Kementerian PUPR Revitalisasi Klaster Eropa Mentok, Anggaran Rp25 Miliar Perkuat Sejarah

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera memulai proyek Penataan Klaster Eropa Mentok dengan anggaran Rp25 miliar, bertujuan menguatkan nilai sejarah dan potensi wisata di pusat perkotaan Mentok.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kementerian PUPR Revitalisasi Klaster Eropa Mentok, Anggaran Rp25 Miliar Perkuat Sejarah
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera memulai proyek Penataan Klaster Eropa Mentok dengan anggaran Rp25 miliar, bertujuan menguatkan nilai sejarah dan potensi wisata di pusat perkotaan Mentok. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengumumkan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melakukan penataan ulang Klaster Eropa di pusat perkotaan Mentok tahun ini. Proyek Penataan Klaster Eropa Mentok ini bertujuan untuk menguatkan nilai sejarah kawasan tersebut. Pembangunan dijadwalkan akan dimulai pada tahun ini, berfokus pada penataan ulang Klaster Eropa, khususnya area dari Taman Lokomobil hingga Lapangan Gelora.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, M. Ferhad Irvan, menjelaskan bahwa pembangunan ini akan didanai oleh Pemerintah Pusat dengan alokasi sekitar Rp25 miliar. Pihak Pemkab Bangka Barat telah mendampingi utusan dari Kementerian PUPR yang meninjau langsung lokasi, dengan harapan aset-aset bernilai sejarah di kawasan tersebut dapat dipertahankan.

Penataan ulang kawasan bersejarah ini diharapkan membawa dampak positif signifikan terhadap geliat pembangunan dan perekonomian masyarakat setempat. Desain yang telah disiapkan akan menjadikan kawasan ini lebih menarik sebagai destinasi wisata dan lokasi berkumpul warga. Masyarakat diharapkan memberikan dukungan penuh agar rencana ini berjalan lancar dan memberikan manfaat optimal bagi pelestarian sejarah serta pengembangan sektor pariwisata daerah.

Proyek Penataan Klaster Eropa Mentok merupakan inisiatif strategis untuk menghidupkan kembali pesona sejarah kota Mentok. Anggaran sebesar Rp25 miliar dari Pemerintah Pusat menunjukkan komitmen serius dalam upaya pelestarian dan pengembangan kawasan ini. Fokus penataan mencakup area vital yang memiliki nilai historis tinggi, seperti Taman Lokomobil hingga Lapangan Gelora.

M. Ferhad Irvan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat menegaskan pentingnya menjaga aset sejarah selama proses revitalisasi. Pendampingan tim Kementerian PUPR memastikan bahwa aspek-aspek historis tidak terabaikan. Hal ini sejalan dengan visi untuk menjadikan Mentok sebagai kota sejarah yang menarik bagi wisatawan.

Penataan ini diprediksi akan memberikan dorongan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Bangka Barat. Dengan kawasan yang lebih tertata dan menarik, diharapkan jumlah pengunjung akan meningkat, yang pada gilirannya akan menggerakkan sektor pariwisata dan usaha lokal. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, sangat krusial untuk keberhasilan proyek ini.

Lapangan Gelora Mentok bukan sekadar lapangan biasa, melainkan sebuah cagar budaya yang ditetapkan pada tahun 2023 oleh Disbudpar Bangka Barat. Lapangan ini memiliki sejarah panjang, bermula sebagai alun-alun Hindia Belanda dan bagian dari kawasan pertahanan militer. Pada awalnya, tempat ini berfungsi sebagai area latihan serdadu atau untuk menggelar parade.

Dalam arsip kolonial Hindia Belanda, kawasan militer ini tercatat sebagai bagian dari sistem pertahanan Benteng Mentok. Benteng tersebut dibangun sekitar tahun 1820 oleh Perwira Zeni Belanda, Carel van der Wijk. Desain benteng mengusung konsep pertahanan melingkar, dikenal sebagai cuvellier, yang memungkinkan pengawasan menyeluruh terhadap pesisir dan jalur pelayaran strategis di Selat Bangka.

Sekitar tahun 1915, terjadi perubahan signifikan pada struktur benteng ini. Berdasarkan laporan teknis dalam arsip Koloniaal Verslag dan dokumen teknik sipil Hindia Belanda, sebagian dinding tanah benteng mulai dibongkar. Material hasil pembongkaran tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menimbun area sekitar, yang menjadi cikal bakal lapangan sepak bola yang dikenal saat ini.

Fungsi Lapangan Gelora Mentok terus berevolusi seiring waktu. Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), lapangan ini kembali mengalami perubahan fungsi. Jepang mendirikan menara intai di sana untuk mengawasi aktivitas laut di sekitar Mentok. Hal ini menegaskan posisi strategis kota Mentok dalam jalur logistik dan militer Jepang di kawasan Asia Tenggara pada masa itu.

Salah satu momen paling bersejarah di Lapangan Gelora adalah kunjungan pertama Soekarno pada 8 September 1951, setelah masa pengasingannya di kota tersebut. Ribuan orang memenuhi lapangan untuk mendengarkan pidato Soekarno yang membakar semangat dan harapan rakyat. Dua tahun kemudian, pada 19 Maret 1953, Soekarno kembali mengunjungi Mentok dan menghidupkan Lapangan Gelora sebagai aula terbuka bagi rakyat Bangka, tempat aspirasi dan identitas nasional bergaung.

Rencana revitalisasi pada tahun 2026 ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menjadikan Lapangan Gelora Mentok sebagai ruang publik modern. Ruang terbuka ini tidak hanya akan menyediakan fasilitas untuk aktivitas publik, tetapi juga menyuguhkan cerita sejarah yang kaya. Tujuannya adalah agar sejarah dapat dikenang, dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang, sekaligus mendukung lanskap wisata sejarah di Bangka Barat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi