BPBD Tebar 2,4 Ton Bahan Semai dalam Operasi Modifikasi Cuaca Jakarta untuk Mitigasi Cuaca Ekstrem
BPBD DKI Jakarta melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menebar 2,4 ton bahan semai untuk mengurangi potensi hujan ekstrem dan mitigasi bencana hidrometeorologi di Jakarta dan sekitarnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta telah melaksanakan hari keenam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi terhadap cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi. Dalam operasi ini, sebanyak 2,4 ton bahan semai yang terdiri dari natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) ditebarkan. Upaya ini merupakan bagian dari strategi mitigasi berkelanjutan untuk menjaga wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya dari dampak cuaca buruk.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC didasarkan pada pemantauan dan analisis meteorologi yang terus-menerus. Tujuannya adalah untuk secara signifikan mengurangi potensi hujan ekstrem yang dapat memicu bencana.
Operasi ini menjadi krusial mengingat prediksi cuaca yang menunjukkan potensi kondisi yang lebih ekstrem. BMKG memperkirakan bahwa cuaca pada hari ini, 21 Januari, akan lebih parah dibandingkan kejadian banjir pada 12 dan 18 Januari lalu.
Upaya Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca oleh BPBD DKI Jakarta merupakan respons proaktif terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Dengan menebar bahan semai, diharapkan pertumbuhan awan hujan dapat dikendalikan sebelum mencapai daratan, sehingga mengurangi intensitas curah hujan di wilayah padat penduduk. Langkah ini penting untuk mencegah banjir dan genangan yang sering melanda ibu kota saat musim hujan ekstrem.
Mohamad Yohan menegaskan bahwa OMC adalah bagian integral dari strategi mitigasi bencana di Jakarta. Analisis meteorologi yang cermat menjadi dasar penentuan waktu dan lokasi penyemaian awan, memastikan efektivitas operasi dalam mengendalikan cuaca. Fokusnya adalah meluruhkan awan hujan di perairan sebelum bergerak ke daratan.
Selain itu, operasi ini juga bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan awan di wilayah barat agar hujan tidak terkonsentrasi di daratan Jakarta. Sementara di wilayah timur, penyemaian CaO dilakukan untuk menekan intensitas awan hujan.
Rincian Operasi Modifikasi Cuaca Hari Keenam
OMC hari keenam melibatkan tiga kali penerbangan menggunakan pesawat CASSA 212 A-2105, yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma. Total 2,4 ton bahan semai, yaitu NaCl dan CaO, digunakan dalam operasi ini. Setiap penerbangan memiliki target area dan ketinggian yang spesifik untuk memaksimalkan dampaknya.
Penerbangan pertama difokuskan di Perairan Selat Sunda, pada ketinggian 10.000–11.000 kaki, dengan menyemai 800 kilogram NaCl. Targetnya adalah awan cumulus mediocris yang berpotensi membawa hujan ke Jabodetabek, dengan tujuan agar presipitasi terkonsentrasi di perairan.
Penerbangan kedua juga menyasar Perairan Selat Sunda, pada radial 250–300 dan jarak 80–110 mil laut dari Halim, dengan ketinggian 8.000–12.000 kaki. Sebanyak 800 kilogram NaCl kembali ditebarkan untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan di wilayah perairan barat.
Terakhir, penerbangan ketiga berlokasi di atas Kabupaten Bekasi, pada ketinggian 5.000–7.000 kaki, menggunakan 800 kilogram kalsium oksida (CaO). Tujuan penyemaian ini adalah menekan intensitas awan hujan di wilayah timur yang dapat memengaruhi kondisi cuaca DKI Jakarta.
Prakiraan Cuaca Ekstrem dan Proyeksi OMC
Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, memberikan peringatan mengenai potensi cuaca yang lebih ekstrem pada 21 Januari. Menurutnya, kondisi atmosfer hari ini menunjukkan potensi cuaca yang lebih parah dibandingkan dengan kejadian banjir pada 12 dan 18 Januari lalu.
Meskipun demikian, berdasarkan prakiraan cuaca ke depan, risiko bencana hidrometeorologi masih berada pada kategori menengah. Oleh karena itu, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sementara direncanakan akan berlanjut hingga 22 Januari 2026.
Perpanjangan operasi ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi tantangan cuaca. Koordinasi antara BPBD dan BMKG menjadi kunci dalam menentukan langkah-langkah mitigasi yang efektif.
Sumber: AntaraNews