Annisa Siti, siswi kelas 1 SMA di SLBN A Padjajaran Kota Bandung sudah hapal betul lingkungan sekolahnya. Sejak kelas 3 SMP bersekolah di sana, dia tahu letak ruang-ruang kelas hingga toilet, meski indera pandangannya terbatas.
Tapi sejak 15 Mei 2025, itu berubah. Gedung yang selama ini menjadi tempatnya tumbuh sebagai siswa tunanetra harus dikosongkan. Renovasi untuk program Sekolah Rakyat dari pemerintah pusat mengharuskan SLBN A Pajajaran memindahkan kegiatan belajar sejumlah siswanya ke SLB Cicendo, Bandung.
Dia mengaku sempat merasa kaget terkait hal adanya relokasi itu. Namun apa daya, bersama puluhan siswa SLBN A Pajajaran mengikuti perpindahan tersebut.
Relokasi ke SLB Cicendo sendiri dilaksanakan pada Senin 19 Mei 2025. Didampingi guru dan orang tua, para siswa tunanetra di SLBN A Pajajaran yang kelasnya terdampak renovasi untuk bangunan Sekolah Rakyat bus ke SLB Cicendo. Di SLBN A Pajajaran sendiri, terpantau sejumlah kelas telah dikosongkan dibongkar untuk renovasi.
"Kita sedih, tapi kita pasrahkan saja ke Kepala Sekolah SLBN Pajajaran," kata Annisa saat ditemui awak media di SLB Cicendo.
Advertisement
Direlokasi
Sebelum menjalani rutinitas belajar, para siswa yang direlokasi ke SLB Cicendo akan lebih dulu mengikuti orientasi lingkungan yang baru. Terkait hal ini, Annisa mengatakan prosesnya tak bakal mudah dan butuh waktu.
"Kalau untuk tempat baru seperti di sini, waktunya sebenarnya bergantung mobilitas, karena kita juga menjajaki medan yang baru jadi terasa asing dan gimana gitu, harus banyak-banyak mobilitas seperti barusan trailing, mengetahui letak pintu dan sebagainya," kata Annisa.
"Karena kalau kita enggak hapal, kita bisa saja salah masuk ke kelas orang," ujar dia.
Dalam kesempatan itu, Annisa pun menyampaikan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto. Dia berharap, segera ada status jelas untuk nasib sekolahnya. Tentunya dengan lingkungan yang aman dan sesuai dengan kebutuhannya.
"Iya untuk pesan kepada Bapak Prabowo mudah-mudahan kami siswa-siswi SLBN A Pajajaran Kota Bandung semoga kita mendapat status sekolah yang jelas dan aman dan tentram,” ujar Annisa.
Ungkapan yang senada juga keluar dari mulut siswa lainnya, Aja. Dia pun berharap sesegera mungkin dapat kembali belajar di SLBN A Pajajaran, sebab telah lebih mengenal lingkungan di sana.
Aja yang juga disabilitas netra, juga mengatakan bahwa dirinya perlu waktu cukup lama untuk mengenal lingkungan.
“Cukup lama. Lebih dari 1 bulan,” akunya.
“Sedih. Harus orientasi lagi, mengenal-mengenal lagi dengan tempat-tempat yang baru,” imbuh dia.
Adanya relokasi ini pun meninggalkan rasa tak nyaman di dada orang tua siswa, Subagio salah satunya. Pria 60 itu mengaku kecewa, terlebih dengan pemberitahuan yang ia terima terbilang mendadak.
“Ya pemberitahuan ke orang tua mendadak. Tahu-tahu yang kelas di Pajajaran direnovasi aja, dibongkar,” ucapnya saat berbincang dengan merdeka.com
“Ada kekecewaan, kita sebagai orang tua merasa diombang-ambing,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SLBN A Pajajaran, Gun Gun Guntara, mengatakan pemindahan sebagian siswa ke SLB Cicendo merupakan bagian dari penyesuaian program selama proses pembongkaran gedung kelas.
“Yang direlokasi adalah kelas-kelas besar yang sedang tidak mengikuti ujian. Anak-anak tunanetra membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, seperti mengenali letak ruang kelas, toilet, dan tempat istirahat. Itu tidak bisa instan,” ujar Gun Gun.
Dia mengatakan, dari total 48 rombongan belajar (rombel), hanya delapan sampai sembilan yang sementara dipindahkan kegiatan belajarnya. Gun Gun menyebut pembelajaran di lokasi baru hanya akan berlangsung sekitar satu bulan, karena setelah itu siswa akan memasuki masa libur.
“Awalnya kita ajukan 48 siswa, tapi karena sebagian sedang ujian, yang direlokasi jumlahnya tidak terlalu banyak,” katanya.
Dia berharap pemerintah provinsi segera menyelesaikan renovasi dan menambah ruang kelas agar proses belajar mengajar berjalan lebih baik.
SLBN A Pajajaran diketahui memiliki jenjang pendidikan dari TK hingga SMA dengan total 111 siswa, sekitar 25 persen di antaranya merupakan anak dengan hambatan ganda atau Multiple Disabilities with Visual Impairment (MDVI).
Advertisement
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan turut menjelaskan soal relokasi sementara siswa SLBN A Pajajaran. Dia menjelaskan bahwa pemerintah pusat akan memanfaatkan ruang yang kurang maksimal di SLBN A Pajajaran untuk dimaksimalkan menjadi Sekolah Rakyat.
Dia mengatakan bahwa siswa hanya sementara dipindahkan ke tempat baru. Apabila renovasi selesai, mereka dapat kembali ke SLBN A Pajajaran.
“Para siswa SLB di sana sementara pindah kelas dulu, tapi nanti akan dikembalikan lagi ke kelas yang baru,” ujar dia kepada wartawan, Senin (19/5).
Di singgung soal kekhawatiran para siswa yang dipindahkan kesulitan beradaptasi, Farhan bilang akan menunjuk dinas terkait untuk mengakomodir kebutuhan para siswa.
“Kalau memang sulit beradaptasi, kami dari pemerintah kota Bandung sudah menunjuk dari Cipta Bintar sama DSDABM apabila memang diperlukan infrastruktur penunjang untuk Tuna Netra, kami akan bangunkan dan kami berikan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan proses pembelajaran SLB Negeri A Pajajaran, yang notabene milik Pemda Provinsi Jawa Barat di bawah koordinasi Dinas Pendidikan bakal berjalan lancar dan aman.
Kegiatan renovasi terkait program Sekolah Rakyat yang tengah berlangsung, ia bilang tak bakal mengganggu aktifitas siswa belajar.
"Kami tegaskan proses pembelaran para peserta didik di SLBN A Pajajaran lancar dan aman. Memang saat ini kegiatan renovasi untuk sebagian ruang kelas mulai dilaksanakan. Kami sudah persiapkan, sebagian peserta didik untuk pindah sementara ke SLBN Cicendo. Sifatnya sementara. Setelah renovasi selesai, kurang lebih dua bulan, para peserta didik dipastikan kembali lagi ke Sentra Wyata Guna Pajajaran," ucap Herman dalam rilis Pemprov Jabar, dikutip Senin (19/5).
Menurut Herman, renovasi dilakukan sebab kondisi ruang kelas SLBN A Pajajaran ada yang rusak. Untuk persiapan pelaksanaan Sekolah Rakyat yang terintegrasi di Sentra Wiyata Guna, renovasi sejumlah ruang kelas dilakukan sebagai langkah awalnya.
"Beberapa ruang kelas SLBN A Pajajaran rusak karena itu oleh Kementerian Sosial dan Kementerian PU langsung direnovasi. Dengan komitmen setelah selesai, maka ruangan tersebut akan dioptimalkan untuk proses pembelajaran SLBN A Pajajaran dan Sekolah Rakyat. Nanti akan sinergi dan berdampingan. Pak Gubernur sangat respek terkait hal ini dan beliau menugaskan kami untuk mengawalnya sampai tuntas," kata Herman.
Advertisement
Penjelasan Kemensos
Sementara itu, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Supomo menegaskan, tidak ada upaya pengusiran terhadap siswa SLBN A Padjadjaran.
Dia memastikan tidak ada kebijakan dari Kementerian Sosial (Kemensos) yang mengarah ke sana. “Kalau sekarang muncul isu mau dipindahkan atau diusir, itu tidak benar sama sekali. Kami justru mengakomodasi semua pihak,” kata Supomo, dalam keterangan resmi, Senin (19/5).
Dia menjelaskan, Kemensos mendukung usulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar fasilitas Sentra Wyata Guna dapat dimanfaatkan secara bersama untuk berbagai kepentingan, termasuk pendidikan dan rehabilitasi sosial.
“Kami mengakomodasi usulan dari Pemprov Jawa Barat. Bangunan di Sentra Wyata Guna bisa digunakan bersama: untuk SLB, Sekolah Rakyat, dan layanan rehabilitasi sosial tetap berjalan,” tegasnya.
Advertisement
Tak Ada Pengusiran
Sementara itu, Plt Ketua Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) Jonna A. Damanik menekankan, tidak ada unsur pengusiran terhadap peserta didik SLBN A Padjadjaran.
“Kami hadir di sini untuk memastikan hak pendidikan anak-anak penyandang disabilitas tetap terpenuhi secara adil dan setara. Tidak ada konteks pengusiran dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Sentra Wyata Guna,” kata Jonna.
Lebih lanjut, Jonna menyampaikan, jika ada relokasi, itu bersifat sementara karena adanya renovasi infrastruktur. Semua pihak telah sepakat ke depan SLBN A Padjadjaran dan Sekolah Rakyat bisa berdampingan secara harmonis.
“Relokasi semata karena proses renovasi. Sudah ada kesepakatan bahwa ke depan, semua pihak bisa berjalan berdampingan dan saling mendukung proses pembelajaran,” jelasnya.