12.944 Pengungsi Masih Bertahan di Tenda di Aceh dan Sumut
DPR dan pemerintah membahas percepatan rehabilitasi pascabencana Sumatera. Sebanyak 12.944 pengungsi masih bertahan di tenda di Aceh dan Sumut.
Kepala Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera sekaligus Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, menyampaikan bahwa hingga kini masih terdapat pengungsi di Provinsi Sumatera Utara dan Aceh.
"Pengungsi juga tadinya 2 juta lebih, sekarang menjadi lebih kurang 12.944 yang ada di tenda," kata Tito dalam rapat.
Tito menjelaskan, total wilayah terdampak bencana meliputi 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, dan 4.511 desa di sejumlah provinsi Sumatera.
Ia menambahkan, kondisi di Sumatera Barat saat ini sudah tidak terdapat pengungsi.
"Untuk Sumatera Barat pengungsi saat ini sudah nol dari sebelumnya 16.164. Ada yang sudah pulang kembali mendapatkan bantuan stimulan untuk rumah rusak ringan maupun sedang, sedangkan yang berat atau hilang tinggal di huntara maupun mendapatkan dana tunggu hunian," katanya.
"Untuk Sumatra Barat, 16 dari 19 kabupaten yang ada terdampak, 125 kecamatan, dan desa 568," lanjut Tito.
Pengungsi Masih Tersisa di Sumut dan Aceh
Di Sumatera Utara, Tito menyebut masih terdapat 850 pengungsi yang berada di satu lokasi di Kabupaten Tapanuli Tengah. Selain itu, tercatat 376 korban meninggal dunia dan 40 orang dinyatakan hilang.
"Pengungsi yang semula 53.523 itu ada 850 lagi. Ini ada di satu tempat saja yaitu di Tapanuli Tengah, di samping ada kerusakan rumah lebih kurang 30.000 lebih baik yang rumah ringan, sedang, maupun berat sudah kami klasifikasikan sebagaimana dalam data di sebelah kanan atas," jelas Tito.
Sementara di Provinsi Aceh, jumlah pengungsi mencapai 12.144 orang, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Aceh Utara.
"Untuk jumlah korban pengungsi sebagaimana data, untuk di Provinsi Aceh ada 12.144. Yang terbanyak adalah di Kabupaten Aceh Utara 5.197 yang masih ada di tenda. Kemudian diikuti Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, kemudian Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, kemudian di Lhokseumawe dan Nagan Raya," kata Tito.