Khatib Lebak Ajak Perkuat Persatuan Umat Muslim di Momen Idul Fitri 1447 H
Dalam khutbah Idul Fitri 1447 H, KH Dace Sofian di Lebak mengajak umat muslim memperkuat persatuan umat muslim untuk mewujudkan kehidupan damai dan kondusif, meski di tengah perbedaan.
KH Dace Sofian, khatib Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Alun-Alun Rangkasbitung, Lebak, Banten, menyerukan pentingnya memperkuat persatuan umat muslim. Ajakan ini bertujuan mewujudkan kehidupan yang damai, rukun, dan kondusif di tengah masyarakat. Momen Idul Fitri dijadikan sebagai titik tolak untuk merefleksikan nilai-nilai kebersamaan.
Di hadapan ribuan umat muslim, KH Dace menekankan bahwa Allah SWT menciptakan manusia berkelompok-kelompok. Namun, kelompok-kelompok ini harus saling memperkuat persatuan dan kedamaian, bukan sebaliknya. Pesan ini relevan untuk menjaga keutuhan sosial dan nasional.
Perayaan Idul Fitri menjadi momentum strategis untuk memperkuat persatuan, bahkan di tengah perbedaan politik dan keberagaman. Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sepakat untuk menjaga persatuan. Ini menjadi landasan kuat bagi kemajuan bangsa.
Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman
KH Dace Sofian menyoroti bahwa perbedaan keberagaman keyakinan, suku, bahasa, ekonomi, adat, dan budaya di Indonesia merupakan anugerah dari Allah SWT. Keberagaman ini adalah kekayaan yang harus dijaga dan dipelihara. Pentingnya persatuan menjadi kunci dalam merawat anugerah tersebut.
"Allah SWT menciptakan manusia berkelompok-kelompok, namun kelompok - kelompok itu harus memperkuat persatuan dan kedamaian," kata KH Dace di hadapan ribuan umat muslim saat Shalat Ied di Alun-alun Rangkasbitung di Lebak, Sabtu. Pernyataan ini menegaskan esensi ajaran agama dalam konteks sosial.
Melalui perayaan Idul Fitri, diharapkan muncul optimisme untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Optimisme ini dapat terwujud dengan memperkuat persatuan di antara seluruh elemen masyarakat. Persatuan menjadi fondasi utama pembangunan nasional.
Filosofi Penciptaan Manusia dari Tanah
Lebih lanjut, KH Dace Sofian menjelaskan filosofi penciptaan manusia dari tanah. Manusia harus memiliki kesadaran dalam kehidupan, karena pada hakikatnya akan kembali menjadi tanah setelah meninggal. Pemahaman ini mengajarkan kerendahan hati dan kesadaran akan fana dunia.
Sifat tanah, menurut KH Dace, berbeda dengan api yang kerapkali menimbulkan gejolak, seperti setan yang terbuat dari api. Tanah memiliki keunggulan dapat menumbuhkan tanaman yang dibutuhkan oleh manusia, tanaman, dan binatang. Kontras ini menggambarkan karakter ideal manusia.
Dengan demikian, manusia yang diciptakan dari tanah diharapkan memiliki sifat stabil dan tidak mudah bergejolak. Manusia juga diharapkan memberikan manfaat kepada sesama, serta kepada tumbuh-tumbuhan dan lingkungan. Ini adalah panggilan untuk menjadi agen kebaikan.
"Kami berharap manusia yang diciptakan dari tanah itu dapat membangun kemajuan bangsa dari Sabang sampai Merauke dengan melestarikan jiwa patriotisme dan persatuan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya. Pesan ini mengaitkan filosofi penciptaan dengan semangat kebangsaan.
Sumber: AntaraNews