Dokter Beberkan Kondisi Prada Lucky Setelah Tiba di RSUD Aeramo
Oditur Pengadilan Militer III-15 Kupang melakukan pemeriksaan terhadap dua dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo, yang menangani Prada Lucky.
Oditur Pengadilan Militer III-15 Kupang sedang memeriksa dua dokter dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo, yang terletak di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terkait kasus kematian Prada Lucky
Dalam sidang virtual tersebut, kedua dokter yang dihadirkan sebagai saksi adalah Kandida Bibiana Ugha dan Gede Rastu Ade Mahartha. Kandida adalah seorang dokter umum, sedangkan Gede merupakan dokter spesialis bedah di RSUD Aeramo.
Kedua dokter tersebut mengungkapkan bahwa terdapat banyak luka memar di tubuh Prada Lucky. Kandida menjelaskan bahwa ada tiga prajurit TNI AD yang membawa Lucky ke RSUD Aeramo, dan ia melakukan pemeriksaan terhadap kondisi pasien.
Saat Kandida menanyakan keluhan yang dirasakan oleh Lucky, tiga prajurit yang mengantar menjawab bahwa pasien dalam keadaan lemas dan pusing.
"Ada tiga orang yang mengantar Prada Lucky ke RSUD Aeramo. Saat itu pasien mengenakan kaus loreng," ungkap Kandida saat menjawab pertanyaan dari Oditur Letkol Yusdiharto yang didampingi oleh Letkol Alex Panjaitan dikutip Liputan6.com, Kamis (13/11).
Kandida juga menyatakan bahwa terdapat luka memar dan bengkak di bagian perut, dada, serta pinggang Lucky. Selain itu, luka juga ditemukan di tangan dan paha kiri Lucky.
"Kalau bagian kepala dan telinga tidak ditemukan luka apapun," kata Kandida.
Ia menyimpulkan bahwa luka-luka tersebut disebabkan oleh trauma akibat benda tumpul dan tajam, sehingga bentuk luka terlihat seperti goresan panjang dan merata.
Kandida menduga luka-luka tersebut terjadi antara satu jam hingga dua hari sebelum Lucky dibawa ke rumah sakit.
"Saya bisa simpulkan itu akibat benda tumpul. Tindakan medis yang saya lakukan mencakup pemeriksaan darah, rontgen, dan uronorologi. Rontgen di bagian dada menunjukkan bahwa tidak ada patah tulang," jelas Kandida.
Dari pengamatannya, Kandida menyatakan tidak ada kelainan yang ditemukan di bagian perut Lucky. Ia juga memberikan terapi, obat, dan infus saat menangani pasien tersebut.
"Saya berikan obat paracetamol injeksi dan ranitidine," tambahnya.
Selanjutnya, Kandida melaporkan kepada dokter penanggung jawab di RSUD Aeramo mengenai kondisi fisik Lucky, yang menunjukkan HB rendah dan memar akibat benda tumpul di bagian dada dan perut. Hasil pemeriksaan laboratorium baru keluar sekitar satu hingga dua jam setelahnya.
Pecahnya Pembuluh Darah di Paru-Paru
Sementara itu, Gede menyatakan bahwa Lucky mengalami memar pada paru-parunya dan fungsi ginjalnya meningkat. Gede bertindak sebagai dokter penanggung jawab saat Lucky dibawa ke RSUD Aeramo pada tanggal 2 Agustus.
Ketika menerima Lucky, ia diberi tahu bahwa kondisi pasien stabil berdasarkan foto penunjang dari bagian tubuhnya.
"Saya menganalisa apakah ada tulang yang patah, baik foto dada maupun perut. Saya sendiri juga melihat luka, melalui foto," ungkap Gede.
Gede memberikan berbagai obat, termasuk infus, dan mengarahkan Lucky untuk menjalani transfusi darah. Ia juga mengaku sempat berkomunikasi dengan Lucky.
"Almarhum sempat mengeluh dengan sistem pernapasan. Napasnya memang tampak lebih cepat, tapi masih bisa berkomunikasi dengan baik menyampaikan keluhannya," kata Gede.
Ia kemudian melakukan pemeriksaan ulang karena Lucky mengeluh nyeri, dan meminta petugas medis untuk melakukan observasi karena keluhan sesak napas yang semakin meningkat.
Gede menjelaskan bahwa fokus pemeriksaannya adalah luka-luka di daerah dada, perut bagian depan, sisi pinggang kanan dan kiri, serta di lengan dan paha Lucky.
"Luka-luka di lengan dan paha sudah kemerahan," urai Gede.
Dalam pemeriksaannya, ia menemukan luka-luka yang bukan merupakan luka baru, karena ada yang telah mengering dan menghitam. Proses penyembuhan luka tersebut berlangsung lebih dari satu hari.
"Setelah mendapat laporan, saya tanyakan apakah pasien stabil atau tidak. Lalu dijawab kondisinya masih stabil," tambah Gede.
Menurut Gede, ada percepatan napas yang dicurigai disebabkan oleh infeksi akibat luka-luka di bagian dada, perut bagian depan, sisi pinggang kanan dan kiri, serta kedua lengan dan paha Lucky.
Ia menjelaskan bahwa pernapasan normal umumnya berkisar antara 16 hingga 18 kali per menit. Namun, Lucky mengalami pernapasan yang lebih cepat, yaitu antara 22 hingga 26 kali per menit.
Gede menambahkan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi kondisi tersebut. "Saat itu tidak tampak kelainan di daerah dada. Namun, proses sakit itu bisa panjang dan mengalami perubahan," tutup Gede.
Pekatan Darah yang Membeku
Umumnya, dia melaporkan adanya cairan bebas yang mengelilingi hati. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa cairan tersebut tidak ditemukan. Di sisi lain, bagian limfa menunjukkan adanya gumpalan darah.
"Di sisi limfa itu ditemukan seperti gumpalan darah yang membeku. Rontgen bagian paru-paru menunjukkan indikasi memar, sementara tidak ada cedera yang terdeteksi di area ginjal. Namun, saat pemeriksaan tambahan dilakukan, fungsi ginjal menunjukkan peningkatan," jelas Gede.
Gede menambahkan bahwa peningkatan fungsi ginjal ini mengindikasikan adanya kerusakan pada fungsi ginjal yang kemungkinan disebabkan oleh trauma dan infeksi akibat luka.
"Jika kita berbicara tentang paru-paru, dapat dikatakan bahwa ada trauma akibat benda tumpul. Sedangkan di limfa, pasti ada trauma tumpul yang mengakibatkan kerusakan," tutupnya.