Cerita Perjuangan Anak Penjual Jerami Dapat Beasiswa Kuliah Gratis di UGM
Hidup dalam keterbatasan ekonomi tidak membuat Rofidah Nurhana Lestari (18) warga Teguhan, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul menyerah mewujudkan mimpi-mimpinya.
Hidup dalam keterbatasan ekonomi tidak membuat Rofidah Nurhana Lestari (18) warga Teguhan, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul menyerah mewujudkan mimpi-mimpinya. Kerja keras dan ketekunan menjadi modal bagi Rofidah untuk keluar menembus belenggu keterbatasan ekonomi.
Bagi Rofidah, proses dianggapnya tidak pernah mengkhianati hasil. Terbukti, hasil kerja keras dan ketekunan Rofidah selama ini membuahkan hasil. Rofidah diterima menjadi mahasiswa baru di Fakultas Teknologi Pertanian UGM.
Rofidah pun juga mendapatkan beasiswa Subsidi UKT sebesar 100 persen dari Kampus UGM. Dengan beasiswa yang diterimanya ini, Rofidah berharap bisa meringankan beban ekonomi keluarga.
Rofidah menceritakan bahwa ayahnya, Timbul Marsono (54) bekerja sebagai supir truk pengangkut jerami untuk pakan ternak. Pekerjaan ayahnya ini memiliki penghasilan yang tak menentu.
Sembari menunggu jadwal perkuliahan, Rofidah pun memilih untuk bekerja menunggu konter handphone dan pulsa. Pekerjaan ini dilakoni Rofidah untuk membantu orangtuanya mempersiapkan pembiayaan awal kuliah.
"Melihat kondisi Bapak di musim hujan ini yang belum bisa bekerja maksimal. Saya juga tahu nantinya masuk kuliah juga perlu biaya," ungkap Rofidah, Kamis (5/6).
Rofidah mengaku kemauan dan disiplinnya untuk belajar karena termotivasi dari orang tuanya. Bapak dan ibu, lanjut Rofidah, selalu mendorong dan memberi semangat dalam belajar dan meraih cita-cita.
"Bapak ibu selalu memotivasi saya untuk bisa sekolah lebih tinggi, walaupun dengan keadaan ekonomi yang seperti ini," ujar anak bungsu dari dua bersaudara ini.
Sang ayah selalu meyakinkan Rofidah untuk mendaftar kuliah ke perguruan tinggi dan mendoakan agar anaknya bisa mendapatkan beasiswa.
"Bapak selalu meyakinkannya, pasti ada kesempatan beasiswa di masa depan, dan bagaimanapun saya akan dapat berkuliah," kenang Rofidah.
Bagi Rofidah, orang tuanya merupakan sosok yang sangat sabar dan telah berkorban untuk mengusahakan yang terbaik bagi anaknya tanpa pernah merasa terbebani. Terlebih, kedua orang tuanya yang selalu sabar mengurus kakaknya yang sedari kecil mengalami kelumpuhan.
"Tahun lalu kakak saya berpulang. Selama 27 tahun ibu merawat di rumah dan bolak-balik masuk rumah sakit," ungkap Rofidah.
Memilih Teknologi Pertanian
Menjalani studi di UGM, Rofidah berharap kelak ia dapat bekerja di Kementerian Pertanian. Salah satu motivasinya untuk mengambil prodi Teknik Pertanian di Fakultas Teknologi Pertanian.
"Saya melihat di teknik pertanian itu lebih menarik karena ada tekniknya, dan saya ingin nantinya saya bisa menjadi salah satu kontributor dalam menginovasi produksi maupun sarana di bidang pertanian Indonesia," urai Rofidah.
Rofidah mengaku sangat bersyukur bisa diterima di UGM dan mendapatkan beasiswa Subsidi UKT sebesar 100 persen dari Kampus UGM sehingga membantu beban ekonomi keluarganya.
Sedangkan ayah Rofidah, Timbul menjelaskan dirinya sehari-hari menjalani pekerjaan sebagai sopir untuk mengemudi mobil truk milik tetangganya. Truk ini dipakainya untuk mencari jerami yang nantinya akan dijual sebagai pakan ternak.
"Jerami saya ambil dari desa lain, lalu dijual ke warga desa yang punya ternak," ucap Timbul.
Timbul menceritakan di musim penghujan seperti saat ini, tidak banyak warga yang begitu membutuhkan jerami pakan ternak. Kondisi ini membuat Timbul harus memutar otak untuk tetap menghidupi keluarga kecilnya agar dapur bisa tetap mengepul.
Jika jerami sedang sepi peminat, Timbul memilih berkeliling melakukan jual beli barang bekas. "Kalo lagi sepi, kita cari rongsokan. Yang penting bisa buat tambah-tambah biaya hidup," ungkap Timbul.
Timbul mengaku setiap hari harus berangkat pagi-pagi buta dan kembali larut malam sampai jerami tersebut terjual habis. Dalam sebulan, dirinya biasa mendapatkan penghasilan Rp1,5 juta.
"Sebulan itu bisa delapan sampai sepuluh kali berangkat, tapi gak mesti. Sekali pulang dapat seratusan ribu," urai Timbul.
Di tengah keterbatasan, Timbul mengaku selalu mengupayakan segala hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Timbul pun merasa beruntung memiliki merupakan anak yang mandiri, terbukti dengan kebiasaan Rofidah yang selalu rajin belajar, bahkan sampai larut malam.
"Belajarnya sampai jam 1 sampai 2 pagi apalagi jika menjelang ujian," tutur Timbul.
Timbul mengenang Rofidah selalu mendapatkan ranking 1 semasa SD dan SMP-nya. Selain itu, kegemarannya untuk membaca pernah membawanya memenangkan lomba penulisan puisi.
Rofidah pernah menerbitkan puisinya dalam buku 'Catatan Perjuangan' bersama Najwa Shihab.
Sedangkan ibu Rofidah, Darini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada UGM yang membantu anaknya untuk mendapatkan kesempatan berkuliah dan beasiswa UKT di tengah kondisi keterbatasan ekonominya keluarganya.
"Saya sangat berterima kasih kepada pihak UGM, yang mana telah menerima anak saya Rofidah dengan subsidi 100%. Anak saya mendapat biaya kuliah gratis, sekali lagi terima kasih," tutup Darini.