Pemkab Barito Utara Perkuat Optimalisasi Energi Baru Terbarukan untuk Pembangunan Berkelanjutan
Pemerintah Kabupaten Barito Utara serius mengoptimalkan kebijakan Energi Baru Terbarukan (EBT) guna mendukung pembangunan kewilayahan di Kalimantan Tengah, menyikapi menipisnya cadangan energi fosil dan dinamika geopolitik global.
Pemerintah Kabupaten Barito Utara mengambil langkah strategis dengan mengoptimalkan penguatan kebijakan Energi Baru Terbarukan (EBT). Upaya ini bertujuan untuk mendukung pembangunan kewilayahan, khususnya di zona timur Provinsi Kalimantan Tengah. Isu EBT menjadi semakin relevan di tengah kondisi menipisnya cadangan energi fosil secara global.
Sekretaris Daerah (Sekda) Barito Utara, Muhlis, mengungkapkan bahwa wilayahnya masih sangat bergantung pada energi konvensional. Pernyataan ini disampaikan dalam koordinasi dan pengumpulan data kajian bersama Tim Manajemen Riset dan Inovasi Daerah Regional 7 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Muara Teweh. Ketergantungan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Meskipun sektor pertambangan dan gas memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan daerah, ketergantungan pada sumber daya tidak terbarukan dinilai perlu segera diimbangi. Pengembangan EBT menjadi prioritas untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. Kolaborasi dengan BRIN diharapkan dapat mempercepat transisi energi ini.
Tantangan Ketergantungan Energi Fosil di Barito Utara
Barito Utara saat ini masih sangat bergantung pada sumber energi konvensional seperti batu bara dan gas alam. Sektor pertambangan secara signifikan mendominasi struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah tersebut. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar dalam mencapai kemandirian energi yang berkelanjutan.
Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Barito Utara mencapai 35,53 persen pada tahun 2025, bahkan pernah menyentuh angka 48,76 persen pada tahun 2022. Angka-angka ini menunjukkan dominasi yang sangat kuat dari sektor non-terbarukan. Ketergantungan ekonomi pada satu sektor berisiko tinggi terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Meskipun daerah ini memiliki potensi energi gas dari Blok Bangkanai di Kecamatan Lahei yang memasok sekitar 20 juta kaki kubik gas per hari untuk PLTMG Bangkanai, Muhlis menegaskan bahwa gas bukanlah energi terbarukan. Ia menjelaskan, “Gas memang termasuk energi baru, tetapi tidak dapat diperbarui. Cepat atau lambat akan mengalami penurunan hingga kelangkaan.” Hal ini menggarisbawahi urgensi mencari alternatif energi.
Pada tahun 2025, Barito Utara menerima dana bagi hasil (DBH) sekitar Rp2,9 triliun dari sektor pertambangan dan gas. Meskipun pendapatan ini vital bagi daerah, ketergantungan pada sumber daya tidak terbarukan perlu segera diseimbangkan dengan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Diversifikasi sumber energi akan memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Kolaborasi BRIN dan Harapan Pengembangan EBT Lokal
Koordinasi yang dilakukan dengan Tim Manajemen Riset dan Inovasi Daerah Regional 7 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merupakan momentum penting. Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga riset nasional. Kolaborasi ini krusial untuk mendorong inovasi di sektor energi.
Sekda Muhlis berharap kehadiran tim BRIN dapat membawa perubahan signifikan dalam pola pikir dan strategi pembangunan daerah. Ia menginginkan adanya inovasi dan terobosan konkret dalam menggali potensi energi terbarukan yang dimiliki Barito Utara. Potensi EBT di daerah ini perlu diidentifikasi dan dikembangkan secara optimal.
Optimalisasi potensi Energi Baru Terbarukan di Barito Utara menjadi fokus utama dari kolaborasi ini. Hal ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga mendorong kemajuan daerah secara keseluruhan. Pengembangan EBT dapat menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Muhlis menambahkan, “Semoga ini menjadi awal dari langkah besar kita untuk mewujudkan Barito Utara yang maju, tumbuh pesat, sejahtera, dan berkeadilan.” Sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga riset nasional seperti BRIN adalah kunci untuk mencapai visi pembangunan berkelanjutan ini. Pengembangan EBT adalah investasi untuk masa depan.
Sumber: AntaraNews