Apa Itu Sesar Baribis? Patahan Aktif Berpotensi Memicu Gempa Jabodetabek
Sesar Baribis adalah patahan aktif yang berpotensi memicu gempa di Jabodetabek.
Pada Rabu, (20/8), gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,9 mengguncang Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pusat gempa terletak sekitar 14 kilometer tenggara Kabupaten Bekasi dengan kedalaman 10 kilometer.
Gempa ini terasa hingga Jakarta, Depok, Tangerang, dan Purwakarta, memicu pertanyaan mengenai apa itu Sesar Baribis. Sesar ini dikenal sebagai salah satu sesar aktif yang berpotensi memicu gempa di wilayah Jabodetabek.
Sesar Baribis adalah patahan aktif yang membentang dari timur hingga barat Pulau Jawa, menjadikannya sesar terpanjang di pulau tersebut. Sesar ini merupakan jenis sesar naik yang terbentuk sejak zaman Pliosen.
Memahami Apa Itu Sesar Baribis
Sesar Baribis membentang dari Purwakarta hingga perbukitan Baribis di Kabupaten Majalengka, dengan panjang sekitar 100 kilometer. Jalur sesar ini terdiri dari beberapa segmen, termasuk segmen Bekasi-Purwakarta dan segmen Jakarta yang melintas di selatan Jakarta sepanjang 25 kilometer.
Penelitian geofisika menunjukkan bahwa Sesar Baribis masih aktif dan mengalami pergerakan sekitar 1 hingga 5 milimeter per tahun. Beberapa segmennya diyakini masih terkunci, yang berarti ada potensi energi yang dapat dilepaskan dalam bentuk gempa signifikan di masa depan.
Dampak Sesar Baribis
Sesar Baribis menyimpan potensi seismik besar yang mengancam wilayah padat penduduk seperti Jabodetabek.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, pernah menyatakan pada 2022 bahwa jalur Sesar Baribis memiliki potensi gempa yang signifikan.
Jakarta dan sekitarnya rentan terhadap dampak gempa dari Sesar Baribis karena beberapa faktor. Jenis tanah yang lunak dan mengendap di wilayah utara Jakarta dapat memperkuat getaran gempa, sedangkan penurunan permukaan tanah memperlemah fondasi bangunan.
Dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan pembangunan infrastruktur yang pesat, jika Sesar Baribis kembali bergeser, dampak dan kerugian yang timbul bisa sangat signifikan. Oleh karena itu, diperlukan riset intensif dan koordinasi kebijakan untuk mitigasi bencana.