BMKG Catat 59 Gempa Kecil di Selat Lombok, Warga Bali Diminta Waspada
BMKG mencatat 59 gempa kecil di Selat Lombok dalam dua hari. Meski tak dirasakan di Bali, warga Bali Timur diminta meningkatkan kewaspadaan.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar mencatat peningkatan aktivitas gempa bumi tektonik di Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam kurun 5–7 Januari 2026, terdeteksi 59 kejadian gempa dengan magnitudo kecil.
Ketua Kelompok Kerja Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Denpasar, Dwi Hartanto, menyampaikan seluruh gempa memiliki pusat di laut dengan magnitudo berkisar 1,4 hingga 2,8 dan kedalaman dangkal.
“Sampai saat ini tidak dirasakan di Bali, dari gempa yang sebanyak itu 59 kali itu. Kan letaknya di tengah laut, terus agak jauh juga dari darat. Jadi, gempanya magnitude-nya paling besar 2,8. Jadi tidak ada yang dirasakan itu,” kata Dwi saat dikonfirmasi, Rabu (7/1).
Berdasarkan analisis BMKG, rangkaian gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut, dengan episenter yang berdekatan satu sama lain.
BMKG Ingatkan Potensi Dampak ke Bali Timur
Meski belum menimbulkan getaran di Pulau Bali, BMKG mengingatkan masyarakat, khususnya di wilayah Bali Timur seperti Kabupaten Karangasem, untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Tapi kami buat press rilis agar masyarakat mewaspadai. Gempa itu ada tipenya, gempa pembuka dulu, kemudian ada gempa utamanya (gempa besar),” ujar Dwi.
Ia menjelaskan, hingga kini belum dapat dipastikan apakah rentetan gempa tersebut merupakan aktivitas biasa atau bagian dari proses awal sebelum gempa yang lebih besar.
“Karena sampai saat ini, kami belum bisa memprediksi gempa kecil ini apakah dia gempa pembuka dulu, atau memang hanya rentetan gempa saja. Bisa jadi dia hanya rentetan gempa saja, kalau rentetan gempa saja iya masyarakat tidak perlu khawatir,” jelasnya.
Namun, potensi dampak tetap diwaspadai apabila terjadi gempa utama dengan magnitudo lebih besar.
“Tapi yang kami takutkan nanti tiba-tiba dia muncul gempa utamanya yang lebih besar, dan berdampak di bagian utamanya daerah Bali Timur, di Karangasem,” lanjut Dwi.
BMKG juga menilai aktivitas gempa tersebut tidak tergolong normal karena terjadi berulang dalam waktu singkat dan di lokasi yang relatif sama.
“Enggak normal. Karena dia sering sekali. Ini kan sudah sampai dua hari ini sudah puluhan kali, di tempat yang hampir sama. Biasanya, kalau gempa-gempa biasa, sekali terus pindah lagi titik gempanya,” ungkapnya.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri apabila merasakan gempa kuat dan berlangsung lama, melindungi kepala, menjauhi bangunan rapuh, serta menjauh dari wilayah pantai.
“Jadi kalau misalnya masyarakat merasakan gempa bumi yang kuat dan lama, segera saja untuk melakukan evakuasi mandiri keluar rumah. Kalau yang dekat pantai segera saja menjauhi pantai,” kata Dwi.