Doa Anak Marbot Masjid Masuk UGM Tembus Langit
Elsa juga berhasil mendapatkan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 75 persen dari UGM.
Ada ungkapan jika pendidikan dipercaya mampu mengubah nasib dan jalan hidup seseorang. Hal ini pun dipercayai oleh Elsa Yuliana (18) calon mahasiswa baru UGM tahun ajaran 2025/2026 asal Sentolo, Kulon Progo, DIY.
Elsa bercita-cita untuk mengangkat derajat keluarga dan membiayai pendidikan adiknya. Untuk mewujudkan cita-citanya, Elsa belajar dengan tekun dan bekerja keras untuk menggapai cita-citanya itu dengan menempuh pendidikan tinggi di UGM sebagai langkah awalnya.
Kerja keras Elsa ini mengantarkannya diterima masuk UGM tanpa tes melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) di Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas Geografi UGM.
Elsa juga berhasil mendapatkan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 75 persen dari UGM.
Elsa merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, putri dari pasangan Sudiyana (47) dan Parjiyah (48). Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai marbot masjid dan buruh cuci dengan penghasilan tidak menentu, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.
Berlatar belakang ekonomi yang sederhana, Elsa mengaku bahwa sejak kelas 10 dirinya berniat ingin lolosnya lewat jalur SNBP. Pilihan ini dianggap Elsa adalah pilihan paling rasional karena mengingat keadaan ekonomi orang tuanya.
“Saya juga selalu belajar sendiri, karena orang tua saya nggak bisa mendaftarkan les untuk saya,” kata Elsa, Rabu (4/6).
Ayahnya Khawatir
Selama masa sekolahnya di SMA Negeri 1 Wates, Elsa tidak hanya fokus belajar, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, terutama Pramuka.Ibu Elsa, Parjiyah menceritakan, Elsa kerap mengikuti lomba-lomba Pramuka hingga tingkat kabupaten dan meraih sejumlah penghargaan. Hal ini membuat kedua orang tuanya yakin untuk terus mendukungnya.
“Sejak dulu saya kalau misalkan Elsa ngomong ingin kuliah, ya saya dukung. Saya dukung Elsa buat kuliah di UGM. Bersyukur anaknya tahu kalau keinginannya besar jadi selalu mau usaha,” ungkap Parjiyah.
Kabar diterima Elsa di UGM tentu membawa kebahagiaan besar bagi keluarganya, terutama mengingat bahwa Elsa menjadi satu-satunya yang berkuliah di keluarganya.
Ayahnya lulusan SLTA, Ibunya SMEA, dan Kakaknya lulusan SMK. Namun, di balik rasa syukur itu, muncul pula kekhawatiran terkait biaya pendidikan yang harus ditanggung.
Ayah Elsa Sudiyana mengaku sempat cemas, tetapi tetap berpegang pada keyakinan bahwa selalu ada jalan jika anaknya bersungguh-sungguh.
“Kalau senang pastinya ada. Tapi ya waktu itu tetap mikir-mikir. Senang sambil mikir ‘gimana ya besok bayarnya?’ gitu. Terus alhamdulillah Elsa bisa mendapatkan subsidi UKT dari UGM,” ungkap Sudiyana.
Bantu Ayah Bersihkan Masjid
Memiliki ayah yang berprofesi sebagai marbot tak membuat Elsa merasa minder dan tak percaya diri. Elsa mengaku dirinya bangga pada pekerjaan ayahnya.
Elsa bahkan sering ikut membantu ayahnya membersihkan masjid jika sang Ayah tengah kewalahan. Elsa mengaku senang bisa sedikit meringankan beban orang tuanya.
"Sering juga ikut membantu jika Bapak capek," ucal Elsa.
Elsa berharap, dengan berkuliah di UGM, dirinya dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu dan segera bekerja agar bisa membantu membiayai pendidikan adiknya.
“Setelah lulus, saya cuma ingin mengangkat derajat orang tua saja. Soalnya kan nggak mungkin (keadaan ekonomi) seperti ini terus. Adik saya juga masih SD. Nanti juga pengennya dikuliahkan, agar bisa mengangkat derajat keluarga,” ungkap Elsa.
Elsa bersyukur diberi kesempatan untuk berkuliah di UGM dengan bantuan subsidi UKT. Menurutnya kesempatan ini tak ingin ia siakan untuk menggapai mimpinya, tetapi juga membuka harapan baru bagi masa depan keluarganya.
“Pesan saya untuk teman-teman yang juga sedang berjuang, jangan menyerah apapun keadaannya, termasuk soal ekonomi. Semua itu pasti ada jalannya masing-masing.Kalau kita sudah niat dan terus berdoa serta berusaha, pasti ada jalan. Yang penting jangan menyerah,” tutup Elsa.