AI Kini Jadi Sandaran Remaja Putri di Jepang Buat Curhat Masalah Hati
Laporan Kyodo News yang dirilis Jumat (1/5/2026), menyebut tren ini paling menonjol di kalangan perempuan muda.
Remaja putri di Jepang kini mulai bergantung pada kecerdasan buatan (AI) generatif untuk urusan hati. Hal itu berdasarkan survei terbaru Pemerintah Jepang.
Laporan Kyodo News yang dirilis Jumat (1/5/2026), menyebut tren ini paling menonjol di kalangan perempuan muda.
Berdasarkan survei Kantor Kabinet Jepang, sebanyak 52,4 persen remaja putri mengaku menggunakan AI untuk berkonsultasi mengenai kekhawatiran mereka.
Mereka disebut-sebut memuncaki posisi tertinggi dibanding kelompok usia maupun gender lainnya.
Sebagai perbandingan, hanya sekitar 30 persen perempuan usia 20–40 tahun yang melakukan hal serupa.
Sementara di kelompok pria, minat curhat ke AI jauh lebih rendah, dengan angka tertinggi hanya 29,1 persen pada kelompok usia 30-an.
Mengapa Memilih AI?
Survei terhadap 1.442 pengguna ini juga memotret tingkat kepercayaan yang mengejutkan. Sekitar 63,1 persen remaja putri mengaku sangat mempercayai saran AI terkait hubungan personal dan interaksi sosial.
Selain praktis dan hemat waktu, sekitar 10 persen responden merasa kehadiran AI sangat membantu mengurangi rasa kesepian.
Meski mayoritas tidak merasakan dampak negatif, sebagian kecil pengguna mengaku mulai khawatir karena terlalu bergantung pada AI sehingga jarang mengasah daya pikir mereka sendiri.