Natalius Pigai soal Pelajar Nakal Dibawa ke Barak TNI: Bukan Merupakan Corporal Punishment

Pigai percaya tindakan yang dilakukan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Muhammad Radityo Priyasmoro
Natalius Pigai soal Pelajar Nakal Dibawa ke Barak TNI: Bukan Merupakan Corporal Punishment
<p>Natalius Pigai Sebut Hanya Punya 3 Pacar</p> (@ 2025 merdeka.com)

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai merespons kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengirim sejumlah pelajar ‘bermasalah’ ke barak militer. Menurut Pigai, kebijakan tersebut tidak melanggar standar HAM, selama tidak dimaknai sebagai hukuman, melainkan sebagai bentuk pembinaan karakter, mental, dan tanggung jawab anak.

“Apa yang dilakukan Pemda Jabar tersebut bukan merupakan corporal punishment (hukuman), tetapi bagian dari pembentukan karakter, mental dan tanggung jawab anak. Maka tentu tidak menyalahi standar Hak Asasi Manusia,” kata Pigai dalam keterangan tertulis, Selasa (6/5).

Pigai menjelaskan, hukuman atau corporal punishment mengacu pada penggunaan kekerasan fisik yang menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan, seperti memukul, menampar, atau menggunakan benda keras terhadap anak.

“Ini kontroversial karena dampaknya yang negatif terhadap kesehatan fisik dan mental anak,” tegasnya.

Namun, Pigai percaya tindakan yang dilakukan Gubernur Jabar itu tidak termasuk dalam kategori tersebut.

“Sepanjang pendidikan menyangkut pembinaan mental, karakter dan nilai-nilai kedisiplinan, maka hal tersebut sesuai dengan prinsip dan standar HAM,” tandasnya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya mengungkapkan, program pendidikan di barak militer akan bekerja sama dengan TNI dan Polri, dengan tujuan membentuk pendidikan karakter bagi siswa bermasalah.

“Tidak harus langsung di 27 kabupaten/kota. Kita mulai dari daerah yang siap dan dianggap rawan terlebih dahulu, lalu bertahap,” kata Dedi, dikutip Minggu (27/4/2025).

Menurut politisi Gerindra itu, sekitar 30 hingga 40 barak khusus telah disiapkan oleh TNI. Program pendidikan akan berlangsung selama 6 bulan, dengan kriteria peserta yang dianggap perlu pembinaan di barak militer.

“Tukang tawuran, tukang mabok, tukang main Mobile Legends, yang kalau malam kemudian tidurnya tidak mau sore. Ke orang tua melawan. Melakukan pengancaman. Di sekolah bikin ribut. Bolos terus. Dari rumah berangkat ke sekolah, ke sekolah enggak sampai. Kan kita semua dulu pernah gitu ya,” ujar Dedi.

Rekomendasi