7 Langkah Antisipasi Ancaman Sesar Lembang Menurut BMKG Bandung
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung mengungkapkan tujuh langkah yang perlu diambil bersiap hadapi Sesar Lembang.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung telah mengeluarkan tujuh langkah kesiapsiagaan untuk menghadapi aktivitas dari Sesar Lembang.
Koordinator Lembang Framework dan Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa BMKG secara rutin memantau aktivitas Sesar Lembang melalui jaringan sensor Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) serta Lembang Framework.
"Dari hasil monitoring BMKG sejak tanggal 25 Juli - 20 Agustus 2025 terdapat 6 aktivitas kegempaan dengan magnitudo berkisar antara M1,7 sd M2,3 di bagian sebelah barat Sesar Lembang yaitu segmen Cimeta, dengan intensitas terbesar mencapai skala II-III MMI," jelas Teguh.
Ia juga menyampaikan bahwa para ahli telah melakukan penelitian mengenai potensi dampak gempa dari Sesar Lembang yang bisa mencapai magnitudo maksimum M 6,8, yang perlu diwaspadai.
Catatan dari otoritas menunjukkan bahwa saat ini hanya dua segmen yang aktif, dengan panjang kurang lebih 10 kilometer, yang dapat memicu gempa bumi dengan potensi magnitudo maksimum M 5,5.
Berdasarkan skenario peta guncangan gempa bumi M 5,5, wilayah Kabupaten Bandung Barat diprediksi akan mengalami dampak guncangan berkisar antara V--VI MMI (62--120 gal), yang dapat mengakibatkan kerusakan ringan.
"Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak," jelas Teguh.
Ia menambahkan bahwa Sesar Lembang memiliki panjang sekitar 29 km yang terbagi menjadi enam segmen, meliputi wilayah Kabupaten Bandung Barat seperti Ngamprah, Cisarua, Parongpong, Lembang, serta bagian dari Kabupaten Bandung yang mencakup Cimenyan dan Cilengkrang, sebelum berakhir di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.
Meskipun Sesar Lembang terbagi menjadi enam segmen seperti Cimeta, Cipogor, Cihideung, Gunung Batu, Cikapundung, dan Batu Lonceng, tidak semua segmen aktif secara bersamaan.
"Aktivitas kegempaan terkini lebih dominan di segmen Cimeta dan Cipogor, sedangkan segmen lainnya relatif tenang," ungkap Teguh.
Data terbaru menunjukkan bahwa segmen Cimeta dan Cipogor saat ini adalah bagian yang sedang aktif, terletak di sebelah barat Sesar Lembang yang melintasi Kecamatan Ngamprah dan Cisarua.
Tujuh langkah antisipasi Sesar Lembang
Stasiun Geofisika Bandung mengeluarkan catatan dan penelitian ilmiah yang mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak aktivitas Sesar Lembang.
Dalam hal ini, terdapat tujuh langkah kesiapsiagaan yang disarankan oleh Stasiun Geofisika Bandung:
- Pastikan bangunan yang digunakan aman dan tahan gempa, dengan struktur yang kokoh menggunakan besi tulangan serta mengikuti kode bangunan yang berlaku.
- Siapkan rambu-rambu jalur evakuasi, baik di lingkungan keluarga, lingkungan RTRW, maupun di area publik.
- Lakukan pengukuran mikrozonasi untuk memetakan potensi tingkat guncangan gempa di wilayah Bandung Barat.
- Latih diri untuk melindungi diri saat terjadi gempa, seperti dengan cara menjatuhkan tangan dan lutut ke tanah, melindungi kepala dan leher di bawah perabotan yang kokoh, serta berpegangan erat pada tempat berlindung (Drop-Cover-Hold On).
- Sediakan peralatan untuk keadaan darurat, seperti Tas Siaga Bencana, dan pahami keterampilan menyelamatkan diri serta tindakan yang tepat saat gempa terjadi. Setelah guncangan mereda, baru keluar dari rumah.
- Perkuat upaya mitigasi bencana, baik secara struktural maupun kultural.
- Lakukan edukasi secara luas mengenai potensi gempa, dampaknya, serta cara mitigasinya.
Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan bencana gempa yang dapat terjadi di wilayah mereka.
Kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi risiko dan dampak yang mungkin ditimbulkan dari aktivitas seismik.