Kejutan Roland Garros: Juara Bertahan Iga Swiatek Tersingkir dari French Open 2026
Iga Swiatek tersingkir Roland Garros 2026 setelah takluk di tangan Marta Kostyuk pada babak keempat. Kekalahan ini mengejutkan banyak pihak dan menghentikan langkah juara empat kali tersebut.
Juara empat kali Grand Slam lapangan tanah liat, Iga Swiatek, harus mengakhiri perjalanannya di French Open 2026 lebih awal. Petenis Polandia itu secara mengejutkan tersingkir pada babak keempat turnamen setelah kalah dari petenis peringkat 15 dunia, Marta Kostyuk, pada Minggu. Kekalahan ini menandai berakhirnya dominasi Swiatek di Roland Garros.
Kostyuk berhasil menumbangkan Swiatek dengan skor 7-5, 6-1, memastikan langkahnya menuju perempat final di Paris untuk pertama kalinya dalam kariernya. Kemenangan ini didapatkan setelah Kostyuk mematahkan servis Swiatek sebanyak enam kali sepanjang pertandingan. Hasil ini menjadi salah satu kejutan terbesar di French Open tahun ini.
Pertandingan yang berlangsung di lapangan tanah liat Roland Garros ini menunjukkan performa gemilang dari Kostyuk. Petenis Ukraina tersebut tampil solid dan konsisten, memberikan tekanan besar pada Swiatek. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Swiatek yang sebelumnya diunggulkan untuk melaju jauh.
Dominasi Kostyuk di Lapangan Tanah Liat
Marta Kostyuk menunjukkan performa luar biasa saat menghadapi Iga Swiatek di babak keempat French Open 2026. Petenis Ukraina ini berhasil mematahkan servis Swiatek berkali-kali, menunjukkan keunggulan dalam strategi dan eksekusi. Kemenangan ini mengantarkan Kostyuk ke perempat final Grand Slam untuk pertama kalinya.
Kostyuk mengungkapkan bahwa Swiatek tidak terlalu menyulitkannya dengan servis pertama pada pertandingan tersebut. "Dia tidak terlalu menyulitkan saya dengan servis pertama hari ini," kata Kostyuk usai pertandingan. "Saya hanya mengembalikan semua servis, dan tidak mudah bermain melawan seseorang yang mengembalikan semua servis Anda dan memberi banyak tekanan pada Anda di servis kedua." Strategi ini terbukti efektif dalam menguras energi dan fokus lawan.
Petenis berusia 23 tahun ini tetap tak terkalahkan di lapangan tanah liat musim ini, mencatat rekor 15-0 di turnamen WTA Tour dengan dua gelar. Ditambah kemenangan di Billie Jean King Cup pada April, rekornya menjadi 16-0. Pencapaian ini menempatkan Kostyuk dalam jajaran elit petenis tanah liat.
Kostyuk menjadi petenis kelima abad ini yang memenangi 16 pertandingan pertamanya di lapangan tanah liat. Ia bergabung dengan nama-nama besar seperti Venus Williams (2004), Serena Williams (2012, 2023), Justine Henin (2005), dan bahkan Iga Swiatek sendiri (2022). Ini menunjukkan betapa impresifnya performa Kostyuk saat ini.
Analisis Kekalahan Iga Swiatek
Kekalahan Iga Swiatek dari Marta Kostyuk sebagian besar disebabkan oleh banyaknya kesalahan sendiri yang ia lakukan. Swiatek mencatatkan 39 kesalahan sendiri, tiga kali lebih banyak dari 13 pukulan winner-nya. Angka ini menunjukkan kurangnya akurasi dan kontrol dalam permainannya.
Selain itu, tingkat kemenangan servis pertama Swiatek hanya mencapai 45 persen, sebuah statistik yang jauh dari performa terbaiknya. Kostyuk mengamati bahwa seiring berjalannya pertandingan, Swiatek semakin merasakan tekanan. "Sehingga servisnya menjadi lebih putus asa dalam artian dia akan melakukan servis lebih keras atau membuat lebih banyak kesalahan ganda atau sebenarnya melakukan servis lebih lambat, sehingga saya punya lebih banyak waktu untuk maju," ujar Kostyuk. Hal ini membuat servisnya menjadi lebih putus asa, baik dengan memukul lebih keras atau membuat lebih banyak kesalahan ganda.
Swiatek sendiri mengakui bahwa servis adalah pukulan yang paling rumit baginya, terutama di bawah tekanan. "Saya rasa servis adalah pukulan yang paling rumit," ujar Swiatek. "Jika ada sesuatu yang akan sedikit berantakan di bawah tekanan, saya rasa itu adalah servis, kemudian pergerakan, dan kemudian salah memukul semuanya. Saya rasa itu terjadi hari ini." Kondisi ini tampaknya terjadi pada pertandingan penting tersebut.
Meski sebelumnya telah menemukan ritmenya kembali setelah merekrut Francisco Roig, Swiatek tak mampu menghalau performa puncak Kostyuk. Petenis Polandia itu tidak bisa mengatasi tekanan dan konsistensi yang ditunjukkan oleh lawannya.
Tantangan di Perempat Final: Kostyuk vs Svitolina
Setelah mengalahkan Swiatek, Marta Kostyuk akan menghadapi rekan senegaranya, Elina Svitolina, di babak perempat final. Svitolina berhasil melaju setelah mengalahkan petenis Swiss Belinda Bencic dengan kemenangan comeback 4-6, 6-4, 6-0. Pertandingan ini diprediksi akan menjadi duel sengit antara dua petenis Ukraina.
Meskipun kalah di set pertama, Svitolina menunjukkan dominasi di sisa pertandingan, memenangkan tujuh gim terakhir secara beruntun. Performa kuat ini membuktikan ketahanan dan pengalaman Svitolina di panggung besar. Ia tampak sangat termotivasi untuk melaju lebih jauh di turnamen ini.
Svitolina, yang berusia 31 tahun, menjadi pemain tertua sejak Serena Williams pada 2016 yang mencapai perempat final tunggal di Roma dan Roland Garros dalam musim yang sama. Ini menunjukkan bahwa usia tidak menghalangi performa puncak seorang atlet. Pengalamannya akan menjadi aset berharga dalam pertandingan selanjutnya.
Kostyuk dan Svitolina memiliki rekor pertemuan yang seimbang, dengan masing-masing berbagi kemenangan dalam dua pertemuan sebelumnya. Kostyuk menang di Toronto pada 2024, sementara Svitolina memenangi pertemuan pertama mereka di Australian Open 2018. Pertandingan mendatang akan menjadi penentu siapa yang akan melaju ke semifinal Grand Slam.
Sumber: AntaraNews