BPBD Jakarta Semai 2,4 Ton NaCl di Langit Ibu Kota, Antisipasi Cuaca Ekstrem dengan Modifikasi Cuaca
BPBD Jakarta menyemai 2,4 ton NaCl di langit Ibu Kota sebagai bagian dari operasi Modifikasi Cuaca Jakarta untuk mencegah cuaca ekstrem. Bagaimana dampaknya?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta telah mengambil langkah proaktif dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Pada hari kedua operasi modifikasi cuaca (OMC), sebanyak 2,4 ton natrium klorida (NaCl) disemai di langit Ibu Kota.
Langkah strategis ini bertujuan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dan mengatur distribusi curah hujan. Dengan demikian, curah hujan diharapkan tidak terkonsentrasi secara berlebihan di daratan Jakarta yang padat penduduk.
Operasi Modifikasi Cuaca Jakarta ini merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana yang terus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tujuannya adalah untuk meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan genangan.
Upaya BPBD DKI Jakarta Hadapi Cuaca Ekstrem
Dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi ekstrem, BPBD Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Kerja sama ini krusial untuk memastikan pelaksanaan Modifikasi Cuaca Jakarta berjalan efektif.
Mohamad Yohan, Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, menjelaskan bahwa OMC ini adalah bentuk kesiapsiagaan. "Melalui kerja sama dengan BMKG dan TNI AU, kami berupaya mengatur distribusi curah hujan agar tidak terkonsentrasi di daratan Jakarta," ujarnya.
Pada hari kedua pelaksanaan operasi ini, bahan semai higroskopis yang digunakan mencapai 2,4 ton. Jumlah ini setara dengan 2.400 kilogram NaCl yang disebarkan ke awan-awan potensial di atas wilayah target.
Mekanisme dan Pelaksanaan Operasi Penyemaian Awan
Bahan semai higroskopis, dalam hal ini NaCl atau garam dapur, memiliki sifat mudah menyerap uap air dari udara. Sifat inilah yang dimanfaatkan dalam operasi penyemaian awan untuk mempercepat proses kondensasi dan pembentukan butiran air hujan.
Pelaksanaan operasi Modifikasi Cuaca Jakarta pada hari kedua melibatkan penggunaan pesawat Casa A-2114 milik TNI AU. Pesawat ini melakukan tiga misi penerbangan yang terencana dengan baik, yaitu misi pertama pada pukul 09.24–11.38 WIB, misi kedua pukul 12.39–14.31 WIB, dan misi ketiga pukul 15.13–17.12 WIB.
Yohan menegaskan bahwa operasi ini adalah bagian integral dari strategi mitigasi bencana Pemprov DKI Jakarta. "OMC dilaksanakan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi peningkatan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya," katanya, menyoroti pentingnya langkah preventif ini.
Target Area dan Pemantauan Kondisi Awan
Hasil observasi lapangan menunjukkan adanya kondisi awan yang cukup potensial di area target, khususnya di Pandeglang dan perairan selatan Pandeglang. Di lokasi tersebut, terpantau awan jenis Cumulus Congestus dengan puncak mencapai sekitar 12.000 kaki.
Awan Cumulus Congestus merupakan indikator kuat adanya pertumbuhan awan hujan dan merupakan tahap sebelum awan tersebut berkembang menjadi cumulonimbus, yaitu awan badai. Selain itu, angin pada ketinggian 5.000–10.000 kaki bertiup dari arah barat hingga utara dengan kecepatan 22–26 knot.
Meskipun cuaca di perairan barat Kabupaten Serang (Selat Sunda) cenderung cerah, wilayah selatan Pandeglang didominasi oleh awan Cumulus Congestus yang menjadi target utama penyemaian. "Pelaksanaan OMC ini akan terus menyesuaikan dengan kondisi atmosfer harian yang dimonitor oleh BMKG," tambah Yohan. Tujuannya adalah agar curah hujan dapat diurai di perairan sekitar Jakarta, sehingga potensi genangan dan banjir di Ibu Kota dapat ditekan secara signifikan.
Sumber: AntaraNews