Hasan Nasbi Minta Semua Pihak Tak Gegabah Kritik Akar Banjir Sumatera
Mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, meminta semua pihak tidak terburu-buru mengkritik akar masalah banjir Sumatera, menyoroti sindiran antarmenteri.
Mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, mengajak seluruh pihak untuk tidak terburu-buru menyimpulkan akar masalah banjir di Sumatera. Pernyataan ini disampaikannya melalui media sosial di Jakarta pada Minggu, 07/12, sebagai respons terhadap dinamika yang terjadi. Ajakan ini juga termasuk sindiran kepada pejabat menteri yang baru setahun menjabat di kabinet.
Hasan Nasbi menyoroti ajakan taubatan nasuha yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (PMK) Muhaimin Iskandar. Ajakan tersebut ditujukan kepada Raja Juli Antoni selaku Menteri Kehutanan, Bahlil Lahadalia sebagai Menteri ESDM, dan Hanif Faisol Nurofiq yang menjabat Menteri Lingkungan Hidup. Menurutnya, respons semacam ini perlu disikapi dengan lebih bijak dan mendalam.
Ia menekankan pentingnya melihat permasalahan secara komprehensif dan tidak menyalahkan satu pihak saja atas bencana banjir Sumatera. Hasan mengingatkan bahwa kesalahan dalam penanganan lingkungan atau banjir tidak boleh langsung diarahkan kepada salah satu menteri, terutama jika menteri tersebut baru menjabat sekitar satu tahun.
Peringatan Kabinet Hanya Hak Presiden
Hasan Nasbi menegaskan bahwa otoritas untuk memberikan peringatan kepada anggota kabinet sepenuhnya berada di tangan Presiden. Ia menyampaikan, "Kalau saya sih mau menggarisbawahi dua hal, yang berhak memperingatkan anggota kabinet itu bosnya kabinet, bosnya kabinet itu presiden. Hanya presiden yang bisa memberikan peringatan kepada anggota kabinet, baik itu secara tertutup maupun terbuka." Pernyataan ini menggarisbawahi hierarki dalam pemerintahan.
Menurutnya, kesalahan seorang menteri tidak bisa dinilai hanya berdasarkan satu kejadian tunggal, melainkan harus dilihat dari akar permasalahan yang mungkin sudah berlangsung puluhan tahun. Hasan Nasbi mempertanyakan apakah kesalahan yang terjadi saat banjir Sumatera ini sebenarnya sudah berlangsung selama 50, 40, atau 30 tahun sebelumnya. Penelusuran akar masalah ini penting untuk memastikan letak kesalahan yang sebenarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menilai kinerja menteri yang baru menjabat satu tahun atas masalah yang terakumulasi adalah tindakan kurang tepat. Hasan Nasbi berkata, "Ini bukan kesalahan satu orang dua orang, coba lihat dulu kesalahannya menteri yang bersangkutan? Gara-gara satu kejadian mereka baru jadi menteri satu tahun, bener enggak ini kesalahan mereka?" Hal ini menekankan perlunya evaluasi yang adil dan berbasis data historis.
Solidaritas Kabinet dan Penanganan Bencana
Hasan Nasbi menyoroti munculnya sindiran antarmenteri yang terjadi setelah banjir melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera. Menurutnya, tindakan saling menyindir justru mengaburkan persoalan utama dan menghambat penanganan bencana. Adu sindiran hanya membuat kabinet tampak tidak solid di mata publik, padahal kekompakan sangat dibutuhkan.
Ia menambahkan bahwa negara saat ini justru membutuhkan kekompakan dan solidaritas yang tinggi dalam penanganan bencana. Hasan Nasbi menekankan, "Padahal, kita justru sekarang lagi butuh solid-solidnya ini." Kritik yang konstruktif seharusnya diarahkan pada penyelesaian masalah jangka panjang, bukan sekadar saling menyalahkan antarmenteri.
Oleh karena itu, Hasan Nasbi meminta agar kritik diarahkan pada upaya penyelesaian masalah secara berkelanjutan. Ia mengajak semua pihak untuk mendudukkan perkara pada tempatnya, tanpa main jurus pukul rata. "Soal pertobatan nasuha ya ayo taubatan nasuha. Semua kita taubatan nasuha, tapi dudukkan perkara pada tempatnya, jangan main jurus pukul rata," tutupnya, menyerukan pendekatan yang lebih rasional dan terstruktur dalam menghadapi isu banjir Sumatera.
Sumber: AntaraNews