Dua Siswi SLB Pajajaran 'Terusir' dari Asrama Dinsos Jabar, Orangtua Khawatirkan Nasib Anaknya
Pembimbing Asrama Putri, Anggita Pratiwi mengatakan asrama yang dihuni kedua siswi tersebut dikosongkan secara mendadak.
Dua orang siswi SLBN A Pajajaran Bandung, diduga diusir paksa dari asrama di Pusat Layanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Tak ada pemberitahuan lebih dulu terkait hal tersebut, termasuk kepada pembimbing asrama.
Pembimbing Asrama Putri, Anggita Pratiwi mengatakan asrama yang dihuni kedua siswi tersebut dikosongkan secara mendadak. Ia mengaku mendapat telepon dari pegawai PPSGHD untuk mengosongkan ruangan tersebut, tapi rupanya setelah dikonfirmasi ulang barang anak-anak telah dikeluarkan dari ruang asrama.
"Barang-barang anak-anak sudah dikeluarkan dan kunci gembok yang ada di kamar itu dibongkar dibobol secara paksa gitu," kata Anggita saat dijumpai di SLBN A Pajajaran, Rabu (23/7).
Menurut Anggita ruangan itu pun telah diisi oleh barang-barang alumni PPSGHD. Kata dia bahwa kedua siswi yang merupakan kelas 6 SD dan 11 SMA di SLBN A Pajajaran itu syok melihat pemandangan tersebut.
Anggita mengatakan keduanya diperkenankan pulang lebih awal dari sekolah yang berlokasi di Jalan Pajajaran Bandung itu ke asrama mereka yang ada di kawasan di Cibabat, Cimahi. Kata, Anggita, tak ada sangkaan di benak siswa itu bahwa kamar asrama mereka bakal diisi, sebab tak ada pemberitahuan.
"Itu pas sudah sampai ke sana ya memang keadaan anak-anak itu syok, kaget gitulah. Mereka juga mengatakan bahwa kayak, ‘Bu, kirain teh pulang cepat mau jalan-jalan tapi kok ternyata malah diusir, malah dibongkar, malah kayak gini’, gitu," ujarnya.
Terkait latar belakang pengosongan itu, Anggita mengaku hingga saat ini belum mengetahuinya, saat ini kedua siswi tersebut dikembalikan kepada orang tunya.
"Untuk sementara waktu dikembalikan kepada orangtua. Kemarin dijemput jam 04.30 sore," ujar dia.
Menurut Anggita, kejadian ini berpotensi mengganggu aktivitas belajar kedua siswi disabilitas tersebut, terutama untuk urusan mobilitas, sebab selama ini, ada kendaraan khusus yang mengantar-jemput dari asrama ke sekolah.
"Kan kalau di asrama itu kan nanti ada yang jemput, antar jemput ke sekolah. Sedangkan untuk di rumah kan (orangtua) mereka juga belum tentu," kata dia.
Sementara itu, Asep Sudrajat sebagai orangtua dari siswi kelas 6 SD di SLBN A Pajajaran yang terdampak, mengeluh dengan adanya kejadian ini. Bukan karena sekarang dia mesti mengantar jemput anaknya, tapi lebih kepada kekhawatiran akan pengawasan putrinya.
Asep mengatakan, selama putrinya berada di asrama, ia dapat lebih fokus kepada urusan mencari nafkah untuk anaknya. Namun, dengan kondisi sekarang, ia yang sehari-hari hidup tanpa pasangan itu khawatir penjagaan kepada putrinya tak optimal sehubung dengan aktivitasnya sehari-hari.
"Anaknya perempuan, udah 17 tahun lagi, anaknya takut ke mana-mana. Saya kerja huat nafkahin juga. Kalau saya ngawasi saya enggak bisa," ungkap dia.
"Saya makanya butuh asrama yang mengawasin. Kayak Ibu Anggi kan yang ada yang mengawasi," dia menambahkan.
Asep pun mengaku kecewa, lebih-lebih karena tidak mendapat pemberitahuan tentang adanya dugaan pengusiran anaknya.
"Semua barang-barangnya yang di asrama itu sudah ada di luar asrama. Makanya saya itu tanya itu, ini yang ngambil siapa sebenarnya? Yang yang yang ngeluar-ngeluarin barang dari asrama itu siapa dari pihak mana? Tanpa ada pemberitahuan. Anaknya sedang berpendidikan di sana kan di asrama itu kan positif ya," ucap dia.
Ia pun berharap pihak yang punya wewenang bisa membangun ruang asrama bagi anak-anak disabilitas seperti putrinya. Hal tersebut, kata dia, amat membantu kelangsungan pendidikan mereka.
"Harapannya dibangun lagi lah asrama. Soalnya kan dari luar kota juga kan pasti butuh juga buat asrama putri yang sekolah," kata dia.
"Terus sekarang semua kayak saya ini. kan enggak bisa (mengawasi). Kalau anaknya enggak saya awasin dia ke mana-mana,"katanya.