Merencanakan Jakarta jadi Global City, Realistiskah?
Jakarta punya mimpi menjadi salah satu Global City. Untuk itu, segala daya dan upaya kini sedang dilakukan.
Jakarta punya mimpi menjadi salah satu Global City. Untuk itu, segala daya dan upaya kini sedang dilakukan. Namun, dengan sejumlah persoalan klasik seperti kemacetan dan banjir, seberapa realistis rencana tersebut?
Dean, Cities, & Local Government Institute UCLG Asia Pasific, Bambang Susantono mengatakan rencana itu bisa dibilang realistis tergantung dari beragam faktor.
“Kalau ditanya seberapa realistis? Ya, itu tergantung,” kata dia saat acara diskusi Road to Congress of Diaspora Indonesia 8 di Balaikota Jakarta, Kamis (10/7).
Bambang menyebut untuk bisa menjadi Global City, Jakarta membutuhkan pembangunan double track yang harus segera dilaksanakan. Terutama bagaimana pemerintah provinsi ini dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya, termasuk menangani macet, banjir, dan persoalan lainnya.
“Semua itu bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar menuju liveable city atau kota layak huni. Maka, harus ada program dan langkah-langkah yang jelas ke arah sana. Ini membutuhkan usaha yang tidak ringan, karena persoalan tersebut sudah dialami bertahun-tahun,” jelasnya.
Selain itu, Jakarta juga perlu melakukan lompatan-lompatan inovasi menuju ke arah sana. Hal ini karena peringkat Jakarta dianggap turun. Bukan semata kesalahan Jakarta, tetapi karena kota-kota lain melompat lebih cepat. Jadi harus ada lompatan dalam pemenuhan kebutuhan, termasuk di bidang teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.
“Untuk aspek kota layak huni, kita harus fokus pada layanan untuk warganya. Ada istilah 3A yakni Accessible, Affordable, dan Attractive. Kalau ingin melompat lebih jauh, kita juga butuh tambahan SDM yang sudah disebut penting oleh Pak Gubernur tadi,” ungkap dia.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan sejak awal pemerintahannya fokus utama yang menjadi pembenahan adalah sumber daya manusia. Ia mengakui bahwa dalam setiap perubahan zaman dan teknologi, Indonesia selalu tertinggal dalam banyak hal, terutama sumber daya manusia.
“Maka untuk itu, di awal-awal pemerintahan, saya betul-betul konsentrasi melakukan pemenahan sumber daya manusia di Jakarta,” ujar dia saat membuka acara Road to Congress of Indonesia Diaspora 8.