rumah adat Suku Kacung menuju Masjid Desa. Momen ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para santri dan keluarga mereka.
Selain pawai, Pesta Panggil Suku Ketapik juga menyuguhkan beragam hiburan tradisional untuk memeriahkan suasana. Penampilan tari kreasi, musik bedambus, dan pertunjukan silat "kebintit" turut memeriahkan acara. Seluruh rangkaian acara dirancang untuk memberikan pengalaman budaya yang kaya dan menghibur bagi pengunjung.
Dampak dan Pelestarian Budaya untuk Pariwisata
Tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik tidak hanya penting untuk pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi besar dalam pengembangan sektor pariwisata daerah. Muhammad Ferhad Irvan menyatakan bahwa adat ini merupakan aset warisan budaya yang harus dipertahankan, dilestarikan, dikembangkan, dan ditingkatkan. Harapannya, tradisi ini dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan pariwisata.
Melalui Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi tradisi ini. Pelestarian budaya seperti Pesta Panggil Suku Ketapik dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini akan berkontribusi pada peningkatan ekonomi lokal dan promosi kekayaan budaya Bangka Belitung.
Puncak acara Pesta Panggil Suku Ketapik ditutup dengan tradisi nganggung, yaitu makan bersama. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi seluruh warga yang hadir. Nganggung adalah momen refleksi dan kebahagiaan yang mengakhiri seluruh rangkaian perayaan.
Sumber: AntaraNews