BPBD DKI Tegaskan Operasi Modifikasi Cuaca Bertujuan Mengalihkan Hujan, Bukan Menghentikan
BPBD DKI Jakarta menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan untuk mengalihkan hujan dari daratan ke laut, bukan menghentikannya, sebagai langkah antisipasi cuaca ekstrem.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengklarifikasi tujuan utama Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sedang berlangsung. Mereka menegaskan bahwa operasi ini tidak bertujuan untuk menghentikan hujan di ibu kota. Sebaliknya, OMC dirancang untuk mengalihkan potensi curah hujan deras agar tidak terjadi di wilayah daratan Jakarta.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menjelaskan bahwa pesawat khusus mengejar awan di atas laut. Proses penebaran garam (NaCl) kemudian dilakukan di lokasi tersebut. Ini merupakan upaya mitigasi dini yang terkoordinasi dengan baik.
Pelaksanaan OMC ini telah dimulai pada 16 Januari 2026 dan akan berlangsung selama lima hari ke depan. Kegiatan ini adalah strategi pemerintah daerah mengantisipasi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di Jakarta.
Mekanisme dan Target Operasi Modifikasi Cuaca
Mohammad Yohan lebih lanjut memaparkan detail mekanisme Operasi Modifikasi Cuaca. Pesawat yang ditugaskan dalam operasi ini secara spesifik akan menyasar awan yang berada di atas laut. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa hujan turun di area perairan, bukan di daratan padat penduduk.
Seluruh tahapan dalam proses OMC ini telah diperhitungkan secara matang. BPBD DKI Jakarta berkoordinasi erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kolaborasi ini menjamin efektivitas dan keamanan pelaksanaan operasi.
Yohan mencontohkan, operasi sebelumnya menargetkan wilayah Selat Sunda. Awan-awan yang berpotensi bergerak menuju Jawa Barat dan Jakarta digugurkan di atas laut. Ini menunjukkan strategi proaktif dalam mengelola pola cuaca.
Dengan demikian, penaburan garam di awan bertujuan agar presipitasi terkonsentrasi di perairan. Hal ini mencegah curah hujan tinggi mencapai wilayah daratan Jakarta dan sekitarnya.
Koordinasi Lintas Lembaga dan Aspek Lingkungan
BPBD DKI Jakarta menjamin bahwa Operasi Modifikasi Cuaca tidak menimbulkan dampak negatif terhadap alam. Semua prosedur dilakukan sesuai aturan dan perhitungan ilmiah yang ketat. Hal ini untuk memastikan keberlanjutan lingkungan.
Yohan menekankan bahwa OMC merupakan ilmu yang selaras dengan hukum alam. "OMC ini kan ilmu yang diturunkan sama Allah juga ya. Jadi, bukan melawan kehendak," ujarnya. Prinsip hukum kekekalan energi berlaku, di mana energi hujan hanya dialihkan, bukan dihilangkan.
Pelaksanaan OMC ini merupakan kerja sama terpadu antara BPBD DKI Jakarta, BMKG, dan TNI Angkatan Udara (TNI AU). Keterlibatan berbagai lembaga menunjukkan komitmen serius dalam mitigasi bencana.
Posko operasi dipusatkan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Pesawat CASA 212 A-2105 milik TNI AU digunakan untuk menyemai bahan modifikasi cuaca.
Detail Pelaksanaan Hari Pertama Operasi Modifikasi Cuaca
Pada hari pertama Operasi Modifikasi Cuaca, Jumat (16/1), BPBD DKI Jakarta telah menyemai total 1,6 ton garam (NaCl). Bahan semai ini digunakan untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem di wilayah Jakarta.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Isnawa Adji, menjelaskan bahwa pada hari pertama dilakukan dua sorti penerbangan. Sorti pertama berlangsung pukul 13.28–14.48 WIB, dengan 800 kg NaCl disemai pada ketinggian 8.000-12.000 kaki.
Sorti kedua dilaksanakan pada pukul 15.40-17.30 WIB, dengan ketinggian terbang 9.000 kaki. Jumlah bahan semai yang digunakan pada sorti kedua juga seberat 800 kg NaCl. Total bahan semai mencapai 1.600 kilogram garam.
Fokus penyemaian pada hari pertama ini adalah di wilayah perairan Selat Sunda. Strategi ini merupakan bagian dari mitigasi dini untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan sebelum bergerak menuju daratan Jakarta.
Sumber: AntaraNews