Lapas Kelas IIA Banjarmasin di Kalimantan Selatan (Kalsel) secara aktif memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana esensial untuk pembinaan kepribadian. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) selama masa pidana mereka. Pendekatan ini berfokus pada penguatan budaya literasi yang berkelanjutan di lingkungan lapas.
Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menjelaskan bahwa WBP setiap hari memanfaatkan waktu luang mereka dengan membaca koleksi buku di perpustakaan. Kegiatan membaca ini merupakan bentuk pembinaan positif yang menumbuhkan minat baca tinggi. Hal ini juga membantu WBP memperluas wawasan mereka.
Beragam jenis bacaan disediakan, mulai dari buku keagamaan, pengetahuan umum, keterampilan, hingga motivasi. Koleksi ini menjadi sumber pembelajaran berharga. Tujuannya adalah agar WBP dapat memperoleh pengetahuan baru yang bermanfaat dan membangun pola pikir yang lebih baik.
Advertisement
Advertisement
Perpustakaan sebagai Pilar Pembinaan Kepribadian WBP
Perpustakaan di Lapas Banjarmasin tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai pusat pembinaan kepribadian yang strategis. Akhmad Herriansyah menegaskan bahwa fasilitas ini memberikan ruang vital bagi WBP untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri. Ini merupakan upaya konkret untuk membentuk karakter yang lebih baik.
Kegiatan membaca secara rutin diarahkan untuk menumbuhkan kebiasaan positif di kalangan warga binaan. Dengan akses ke berbagai literatur, WBP didorong untuk mengisi waktu luang mereka dengan aktivitas yang produktif. Peningkatan minat baca ini menjadi indikator keberhasilan program pembinaan berbasis literasi.
Koleksi buku yang tersedia sangat beragam, mencakup topik keagamaan yang mendalam, pengetahuan umum yang luas, panduan keterampilan praktis, hingga buku-buku motivasi inspiratif. Keragaman ini memastikan setiap WBP dapat menemukan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Tujuannya adalah untuk memperluas wawasan dan membekali mereka dengan ilmu baru.
Advertisement
Optimalisasi layanan perpustakaan ini sejalan dengan arah kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam mendorong pembinaan yang adaptif dan humanis. Pihak Lapas berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang edukatif, di mana literasi menjadi salah satu pilar perubahan perilaku dan pola pikir WBP.
Advertisement
Manfaat Literasi untuk Pengembangan Diri Warga Binaan
Aktivitas membaca di Lapas Banjarmasin tidak sekadar menjadi sarana belajar, tetapi juga kegiatan produktif yang mengisi waktu WBP dengan hal-hal bermanfaat. Pembinaan berbasis literasi ini krusial dalam membentuk karakter yang lebih baik bagi warga binaan. Ini mendorong kesadaran mereka untuk terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan.
Peningkatan wawasan melalui membaca sangat penting sebagai bekal bagi WBP saat mereka kembali ke masyarakat setelah bebas nanti. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, diharapkan mereka dapat beradaptasi lebih baik dan memiliki peluang untuk kehidupan yang lebih mandiri. Perpustakaan menjadi jendela perubahan yang menumbuhkan harapan.
Salah seorang WBP berinisial ZK mengungkapkan manfaat besar yang dirasakannya dari kegiatan membaca. Ia mengaku rutin memanfaatkan fasilitas perpustakaan pada waktu senggang untuk membaca berbagai buku. ZK merasakan tambahan pengetahuan, motivasi, dan pelajaran hidup dari buku-buku yang tersedia.
Advertisement
"Banyak manfaat yang saya rasakan dari membaca. Selain menambah pengetahuan, saya juga mendapatkan motivasi dan pelajaran hidup dari buku-buku yang tersedia. Waktu luang jadi lebih bermanfaat dan tidak terbuang sia-sia," kata ZK, menekankan dampak positif literasi terhadap kehidupannya di dalam lapas.
Sumber: AntaraNews