Jakarta, 13 September – Sebuah kisah inspiratif datang dari Oktavianti Riska Fitriasari, seorang yatim piatu yang telah menghafal enam juz Al Quran dan kini menemukan harapan baru di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang, Jawa Timur. Remaja berusia 17 tahun ini menunjukkan ketabahan luar biasa dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Ia tetap bersemangat mengejar pendidikan dan cita-citanya sebagai guru agama.
Perjalanan hidup Okta, sapaan akrabnya, diwarnai dengan kehilangan orang tua sejak usia dini dan perjuangan ekonomi yang berat. Meski demikian, semangatnya untuk terus menghafal Al Quran dan meraih pendidikan tidak pernah padam. Kini, di bawah naungan Sekolah Rakyat, ia mendapatkan dukungan yang memungkinkannya untuk fokus belajar dan mengembangkan diri.
Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif penting yang menargetkan anak-anak dari keluarga miskin, telah menjadi jembatan bagi Okta dan ribuan siswa lainnya untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan berkualitas. Program ini memberikan kesempatan emas bagi mereka yang sebelumnya mungkin terhambat oleh keterbatasan ekonomi. Okta adalah salah satu bukti nyata keberhasilan program ini.
Advertisement
Advertisement
Perjalanan Hidup Penuh Cobaan: Ketabahan Okta Hadapi Keterbatasan
Okta kehilangan ibunya saat masih duduk di bangku kelas dua SMP, dan tak lama kemudian, ayahnya menyusul berpulang. Sejak saat itu, ia turut menjadi penopang keluarga bersama nenek dan pamannya, merawat dua adiknya yang masih kecil. Penghasilan neneknya sebagai pemulung tidak menentu, bahkan seringkali tidak ada, sementara pamannya bekerja sebagai "polisi cepek" dengan penghasilan jauh dari cukup.
Kondisi ekonomi yang serba prihatin ini membuat Okta harus bekerja serabutan sejak SMP. Ia berjualan makanan, menjaga toko baju, hingga menjajakan jus buah demi membantu keluarganya. Mereka kerap hanya bisa makan satu atau dua kali sehari, sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi Okta di usia muda.
Cobaan hidup Okta tidak berhenti di situ. Pada tahun 2024 lalu, rumahnya di Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, ludes terbakar akibat ledakan gas elpiji. Saat kejadian, Okta tengah berada di pesantren Darul Muhlisin, Sawojajar. Sejak itu, keluarganya terpaksa tinggal di rumah kontrakan sembari berusaha memperbaiki rumah seadanya.
Advertisement
Di tengah semua keterbatasan dan musibah yang menimpanya, Okta tetap setia menghafal Al Quran. Hingga kini, ia telah menghafalkan enam juz. "Kalau habis magrib ngaji (Al Quran) itu dihafalkan," jelasnya, mengungkapkan bagaimana ia menenangkan hati dan menemukan ketenangan saat rindu orang tua datang atau setelah sholat dengan melafalkan ayat demi ayat.
Advertisement
Sekolah Rakyat: Titik Terang bagi Penghafal Al Quran
Titik terang dalam hidup Okta hadir ketika ia diterima di SRMA 22 Kota Malang, bagian dari program Sekolah Rakyat. Di lingkungan baru ini, Okta kembali menemukan harapannya yang sempat meredup. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, menunjukkan disiplin tinggi dalam belajar, dan berhasil menemukan teman-teman baru yang mendukungnya.
Meskipun jalan hidupnya penuh ujian, semangat Okta tidak pernah padam. Ia tetap memelihara mimpi besarnya untuk menjadi seorang guru agama. "Di pesantren, para guru mengajarkan kitab-kitab kepada santrinya. Dari situlah muncul keinginan kuat untuk menjadi guru ngaji," kata Okta, menjelaskan motivasinya.
Lebih dari sekadar meraih cita-cita pribadi, Okta juga memiliki keinginan kuat untuk membahagiakan neneknya dan membebaskannya dari beban hidup. "Harapan saya bisa sukses, biar nenek enggak susah lagi, biar bisa rawat adik-adik," ucapnya, menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga.
Advertisement
Di Sekolah Rakyat, Okta mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensinya. "Dulu makan satu atau dua kali sehari. Sekarang tiga kali sehari. Di sini juga kalau habis magrib bisa (rutin) ngaji dan menghafalkan Al Quran. Meskipun tidak setoran tapi tetap menghafal," ujar Okta, menggambarkan perubahan positif dalam kehidupannya.
Advertisement
Masa Depan Cerah: Memutus Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan
Kisah Okta adalah representasi dari banyak anak di Indonesia yang menolak menyerah pada keadaan meskipun berasal dari keluarga miskin. Kehilangan orang tua, rumah terbakar, hingga harus bekerja sejak kecil, semua itu tidak mematahkan semangatnya. Justru dari cobaan itulah ia belajar arti ketabahan dan keteguhan.
Okta tidak sendiri; sebanyak 75 siswa di SRMA 22 Malang juga menapaki jalan yang sama, dengan asa yang terus tumbuh. Didukung oleh 17 guru dan 3 tenaga pendidikan, serta sarana olahraga, laboratorium, hingga perpustakaan, anak-anak dari keluarga miskin ini mendapat peluang baru untuk meraih cita-cita dan memutus rantai kemiskinan yang membelenggu.
Program Sekolah Rakyat, yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo, menargetkan pendirian di 165 titik pada tahun 2025. Program ini diharapkan mampu menampung 15.895 siswa dari keluarga miskin. Ini adalah ikhtiar besar agar anak-anak seperti Okta tidak lagi terhenti di tengah jalan hanya karena keterbatasan ekonomi.
Advertisement
Sekolah Rakyat hadir bukan sekadar sebagai ruang belajar, melainkan sebagai rumah yang memberi anak-anak kesempatan untuk bermimpi dan mewujudkan potensi mereka. Bersama Okta dan ribuan anak lainnya, harapan itu kini bertumbuh melalui keyakinan bahwa pendidikan berkualitas mampu mengalahkan kemiskinan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Sumber: AntaraNews