Penegakan Hukum dan SDM Kunci Utama Keberhasilan Konservasi Tanah
Pakar konservasi tanah dan air menyoroti pentingnya penegakan hukum, koordinasi, dan SDM sebagai pilar utama keberhasilan konservasi tanah di Indonesia, mengapa hal ini krusial untuk ketahanan lingkungan?
Pakar konservasi tanah dan air, Hazairin Subair dari Universitas Hasanuddin, menegaskan bahwa penegakan hukum yang kuat menjadi fondasi utama. Koordinasi antarlembaga dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga tak kalah penting. Ketiganya merupakan kunci keberhasilan upaya konservasi tanah dan air sebagai penopang ketahanan lingkungan.
Pernyataan ini disampaikan Hazairin dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Sinergitas Multipihak di Makassar. Acara tersebut diselenggarakan oleh Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulawesi Selatan pada Sabtu (27/6). FGD ini bertujuan memperkuat sinergitas multipihak dalam konservasi.
Menurut Hazairin, hasil berbagai penelitian, termasuk kajian akademisi luar negeri, menunjukkan adanya tantangan serius. Lemahnya koordinasi dan penegakan hukum masih menghambat efektivitas konservasi. Pembenahan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini.
Tantangan dalam Konservasi Tanah di Indonesia
Salah satu tantangan utama dalam konservasi tanah adalah karakteristik tanah yang beragam di setiap wilayah. Pendekatan konservasi harus disesuaikan dengan kondisi lokal yang spesifik. Hazairin mencontohkan, kandungan kalsium tanah di Sulawesi relatif lebih tinggi dibandingkan magnesium.
Berbeda dengan Maluku Utara, di wilayah basah tersebut kandungan magnesium lebih dominan. Perbedaan ini menuntut pengelolaan lahan yang berbeda, termasuk pada kawasan pertambangan. Penyesuaian metode konservasi sangat krusial untuk efektivitas.
Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat juga menjadi hambatan signifikan dalam pelaksanaan konservasi tanah dan air. Kondisi itu terjadi karena manfaat konservasi umumnya baru dirasakan dalam jangka panjang. Sementara itu, masyarakat cenderung mengharapkan hasil ekonomi dalam waktu lebih singkat.
Strategi Penguatan Konservasi Tanah dan Air
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, peluang untuk memperkuat konservasi tetap terbuka melalui dukungan SDM yang kompeten. Berbagai instrumen kebijakan yang telah tersedia juga dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pemerintah, melalui Kementerian Lingkungan Hidup, mulai memperkenalkan instrumen ekonomi lingkungan. Melalui pendekatan ini, kerugian akibat erosi, degradasi lahan, maupun penebangan tidak hanya dihitung dari kerusakan fisik. Namun juga dari nilai ekonomi dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Hazairin menambahkan, pendekatan konservasi harus dilakukan secara integratif, komprehensif, konektif, dan strategis. Koordinasi menjadi faktor utama keberhasilan pelaksanaannya.
Pentingnya Sinergi Multipihak untuk Konservasi Holistik
Profesor Dr. Yusran Yusuf, Guru Besar Fakultas Pertanian dan Ketua MKTI Sulsel, sependapat dengan pandangan Hazairin. Ia mengatakan organisasinya akan terus mendorong sinergi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Upaya ini bertujuan untuk mencapai konservasi tanah dan air yang lebih efektif.
Yusran menekankan bahwa konservasi tidak boleh dilihat secara parsial dengan memisahkan tanah, air, dan ekologi. Sebaliknya, harus dipandang secara holistik sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. Oleh karena itu, penanganannya pun harus dilakukan secara menyeluruh.
Sumber: AntaraNews