221 Gempa Tektonik Terjadi di Selat Lombok
Rangkaian gempa bumi tersebut tergolong gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut.
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, mencatat sudah 221 rentetan gempa bumi tektonik dengan magnitudo kecil di wilayah Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dwi Hartanto, Ketua Kelompok Kerja Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Denpasar, mengatakan berdasarkan hasil analisis BMKG, tercatat sebanyak 221 kejadian gempa bumi dengan episenter di laut dan magnitudo berkisar antara 1,4 hingga 2,8.
"Selama periode tanggal 5 hingga 8 Januari 2026 hingga pukul 12.00 WITA, wilayah Selat Lombok mengalami peningkatan aktivitas gempa bumi tektonik. Tercatat sebanyak 221 kejadian gempa bumi," kata Dwi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/1).
Ia menyebutkan, ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, rangkaian gempa bumi tersebut tergolong gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut.
Mengingat dinamika bumi yang kompleks, gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti.
"Oleh karena itu, peningkatan pemahaman masyarakat melalui sosialisasi dan simulasi kebencanaan sangat diperlukan guna mengurangi risiko kerugian dan korban jiwa," ujarnya.
Sebagai upaya mendukung program zero victim, masyarakat diimbau untuk menerapkan langkah mitigasi mandiri saat merasakan gempa bumi kuat dan lama, seperti melindungi kepala, menjauhi kaca dan bangunan rapuh, menjauhi wilayah pantai, serta menuju area terbuka untuk mengantisipasi adanya gempa bumi susulan.
59 Rentetan Gempa
Sebelumnya, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, mencatat 59 rentetan gempa bumi tektonik dengan magnitudo kecil di wilayah Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dwi Hartanto selaku Ketua Kelompok Kerja Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Denpasar, mengatakan rentetan gempa di Selat Lombok itu juga harus diwaspadai oleh warga Bali, terutama di Bali bagian timur seperti di Kabupaten Karangasem.
Dwi mengatakan, kendati sampai saat ini rentetan gempa itu tidak dirasakan hingga Pulau Bali, tetapi harus diwaspadai karena bisa saja itu memicu gempa yang lebih besar.
"Sampai saat ini tidak dirasakan di Bali, dari gempa yang sebanyak itu 59 kali itu. Kan letaknya di tengah laut, terus agak jauh juga dari darat. Jadi, gempanya magnitude-nya paling besar 2,8. Jadi tidak ada yang dirasakan itu," kata Dwi, saat dikonfirmasi Rabu (7/12).
"Tapi kami buat press rilis agar masyarakat mewaspadai. Gempa itu ada tipenya, gempa pembuka dulu, kemudian ada gempa utamanya (gempa besar)," ujarnya