Di Unhas, Stafsus Presiden Yovie Widianto Bahas Polemik Royalti
Yovie menilai Indonesia tidak kalah dengan Korea Selatan yang memiliki kekayaan intelektual. Hanya saja, Indonesia terjebak dalam budaya pembajakan.
Staf Khusus Kepresidenan Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto menyinggung adanya kesenjangan terkait potensi dengan royalti kekayaan intelektual. Hal tersebut disampaikan Yovie saat kuliah umum di Arsjad Rasjid Lecture Theater Universitas Hasanuddin Makassar, Kamis (23/4).
Yovie menilai Indonesia tidak kalah dengan Korea Selatan yang memiliki kekayaan intelektual. Hanya saja, Indonesia terjebak dalam budaya pembajakan dan tata kelola royalti yang tidak transparan.
"Fakta pahit terkait kondisi kekayaan Intelektual saat ini yang masih dipengaruhi oleh budaya meniru, membajak, dan mengonsumsi barang palsu," ujarnya.
Amanat Undang-Undang Hak Cipta
Kondisi ini bertolak belakang dengan amanat Undang-Undang Hak Cipta. Ia menegaskan adanya UU Hak Cipta menjamin sembilan hak ekonomi eksklusif bagi para pencipta.
"Masalah utama justru terletak pada mandeknya fungsi Lembaga Manajemen Kolektif (LMK). Jumlah LMK yang terlalu banyak tidak dibarengi dengan tata kelola optimal. Sehingga banyak musisi dan pencipta lagu gigit jari menunggu hak royalti," ucapnya.
Yovie menyebut hingga saat ini Indonesia belum mampu mengimplementasikan sistem terintegrasi WIPO Connect secara optimal karena kendala kualitas data katalog musik domestik. Yovie juga menyinggung disrupsi kecerdasan buatan atau AI dalam ranah kreatif.
"Pandangan ilmuwan dunia yang menginginkan kolaborasi manusia dengan mesin, dengan syarat AI hanya digunakan untuk pekerjaan teknis berulang, bukan untuk mengambil alih keputusan kreatif inti," tegasnya.
Kreativitas
Ditekankan bahwa kreativitas manusia lahir dari pengalaman hidup dan pergulatan batin yang tidak bisa disimulasi oleh data semata. Tantangan terbesar bagi Indonesia bukanlah mengadopsi AI, melainkan memastikan teknologi tersebut justru memperkuat jati diri dan budaya Nusantara.
Untuk itu, Yovie menekankan bahwa kunci lompatan ekonomi kreatif justru berada di tangan mahasiswa. Ia menyebut para mahasiswa dari berbagai fakultas harus mulai berkolaborasi untuk menciptakan kekayaan intelektual baru yang bernilai ekonomi.
"Saya tahu betul mahasiswa di Universitas Hasanuddin ini punya bakat-bakat yang hebat. Ini bukan hanya di musik atau film, tapi juga di keilmuan. Kita bisa buat kolaborasi antar fakultas, dari Hukum yang mengamankan legalitas, Desain yang mengemas produk, hingga Ekonomi dan FISIP yang mengurus pemasaran dan komunikasi," ujar Yovie.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi semacam ini diharapkan mampu mendiversifikasi usaha para lulusan sehingga tidak hanya mengandalkan ijazah, melainkan menjadi pengusaha ekraf atau pejuang ekraf yang membantu ekosistem sekitarnya.