KNKT Ungkap KA Argo Bromo Sudah Mulai Ngerem 1,3 Kilometer Sebelum Tabrak KRL, Tapi Tidak Bisa Rem Maksimal
Pengereman dilakukan secara hati-hati karena mempertimbangkan keselamatan rangkaian kereta.
Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, KA Argo Bromo sudah melakukan pengereman sebelum menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Bahkan, pengereman telah dilakukan dari jarak 1,3 kilometer.
"Masinis itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan,” kata Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (21/5).
Soerjanto mengatakan, masinis tahu ada KRL karena diinformasikan oleh Pusat Kendali di Stasiun Bekasi Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek.
Menurut Soerjanto, pengereman dilakukan secara hati-hati karena mempertimbangkan keselamatan rangkaian kereta.
"Berdasarkan hasil wawancara, KA Argo Bromo Anggrek, taktis pengereman dilakukan secara mempertimbangkan keselamatan terhadap rangkaian kereta yang dioperasikannya,” kata dia.
Jarak Pengereman Dibutuhkan
Soerjanto membeberkan, jarak dibutuhkan untuk kereta aman berhenti dengan rem maksimal adalah 900 hingga 1.000 meter. Namun, KA Argo Bromo saat itu tak mengerem maksimal karena perintah rem agar dilakukan sedikit-sedikit.
“Karena dia tahunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson,” tutur dia.
“Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson,” pungkasnya.