Trivia: 39 WBP Lapas Pamekasan Jadi Guru Mengaji, Bekal Spiritual Pasca-Bebas
Lapas Pamekasan membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menjadi guru mengaji. Program ini menjadi bekal spiritual penting bagi narapidana setelah bebas, menciptakan kehidupan yang lebih baik di masyarakat.
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pamekasan, Jawa Timur, mengambil langkah progresif dengan membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Islam menjadi guru mengaji. Program inovatif ini bertujuan untuk memberikan bekal spiritual serta keterampilan mengajar Al-Quran yang berharga. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu para narapidana kembali ke masyarakat dengan membawa peran dan kontribusi yang lebih positif setelah masa tahanan mereka berakhir.
Kepala Lapas Kelas IIA Pamekasan, Syukron Hamdani, menjelaskan bahwa pembinaan ini merupakan bentuk persiapan komprehensif bagi narapidana. Tujuannya adalah agar mereka memiliki kemampuan yang bermanfaat dan dapat diaplikasikan secara langsung di lingkungan sosial. Hal ini juga menunjukkan komitmen kuat dari pihak lapas untuk menyediakan pembinaan yang tidak hanya bersifat hukuman, melainkan juga rehabilitasi yang holistik.
Prosesnya dimulai dengan menyeleksi narapidana yang sudah memiliki kemampuan membaca Al-Quran. Mereka kemudian dibina secara khusus untuk dapat mengajar mengaji dengan metode yang efektif. Lapas Pamekasan bahkan telah menjalin kerja sama strategis dengan Lembaga Pendidikan Al-Quran guna mendukung keberhasilan program ini secara maksimal.
Membangun Karakter dan Keterampilan Mengajar
Lapas Pamekasan menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penahanan, tetapi juga sebagai pusat rehabilitasi dan pembinaan. Program guru mengaji ini menjadi salah satu upaya nyata dalam membangun karakter positif WBP. Ini sekaligus membekali mereka dengan keterampilan baru yang relevan dan bernilai di tengah masyarakat.
Syukron Hamdani lebih lanjut menyebutkan bahwa narapidana yang telah menunjukkan kemahiran dalam mengaji difasilitasi untuk mengikuti program sertifikasi guru mengaji Al-Quran. Ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah pengakuan resmi atas kompetensi mereka. Langkah ini menegaskan keseriusan Lapas Pamekasan dalam mempersiapkan WBP untuk peran yang lebih besar.
Hingga saat ini, sebanyak 39 narapidana telah berhasil mendapatkan bimbingan khusus dari Lembaga Pendidikan Al-Quran. Mereka menjalani program intensif mengaji selama enam bulan penuh. Ini adalah angka yang signifikan dan menunjukkan antusiasme tinggi dari para WBP untuk mengikuti pembinaan spiritual ini.
Materi yang disampaikan kepada para calon guru mengaji di Lapas Pamekasan sangat komprehensif. Materi tersebut meliputi teknik dan metode pembelajaran yang cepat dan menarik. Hal ini memastikan bahwa para narapidana tidak hanya bisa mengaji, tetapi juga mampu mengajarkannya dengan cara yang efektif dan mudah dipahami oleh orang lain.
Kontribusi Positif Pasca-Penjara dan Reintegrasi Sosial
Pembinaan guru mengaji ini diharapkan memiliki dampak jangka panjang yang sangat positif bagi narapidana dan masyarakat. Setelah bebas, mereka dapat kembali ke lingkungan sosial dengan membawa bekal ilmu agama. Ini memungkinkan mereka untuk berkontribusi secara langsung sebagai pengajar Al-Quran di komunitas masing-masing.
Tujuan utama dari program ini adalah agar narapidana tidak hanya sekadar bebas dari penjara, tetapi juga menjadi individu yang produktif. Mereka diharapkan mampu menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui pengajaran Al-Quran. Inisiatif ini juga secara tidak langsung membantu mengurangi stigma negatif yang sering melekat pada mantan narapidana.
Komitmen Lapas Kelas IIA Pamekasan dalam mewujudkan lembaga pemasyarakatan yang lebih baik terlihat jelas melalui inisiatif ini. Mereka berupaya secara sistematis mengubah sikap dan perilaku narapidana dari pola negatif menjadi positif. Ini merupakan bagian integral dari visi lapas untuk menciptakan lingkungan pembinaan yang kondusif.
Program ini juga merupakan cerminan dari pendekatan pemasyarakatan modern yang berfokus pada reintegrasi sosial yang sukses. Lapas Pamekasan membuktikan bahwa pembinaan spiritual dan pemberian keterampilan dapat menjadi kunci utama. Ini membuka jalan bagi narapidana untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna setelah masa tahanan mereka berakhir.
Sumber: AntaraNews