Lapas Curup Intensifkan Pembinaan Rohani WBP Selama Ramadhan 1447 H
Lapas Kelas IIA Curup mengintensifkan Pembinaan Rohani WBP melalui berbagai program keagamaan selama Ramadhan 1447 Hijriah, bertujuan membentuk mentalitas yang lebih baik bagi warga binaan.
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Curup, yang mencakup tiga kabupaten di Provinsi Bengkulu, tengah gencar melaksanakan program pembinaan kepribadian berbasis keagamaan. Inisiatif ini difokuskan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sepanjang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi para narapidana.
Kepala Lapas Kelas IIA Curup, David Rosehan, menjelaskan bahwa serangkaian kegiatan pembinaan ini meliputi ibadah puasa, shalat Tarawih berjamaah, serta program tadarus Al Quran. Target utama adalah menyelesaikan pembacaan Al Quran secara khatam sebelum akhir Ramadhan. Pendekatan spiritual ini diharapkan mampu membawa perubahan positif dalam diri WBP.
Pelaksanaan kegiatan keagamaan ini dilakukan di Rejang Lebong, Bengkulu, dengan memanfaatkan fasilitas blok pesantren khusus di dalam lapas. Tujuannya adalah memastikan setiap WBP mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam ibadah berjamaah dan memperdalam pemahaman agama mereka.
Fokus Pembinaan Keagamaan dan Literasi Al Quran
Lapas Kelas IIA Curup secara khusus menyediakan blok pesantren untuk memfasilitasi shalat Tarawih berjamaah bagi WBP. Pelaksanaan ibadah ini diatur secara bergilir, dengan dua blok setiap harinya, guna memastikan seluruh warga binaan dapat merasakan kesempatan yang setara dalam beribadah di masjid lapas.
Bagi warga binaan yang belum mendapatkan giliran untuk shalat di masjid, pihak lapas mengimbau agar mereka tetap melaksanakan ibadah di kamar hunian masing-masing. Langkah ini diambil untuk menjaga kekhusyukan serta keamanan selama pelaksanaan ibadah. Fokus utama adalah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi refleksi spiritual.
Dalam upaya meningkatkan literasi Al Quran, Lapas Kelas IIA Curup juga menerapkan metode one day one juz. Program ini mendorong kolaborasi antara petugas dan warga binaan untuk menyelesaikan pembacaan 30 juz Al Quran. Target ambisius ini diharapkan tercapai sebelum perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sinergi Eksternal untuk Peningkatan Kualitas Pembinaan
Untuk memastikan kualitas pembinaan rohani yang optimal, Lapas Kelas IIA Curup menjalin sinergi erat dengan pihak eksternal. Kerja sama ini melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kemenag Rejang Lebong. Kemitraan ini bertujuan untuk mendatangkan pemuka agama yang mumpuni.
Lapas, yang saat ini dihuni oleh lebih dari 600 orang WBP, mengundang ustaz dari luar untuk berperan sebagai imam sekaligus penceramah. Kehadiran para pemuka agama ini diharapkan dapat memberikan pencerahan mental yang signifikan bagi para warga binaan. Mereka membawa perspektif baru dan bimbingan spiritual yang mendalam.
Melalui kolaborasi ini, WBP mendapatkan akses terhadap pengetahuan agama yang lebih luas dan mendalam. Sinergi dengan MUI dan Kemenag Rejang Lebong menjadi kunci dalam memperkaya materi pembinaan. Hal ini juga menunjukkan komitmen lapas dalam menyediakan fasilitas keagamaan yang berkualitas.
Penyesuaian Layanan Dasar dan Harapan Positif
Selama bulan Ramadhan, Lapas Kelas IIA Curup melakukan penyesuaian pada jadwal pelayanan kebutuhan dasar WBP. Jadwal pembagian makan dialihkan ke waktu sahur dan berbuka puasa, mengakomodasi ibadah puasa mereka. Penyesuaian ini memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi sesuai syariat.
Selain itu, pihak lapas juga memberikan kompensasi khusus berupa layanan penitipan barang. Layanan penitipan makanan dari keluarga WBP dibuka mulai pukul 15.00 hingga 17.00 WIB. Ini merupakan bentuk pelayanan agar warga binaan tetap dapat merasakan masakan keluarga saat berbuka puasa, mempererat ikatan emosional.
Meskipun ada penambahan layanan penitipan makanan, jadwal kunjungan atau besuk bagi WBP tetap berjalan normal sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan ini menjaga keseimbangan antara kebutuhan spiritual, pelayanan dasar, dan hak-hak WBP untuk berinteraksi dengan keluarga.
Kepala Lapas David Rosehan berharap, melalui pendekatan spiritual yang intensif ini, warga binaan di Lapas Kelas IIA Curup dapat menjalani masa pidana dengan refleksi diri yang positif. Tujuannya adalah agar saat kembali ke masyarakat, mereka telah memiliki bekal mentalitas yang lebih baik dan religius, siap berintegrasi secara produktif.
Sumber: AntaraNews