Komdigi Dorong Peran Perempuan Digital Jadi Pemimpin, Bukan Sekadar Pengguna
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan pentingnya peran perempuan digital dalam menentukan arah masa depan bangsa, bukan hanya sebagai pengguna, untuk transformasi yang inklusif.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara tegas menyatakan bahwa perempuan harus mengambil peran aktif dalam menentukan arah masa depan bangsa di tengah pesatnya transformasi digital nasional. Pernyataan ini disampaikan dalam acara "Leadership Day 2025" yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta. Acara penting ini diselenggarakan pada hari Selasa, 11 November.
Staf Ahli Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya Komdigi, Raden Wijaya Kusumawardhana, menyoroti pentingnya perempuan untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi semata. Ia berharap perempuan dapat menjadi pemimpin yang berani dalam ekosistem digital. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menciptakan lingkungan digital yang inklusif bagi semua.
Melalui berbagai upaya seperti penguatan literasi digital dan perluasan akses pendidikan teknologi, Komdigi berupaya membuka lebih banyak kesempatan. Tujuannya adalah agar perempuan dapat berpartisipasi aktif dan memimpin dalam berbagai sektor digital. Ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kemajuan digital yang merata.
Membangun Ekosistem Inklusif untuk Peran Perempuan Digital
Komdigi menegaskan komitmennya dalam membangun transformasi digital yang inklusif, dengan fokus utama pada peningkatan peran perempuan. Pemerintah berupaya keras membuka lebih banyak ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dan memimpin di berbagai sektor digital. Hal ini mencakup upaya penguatan literasi digital yang masif di seluruh lapisan masyarakat.
Selain itu, perluasan akses pendidikan teknologi menjadi prioritas untuk memastikan perempuan memiliki keterampilan yang relevan. Peningkatan kapasitas perempuan di bidang sains, riset, dan inovasi juga terus digalakkan. Ini semua bertujuan untuk mempersiapkan perempuan menghadapi tantangan dan peluang di era digital.
Raden Wijaya Kusumawardhana menekankan bahwa perempuan Indonesia telah menunjukkan kapasitasnya sebagai penggerak ekonomi keluarga. Mereka juga memiliki peran besar dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Namun, representasi perempuan dalam posisi strategis di sektor digital masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
Tantangan dan Peluang Perempuan di Sektor Digital Strategis
Meskipun memiliki potensi besar, representasi perempuan di bidang-bidang strategis seperti kecerdasan artifisial, keamanan siber, dan riset teknologi masih terbatas. Komdigi melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang besar untuk mendorong partisipasi perempuan. Diperlukan ekosistem yang mendukung dan memberikan keberanian bagi perempuan untuk maju.
"Kesempatan besar bagi perempuan di era digital tidak akan terwujud sendiri tanpa ekosistem yang membuka ruang, memberikan keberanian, serta memastikan perempuan dapat maju dan tampil," ujar Wijaya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya dukungan kolektif. Keberpihakan terhadap perempuan bukan sekadar isu kesetaraan gender, melainkan strategi nasional.
Strategi ini bertujuan untuk memastikan bahwa transformasi digital membawa manfaat yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Komdigi juga aktif mendorong kolaborasi lintas sektor yang kuat. Ini melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri digital, dan komunitas inovator.
Kolaborasi dan Keamanan Ruang Digital bagi Perempuan
Melalui kolaborasi lintas sektor, diharapkan dapat lahir lebih banyak pemimpin perempuan yang adaptif, visioner, dan berintegritas. Inisiatif ini penting untuk menciptakan lingkungan digital yang dinamis dan inovatif. Perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mencetak talenta perempuan di bidang teknologi.
Komdigi juga menyoroti pentingnya menciptakan ruang digital yang aman dan produktif bagi semua pengguna, terutama perempuan. Ini berarti ruang digital harus bebas dari kekerasan berbasis gender, perundungan daring, dan ancaman keamanan data. Masalah-masalah ini seringkali menimpa perempuan ketika mereka semakin aktif di internet.
Wijaya menegaskan bahwa kemajuan digital Indonesia tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya semata. Lebih dari itu, kemajuan digital harus dilihat dari nilai kemanusiaan dan keberpihakan yang terkandung di dalamnya. "Kemajuan digital tidak hanya dihitung dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari nilai keberpihakannya kepada manusia dan peradaban," tambahnya, menunjukkan visi holistik Komdigi.
Sumber: AntaraNews