Ratusan Pelajar Lulus, Nasib 'Pendidikan Militer' Ala Dedi Mulyadi Lanjut atau Tidak?
Beberapa pelajar mengaku betah ada di sana. Meski di awal sempat kesulitan beradaptasi.
Lebih kurang dua ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Jawa Barat selesai menjalani pendidikan karakter di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Purwakarta. Mereka berada di barak militer selama lebih kurang dua pekan.
Beberapa pelajar mengaku betah ada di sana. Meski di awal sempat kesulitan beradaptasi, mereka senang karena bisa bertemu teman baru. Selain itu, membentuk pribadi mereka lebih disiplin dari sebelumnya.
Stevi, salah satu pelajar dari Bogor memastikan tak ada kekerasan. Meski memang ada hukuman untuk yang sulit diatur, namun menurutnya itu tak sampai ada kekerasan fisik.
"Kalau ada yang susah dibilangin, paling disuruh jalan jongkok. Itu juga di balik hukuman yang diberikan ternyata baik juga untuk kita," ujarnya.
Semula, dia sempat mengira pendidikan karakter Panca Waluya bakal berlangsung keras. Tetapi rupanya tidak. Bahkan tak pernah sedikit pun terpikir olehnya untuk kabur dari barak.
"Dipikir sih di sini bakal keras atau gimana, ternyata malah enak nanget tiap hari ikut kegiatan rutin kaya di sekolah cuma lebih sehat makan makanannya," ujar dia.
Ada Gelombang Kedua
Setelah kelulusan dua ratusan pelajar, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mengatakan program ini akan berlanjut. Menurutnya, akan ada angkatan siswa baru yang bakal memperoleh pendidikan karakter di barak militer dengan seizin orang tua mereka.
"Ya berlanjut dong, ini program kan angkatan pertama setelah itu mereka melewati pendidikan nanti dua mingguan selama setahun ya, karena persiapan minat dan bakat kemudian setelah itu nanti ada angkatan baru," jelas Dedi.
Dia menilai, program ini merupakan bukti keseriusan Pemprov Jabar dalam menangani karakter siswa-siswa yang bermasalah. Sehingga, dirasa perlu membekali pelajar tersebut dengan materi soal bela negara dan kedisiplinan lainnya.
“Jadi membangun hubungan negara dengan rakyat, pemimpin dengan rakyat, itu urusan rasa, bukan urusan-urusan administrasi kenegaraan. Jadi ini salah satu bukti bahwa banyak orang meragukan apa yang dilakukan oleh Pemprov Jabar, tetapi akhirnya waktu yang menjawab,” ujar Dedi.
Harus Dievaluasi Berkala
Terpisah Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, mengapresiasi program pendidikan karakter Panca Waluya. Namun demikian, dia berharap tetap ada evaluasi berkala, terbuka akan kritik yang membangun.
Dia menyarankan, psikolog juga bisa dilibatkan untuk memastikan kondisi mental anak-anak tetap baik selama mengikuti pendidikan karakter.
"Jadi dalam hal ini kami apresiasi dan tetap harus dievaluasi sampai akhir, beberapa akan kami ikuti, juga ada tim psikolog sehingga kalau nanti hasilnya positif jangan ragu-ragu dan gengsi untuk dijadikan gerakan nasional," tutur Kak Seto.
Pada dasarnya, dia menilai penting melengkapi pendidikan non-formal di luar pendidikan sekolah dan lingkungan keluarga. Sebab, pendidikan karakter demi membangun kedisiplinan siswa seperti di barak militer dapat menjadi salah satu pilihannya.
“Itu bisa saja di Dodik Bela Negara, perpustakaan, sarana gelanggang olahraga maupun sanggar-sanggar seni. Jawa Barat bisa menjadi contoh dan alternatif," kata Seto.
"Anak-anak pada dasarnya membutuhkan uluran cinta dari tokoh-tokoh seperti orang tua, guru, pemimpin, pejabat sehingga mereka menjadi bunga yang sangat mekar," ucap dia.