Dua Mata Pisau di Balik Kebijakan Dedi Mulyadi Gembleng Anak Nakal di Barak Militer
Anak-anak yang dikirim ke barak militer adalah mereka yang suka tawuran, balap liar, bolos, kecanduan game, melawan orang tua hingga prilaku buruk lainnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membuat kebijakan membina anak-anak nakal ke barak militer. Kenakalan anak-anak yang dimaksud seperti tawuran, balap liar, bolos, kecanduan game, melawan orang tua hingga prilaku buruk lainnya.
Tahap pertama, sejumlah siswa sudah digembleng di Rindam III/Siliwangi, Jawa Barat. Proses pembinaan ini dilakukan selama enam bulan ke depan.
Kebijakan politikus Gerindra ini memunculkan ragam reaksi di masyarakat. Ada yang mendukung, tak sedikit yang mengkritik.
Pengamat pendidikan, Mohammad Abduhzen, menilai secara pribadi kebijakan ini baik. Meski tetap ada sisi positif dan negatifnya.
Abduhzen menyebut, kebijakan itu pada dasarnya cukup menjawab sebagai jalan keluar mengatasi problem di kalangan murid yang terkadang membuat sekolah kewalahan untuk mengambil keputusan terhadap mereka yang bermasalah. Apakah harus dipertahankan, atau tindak.
Kegamangan pihak sekolah itu karena ada kekhawatiran karena takut keputusan diambil malah berujung pelanggaran HAM atau hak azasi terhadap anak.
"Selama ini sekolah dan guru penuh pertimbangan untuk membaiki siswa itu," katanya saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (5/5).
Hal baik lainnya, kebijakan ini juga menjadi solusi agar permasalah anak di lingkungan pendidikan tak lantas membuat sekolah mengembalikan penyelesaiannya ke orang tua atau penegak hukum.
"Ini justru kebijakan ini sebagai bentuk tanggap jawab kalangan pendidik untuk anak bermasalah untuk dibina," ujarnya.
Namun demikian, lanjut Abduhzen, niat baik itu harus didukung pula dengan konsep yang matang. Artinya, dia menyarankan agar kebijakan ini lebih dikonsepkan sebagai pendidikan karakter bukan dikesankan sebagai penghukuman.
"Jadi diprogram sebagai pendidikan karakter, baik yang punya keunggulan atau bermaslaah harus diberkali karakter juga, baik yang pintar maupun nakal, jadi ada payung pendidikan karakter," ujarnya.
Dia berharap kebijakan baik ini diperjelas seperti apa goalsnya. Sehingga bisa diketahui program apa pembinaan apa yang diterapkan termasuk menghitung dampak yang mungkin ditimbulkan. Jangan sampai, usai mendapat pembinaan konsep militer, anak-anak tersebut merasa menjadi keras kepala dan merasa dirinya lebih hebat. Atau dengan kata lagi justru tak menjadi lebih baik.
"Karena konsep pendidikan karakter yang diharapkan buat menjadikan anak tersebut sosok hebat, kuat, tetapi menjadi anak yang disiplin, hormat dan berprilaku sesuai usianya. Makanya stressingnya harus pada penyadaran bukan seolah-olah menjadikan dia sosok yang hebat," ujarnya.
"Sehingga penting betul kebijakan ini di-planning, agar bukan sekadar buang penyakit, karena ini menyangkut perkembangan anak-anak yang dibina pada masa yang akan datang," kata Abduhzen.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi, menanggapi santai pro dan kontra yang muncul terkait kebijakannya menempatkan anak-anak usia sekolah yang terlibat kenakalan remaja ke barak militer.
Dedi Mulyadi menyebut. rencana tersebut merupakan bagian dari program pendidikan karakter yang ia inisiasi. Meskipun banyak kritik yang muncul, Dedi menegaskan tidak akan mundur dan yang dilakukannya demi kepentingan bangsa.
"Setiap perbuatan yang bertujuan demi kebaikan dan kebangsaan, nasionalisme di Indonesia itu sudah terbiasa," ujarnya dalam unggahan di akun Instagram @dedimulyadi71, yang dikutip pada Senin, (5/5).