Fakta Baru Terapis Tewas di Pasar Minggu, Pernah Kerja di Delta Spa Bali
Polisi kini mendalami penyebab kematian korban dan dugaan mempekerjakan anak di bawah umur.
Penyelidikan terkait tewasnya seorang terapis yang ditemukan tewas di belakang Gedung TIKI, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, masih bergulir. Polisi kini mendalami penyebab kematian korban dan dugaan mempekerjakan anak di bawah umur.
Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly, mengatakan, penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik guna memastikan penyebab meninggal korban.
"Kita harus lihat dulu dia meninggal karena apa, dia meninggal karena terjatuh ataukah karena lain hal," kata Nicolas di kawasan Monas, Senin (20/10).
Tak hanya itu, Nicolas mengatakan, pihaknya juga mendalami dugaan mempekerjakan anak di bawah umur. Dalam hal ini ada dua perusahaan yang berkepentingan, perusahaan perekrut outsourcing dan perusahaan pengguna jasa.
"Kita harus benar-benar mengumpulkan alat bukti dulu yang maksimal supaya jangan sampai kita salah menerapkan pasal dan sebagainya," ujar dia.
Direkrut Outsorcing
Hasil penyelidikan awal, korban pertama kali direkrut oleh perusahaan outsourcing dan sempat bekerja di spa Delta Bali sebelum dipindahkan ke daerah Jakarta Selatan.
"Kita kan harus melihat mulai dari proses perekrutan itu dia bagaimana. kita harus lihat arsip yang dia gunakan pada saat dia melamar menjadi tenaga terapis itu. Kita juga harus cek pihak pekerja tempat dia bekerja awal. Dia kan bekerja awalnya di Delta Bali. Jadi kita harus cek semua itu," ucap dia.
Dia menerangkan, pihaknya tak mau buru-buru menetapkan tersangka karena masih perlu mengumpulkan bukti dan dokumen pendukung.
"Jadi memang butuh waktu supaya kita jangan terburu buru mengambil kesimpulan, kita harus mengumpulkan bukti yang semaksimal mungkin baru kita bisa menarik satu kesimpulan," ucap dia.
Saat ini, pihaknya juga sudah memeriksa dari pihak perusahaan outsourcing yang merekrut korban. Namun Nicolas belum mau membeberkan isi hasil pemeriksaan. "Kita sudah, sudah dicek sudah diambil keterangan," ucap dia.
Sebelumnya, korban yang selama ini dikenal dengan nama Siti Auliya Zanura Rifaatul Islam, ternyata bukan nama asli. Belakangan, penyelidikan polisi mengungkap identitas sebenarnya.
Hal itu diungkap Kanit PPA Polres Metro Jakarta Selatan AKP Citra Ayu setelah mendapatkan informasi dari Disdukcapil setempat. Adapun, korban menggunakan KTP milik kerabatnya sendiri ketika melamar kerja.
"Hasil informasi dari Dukcapi benar yang bersangkutan sesuai dengan registrasi KK bernama RTA dengan usia 14 Tahun, KTP yang digunakan oleh korban untuk mendaftar pekerjaan adalah KTP kerabat dari korban (masih keluarga)," kata Citra Ayu dalam keterangan tertulis, Minggu (19/10).
Tak hanya dari Disdukcapil, pihak rekrutmen juga telah memberikan keterangan mengenai asal-usul korban bisa bekerja di spa tersebut.
Menurut keterangan, korban melamar pekerjaan setelah melihat siaran langsung (live) di TikTok milik seorang temannya yang bekerja di tempat yang sama. Saat itulah, korban datang untuk interview dengan membawa identitas palsu.
"Pihak perusahaan mengetahui bahwa korban mendaftar dengan identitas sebagai "SA"," ujar dia.
Kini, penyidik PPA Polres Metro Jaksel akan menjadwalkan pemeriksaan kerabat korban yang identitasnya digunakan, dan orang lapangan yang melakukan perekrutan. Hal ini untuk menggali lebih jauh soal proses rekrutmen.
"Rencana selanjutnya kami akan mengundang untuk dimintai keterangan yang akan dijadwalka minggu depan," ujar dia.