Pendapatan Eka Sari Lorena Anjlok 26,45 Persen Tahun 2025
Penurunan pendapatan tersebut turut menekan kinerja keuangan perseroan.
PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) mencatat penurunan pendapatan sepanjang 2025 di tengah masih beratnya kondisi bisnis transportasi darat. Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp59,52 miliar, turun 26,45% dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp 80,93 miliar.
"Pendapatan usaha (Tahun 2025) Rp 59,52 miliar," kata Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk Dwi Rianta Soerbakti, dalam Paparan Publik LRNA, Jumat (26/6).
Penurunan pendapatan tersebut turut menekan kinerja keuangan perseroan. Lebih lanjut, emiten transportasi ini membukukan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp 23,12 miliar, lebih dalam dibandingkan rugi bersih Rp 16,70 miliar pada 2024.
Berdasarkan paparan kinerja keuangan 2025, pendapatan usaha Lorena telah mengalami tren penurunan selama tiga tahun terakhir. Pada 2023 pendapatan tercatat Rp 92,96 miliar, kemudian turun menjadi Rp 80,93 miliar pada 2024, dan kembali merosot menjadi Rp 59,52 miliar pada 2025.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba bruto juga berbalik menjadi rugi bruto sebesar Rp 1,26 miliar. Padahal pada 2024 perusahaan masih membukukan laba bruto Rp 3,72 miliar.
Tekanan tersebut membuat rugi usaha meningkat menjadi Rp 25,41 miliar dari Rp 22,30 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara EBITDA juga berubah menjadi negatif Rp 3,01 miliar, dibandingkan EBITDA positif Rp 11,64 miliar pada 2024.
Kerugian bersih yang semakin besar membuat rugi per saham dasar meningkat menjadi Rp 66,06 per saham, dibandingkan rugi Rp 47,72 per saham pada tahun sebelumnya.
Aset dan Ekuitas Ikut Menyusut
Dari sisi neraca, total aset Lorena per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 303,47 miliar atau turun 9,30% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp 334,60 miliar.
Aset lancar menyusut menjadi Rp 10,44 miliar dari Rp 14,11 miliar, sedangkan aset tidak lancar turun menjadi Rp 293,03 miliar dari Rp 320,49 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas berhasil ditekan menjadi Rp 36,73 miliar dari Rp 44,73 miliar pada akhir 2024 atau turun 17,88%. Liabilitas jangka pendek tercatat Rp 13,17 miliar, sementara liabilitas jangka panjang sebesar Rp 23,56 miliar.
Meski beban utang menurun, total ekuitas perseroan juga ikut terkoreksi menjadi Rp 266,74 miliar dibandingkan Rp 289,87 miliar pada tahun sebelumnya akibat akumulasi kerugian yang masih berlanjut.
"Laporan posisi keuangan, aset lancar Rp 10,44 miliar, aset tidak lancar Rp 293,03 miliar. Total aset Rp 303,47 miliar. Liabilitas jangka pendek Rp 13,17 miliar, liabilitas jangka panjang Rp 23,56 miliar. Total liabilitas secara total Rp 36,73 miliar," pungkasnya.
Biangkerok Pendapatan 2025 Menurun
PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) mengungkapkan sejumlah tantangan yang menekan kinerja usaha sepanjang 2025. Perseroan mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 59,52 miliar pada 2025, turun 26,45% dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang mencapai Rp 80,93 miliar.
Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Dwi Rianta Soerbakti, mengatakan penurunan pendapatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketatnya persaingan industri bus antarkota antarprovinsi (AKAP), meningkatnya biaya operasional, hingga kesulitan memperoleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Dwi menjelaskan, meski pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 mencapai 5,11% dengan inflasi sekitar 2,92%, pertumbuhan riil atau net growth diperkirakan hanya berada di kisaran 2%. Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan masih mampu tumbuh sekitar 8%, hampir dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh industri bus penumpang. Segmen bus AKAP justru menghadapi tekanan akibat semakin ketatnya persaingan dengan moda transportasi lain.
"Namun, khusus untuk bis penumpang, pertumbuhannya tidak secerah itu Karena satu, transportasi darat di bidang bis antar kota antar provinsi Saat ini mengalami cukup kewalahan dengan persaingan dengan kereta api dan juga pesawat terutama di wilayah Jawa dan Sumatera," kata Dwi dalam Public Expose, Jumat (26/6/2026).
Persaingan paling terasa datang dari kereta api dan pesawat, terutama untuk rute-rute di Pulau Jawa dan Sumatera. Kedua moda transportasi tersebut dinilai semakin diminati masyarakat karena menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat dan layanan yang semakin kompetitif.
Selain itu, pembangunan jalan tol yang semakin masif turut mengubah pola perjalanan masyarakat. Kini semakin banyak masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan menggunakan bus antarkota.
Persaingan Tarif dan Lonjakan Biaya Operasional Tekan Kinerja
Selain menghadapi persaingan dengan moda transportasi lain, Lorena juga menghadapi meningkatnya jumlah perusahaan otobus yang beroperasi di wilayah Jawa dan Sumatera. Kondisi tersebut membuat persaingan di industri semakin ketat.
Dwi mengatakan bertambahnya operator bus memicu persaingan tarif yang tidak sehat. Sejumlah perusahaan mulai menerapkan strategi perang harga (price war) demi mempertahankan pangsa pasar, sehingga ruang untuk menaikkan tarif menjadi semakin terbatas.
"Biaya operasional meningkat saja dan diakibatkan saat ini efek kurs dolar sehingga spare part menjadi uncontrollable harganya. Sementara tarif tidak bisa serta merta kita naikkan Karena memang daya beli masyarakat yang tidak terlalu kuat dan juga adanya persaingan bersama perusahaan otobus," ujarnya.
Meski biaya terus naik, perusahaan tidak dapat dengan mudah menaikkan tarif karena daya beli masyarakat masih belum pulih sepenuhnya. Kondisi tersebut semakin menekan margin usaha perusahaan.
Krisis SDM Jadi Tantangan Besar Industri Bus
Lorena juga menghadapi persoalan serius dalam pemenuhan tenaga kerja, khususnya awak armada. Menurut Dwi, hampir seluruh perusahaan bus AKAP kini kesulitan mendapatkan pengemudi maupun kondektur yang memenuhi kualifikasi.
Ia menjelaskan banyak pengemudi senior telah memasuki usia pensiun, sementara regenerasi berjalan lambat karena profesi sebagai kru bus antarkota dinilai kurang menarik bagi generasi muda.
"Jadi, kadang-kadang bisnya siap, armadanya siap tapi kita tidak mempunyai crew, itu merupakan salah satu kendala utama yang menurut saya hampir semua perusahaan bis antar kota antar provisi itu mengalaminya," pungkasnya.
Biaya Spare Part Impor Naik Imbas Pelemahan Rupiah
PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) menilai kondisi bisnis pada 2026 diperkirakan lebih menantang dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan melihat tekanan ekonomi yang masih berlangsung berdampak pada hampir seluruh sektor industri, termasuk bisnis transportasi darat.
Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Dwi Rianta Soerbakti, mengatakan meski perusahaan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk operasional armadanya, kenaikan harga BBM nonsubsidi tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap beban usaha perseroan.
"Tahun 2026 ini merupakan tahun yang mungkin lebih sulit lagi dibandingkan tahun 2025. Kayaknya kita semua hampir semua lini industri mengalami goncangan ekonomi. Pertama Efek dari Kenaikan bahan bakar Nonsubsidi memang perusahaan bis seperti kami menggunakan Bahan bakar subsidi," kata Dwi dalam Public Expose LRNA, Jumat (26/6/2026).
Menurut Dwi, kenaikan harga BBM nonsubsidi memicu efek domino terhadap rantai pasok perusahaan. Banyak pemasok dan pabrikan suku cadang yang tidak menggunakan BBM bersubsidi sehingga biaya produksi mereka meningkat dan akhirnya diteruskan kepada konsumen.
"Namun, efek domino dari kenaikan BBM nonsubsidi itu tetap terasa. Kenapa? karena supplier-supplier kami tidak semuanya menggunakan BBM subsidi pabrik-pabrik yang Memproduksi spare part - spare part kami tidak semuanya menggunakan BBM subsidi, sehingga sebagai akibatnya efek domino dari kenaikan BBM subsidi Nonsubsidi tersebut Maka terjadilah lonjakan-lonjakan harga baik itu terutama mungkin di spare part," jelasnya.
Selain kenaikan harga suku cadang, perusahaan juga menghadapi tekanan dari pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi permintaan terhadap layanan transportasi yang dijalankan perseroan.
Pelemahan Valuta Asing Tambah Beban
Di sisi lain, kenaikan nilai tukar dolar AS maupun mata uang asing lainnya turut meningkatkan biaya operasional Lorena. Pasalnya, sebagian kebutuhan suku cadang armada masih berasal dari impor sehingga sensitif terhadap pergerakan kurs.
Dwi menjelaskan, tidak hanya dolar AS yang menjadi perhatian, tetapi seluruh valuta asing yang digunakan dalam transaksi impor memberikan tekanan terhadap harga komponen kendaraan. Menurutnya, kombinasi kenaikan harga suku cadang, biaya energi, dan pelemahan daya beli menjadi tantangan utama yang harus dihadapi industri transportasi sepanjang tahun ini.
"Saya tidak hanya mengatakan dollar tapi valuta asing secara umum tentu saja memberikan efek kenaikan bagi spare part,dan kedua hal tersebut baik itu spare part maupun BBM merupakan dua komponen biaya yang sangat besar bagi perusahaan bis," pungkasnya.