Penelitian Terbaru Tunjukan Sesar Lembang Bergerak 1,9 hingga 3,4 Milimeter Tiap Tahun
Penelitian terbaru menunjukkan, sesar ini bergeser dengan kecepatan antara 1,9 hingga 3,4 milimeter setiap tahun.
Sesar Lembang yang membentang sepanjang hampir 29 kilometer dari Padalarang hingga Cimenyan dipastikan aktif dan terus bergerak.
Penelitian terbaru menunjukkan, sesar ini bergeser dengan kecepatan antara 1,9 hingga 3,4 milimeter setiap tahun.
Meski terlihat kecil, pergeseran ini sangat berbahaya jika terakumulasi ratusan tahun. Akumulasi energi pada sesar berpotensi memicu gempa bumi besar dengan kekuatan magnitudo 6,5 hingga 7.
“Hal ini terbukti dari hasil penelitian paleoseismologi melalui penggalian parit di kilometer 11,5, yang menemukan adanya pergeseran setinggi 40 sentimeter. Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lalu pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7,” kata Mudrik R. Daryono, periset Geologi Gempa Bumi BRIN, dalam keterangan resminya pada Agustus lalu dikutip, Kamis (28/8)
Penelitian paleoseismologi juga mengungkap bahwa gempa besar terakhir di Sesar Lembang diperkirakan terjadi pada abad ke-15, sementara catatan paling tua ditemukan sekitar 19 ribu tahun lalu. Para ahli memperkirakan gempa besar berulang dalam siklus 170–670 tahun.
“Jika mengacu pada siklus ulang gempa besar yang telah diperkirakan, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang,” jelas Mudrik.
Gunung Batu Bisa Naik 40 cm
Salah satu bukti nyata aktivitas Sesar Lembang dapat dilihat di kawasan Gunung Batu, Lembang, yang berada di kilometer 17 jalur sesar.
Mudrik menyebut, dalam satu kejadian gempa, permukaan tanah di lokasi ini bisa mengalami kenaikan signifikan.
“Gunung Batu bisa naik hingga 40 sentimeter dalam sekali kejadian gempa. Naik atau gesernya permukaan ini adalah bagian dari aktivitas sesar yang menghasilkan gempa bumi,” terangnya.
Mudrik menambahkan, gempa-gempa kecil yang akhir-akhir ini tercatat di wilayah Bandung, terutama di segmen Cimeta dan Sesar Kertasari, merupakan bagian dari dinamika normal sistem sesar aktif.
Namun, ia menegaskan ilmu kebumian belum mampu memastikan apakah gempa kecil tersebut hanya pelepasan energi sesar berskala kecil atau justru awal dari gempa besar.
Karena itu, BRIN bersama BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah terus melakukan riset, pemetaan, serta edukasi publik mengenai Sesar Lembang.
Tujuannya bukan menimbulkan kecemasan, melainkan mendorong kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.