Penyintas Banjir Bener Meriah Menanti Hunian Sementara, Berharap Tak Lagi Menumpang

Ribuan penyintas banjir di Bener Meriah terpaksa hidup nomaden setelah kehilangan rumah, menanti rampungnya hunian sementara (Huntara) dari pemerintah. Kisah pilu penyintas banjir Bener Meriah yang kehilangan segalanya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penyintas Banjir Bener Meriah Menanti Hunian Sementara, Berharap Tak Lagi Menumpang
Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menargetkan 914 unit Huntara Bener Meriah terisi penuh oleh penyintas bencana Sumatera minggu ini, dengan 70 persen sudah dihuni dan terus didorong percepatannya. (AntaraNews)

Bencana banjir besar melanda Sumatera pada 26 November 2025, menyebabkan ribuan warga terdampak di Aceh. Di Kabupaten Bener Meriah, banyak penyintas kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi. Mereka kini hidup dalam ketidakpastian.

Keluarga Natsir dan Hafisah dari Desa Pantan Kemuning, Bener Meriah, menjadi salah satu korban yang rumahnya hancur. Mereka kini harus berpindah-pindah dari satu rumah kerabat ke rumah lainnya. Kondisi ini menjadi gambaran umum bagi banyak keluarga terdampak.

Para penyintas ini menanti rampungnya hunian sementara (Huntara) yang sedang dibangun oleh pemerintah daerah. Harapan mereka adalah untuk segera mendapatkan tempat tinggal yang layak. Mereka ingin mengakhiri masa nomaden yang penuh tantangan.

Natsir dan Hafisah harus menghadapi kenyataan pahit setelah rumah mereka di Desa Pantan Kemuning rata dengan tanah akibat banjir. Mereka menyaksikan sendiri rumah yang dibangun empat tahun lalu itu hancur terbawa arus. Awalnya, mereka mengungsi ke SD Impres setempat, lalu berpindah ke posko pengungsian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menjelang Ramadan, Natsir sekeluarga memutuskan untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Mereka akhirnya menumpang di rumah adik Natsir, Muslihadi, di desa lain yang tidak terdampak bencana. Keputusan ini diambil agar mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih tenang.

Kehilangan tempat tinggal juga berarti kehilangan mata pencarian. Hafisah, yang biasanya menjahit pesanan baju lebaran, kini tak memiliki mesin jahit. Begitu pula Natsir, kebun kopi dan palawijanya hancur ditimbun lumpur. Kondisi ini menambah beban berat bagi keluarga penyintas banjir Bener Meriah tersebut.

Perasaan menumpang di rumah orang lain sangat berbeda dengan tinggal di rumah sendiri. Hafisah mengungkapkan kesedihannya atas kehilangan rumah dan barang-barang berharga mereka. Ia berharap segera mendapatkan hunian yang layak.

Bencana hidrometeorologi ini telah menyebabkan 32.553 jiwa mengungsi di Provinsi Aceh, dengan Bener Meriah menjadi salah satu kabupaten terdampak paling parah. Kabupaten ini mencatat sekitar 4.000 pengungsi, di bawah Aceh Utara (12.000) dan Gayo Lues (5.000). Total 1.411 unit rumah rusak di Bener Meriah, meliputi 854 rusak berat, 186 rusak sedang, dan 371 rusak ringan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah saat ini fokus pada pemindahan pengungsi ke Huntara. Sekretaris Daerah Bener Meriah, Riswandika Putra, menyatakan bahwa 70 persen dari 914 Huntara yang dibangun sudah terisi. Targetnya, semua pengungsi dapat menempati Huntara dalam minggu ini.

Selain pembangunan Huntara, Pemkab Bener Meriah juga tengah mempercepat perbaikan akses jalan yang rusak. Dari 648 akses jalan dan 649 jembatan yang terdampak, sekitar 70 persen telah rampung. Pembukaan akses ke area pertanian dan perkebunan juga menjadi prioritas, mengingat masa panen kopi Gayo.

Proses revitalisasi pascabencana diperkirakan akan memakan waktu hingga tiga tahun. Meskipun demikian, upaya percepatan pembangunan Huntara memberikan harapan baru bagi para penyintas. Mereka berharap tidak lagi harus berpindah-pindah dan dapat kembali membangun kehidupan di hunian yang lebih stabil.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi