Merajut Asa dari Lurik: UMKM diOpeni Dorong Pemberdayaan Perempuan Bersama Rumah BUMN BRI Malang
diOpeni di Malang tak sekadar usaha lurik, tapi gerakan pemberdayaan perempuan yang tumbuh bersama dukungan Rumah BUMN BRI.
Tidak semua usaha lahir hanya untuk mengejar keuntungan. Di Malang, sebuah UMKM bernama diOpeni justru tumbuh dengan semangat yang lebih besar, memberdayakan perempuan agar tetap produktif, mandiri, dan berdaya dari ruang terdekat mereka.
Di balik usaha berbasis kain lurik ini, ada sosok Peni Budi Astuti yang perlahan membangun bukan hanya bisnis, tetapi juga ruang kolaborasi bagi perempuan di sekitarnya. Bersama dukungan Rumah BUMN Malang, perjalanan diOpeni berkembang menjadi bukti bahwa usaha kecil pun bisa menghadirkan dampak sosial yang nyata.
Berawal dari Rasa Sepi, Lahir Ide Usaha Kreatif
Perjalanan Peni di Malang dimulai sejak 2007, ketika ia pindah bersama suami dan tiga anaknya. Seiring waktu, ketika anak-anak mulai tumbuh besar, aktivitas di rumah berkurang. Dari situlah muncul keinginan untuk mencari kegiatan yang lebih produktif.
"Ketika anak-anak sudah besar, saya merasa sepi di rumah karena tidak ada kegiatan. Akhirnya mulai berpikir, bagaimana agar saya memiliki teman. Saya pun mendapatkan ide mendirikan kursus gratis saat itu yang ditujukan untuk siapa saja yang mau belajar, yaitu pelatihan manik-manik," cerita Peni.
Meski sempat terhenti, pengalaman tersebut menjadi pijakan awal. Peni kemudian mulai merintis usaha yang memiliki ciri khas berbeda. Ia memilih kain lurik sebagai bahan utama, lalu mengolahnya menjadi daster dengan sentuhan bordir khas Malang.
"Produk awalnya itu adalah daster lurik dengan motif bordir, yang mana saya ingin mengangkat bordir ini adalah ikonnya kota Malang. Produk ini memiliki keunggulan yaitu model dan motifnya tidak ada yang sama. Kami menerapkan Zero Waste, artinya menolak sampah yang dihasilkan dari usaha kita. Karena dari perca-perca ini kita olah lagi menjadi produk yang bernilai ekonomi," ujar Peni.
Tak berhenti di satu produk, diOpeni kini telah mengembangkan sekitar 12 hingga 15 varian, mulai dari tas, bantal duduk, bantal leher, topi, masker, hingga sandal. Semua produk tetap mengusung konsep ramah lingkungan.
Dukungan Rumah BUMN BRI Jadi Katalis Pertumbuhan
Perjalanan diOpeni semakin menemukan arah ketika Peni bergabung dengan Rumah BUMN Malang pada 2017. Bagi Peni, tempat ini bukan sekadar pusat pelatihan, melainkan ruang belajar sekaligus ekosistem yang mendukung UMKM untuk berkembang.
"Di BRI, wadahnya benar-benar nyata. Pelatihannya sangat lengkap karena menyesuaikan kebutuhan UMKM, mulai dari cara tata kelola keuangan, business plan, hingga strategi pemasaran di media sosial. Bahkan, kami difasilitasi pengurusan legalitas seperti sertifikasi Halal dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) secara gratis," jelas Peni.
Tak hanya sebagai peserta, Peni juga kerap dipercaya menjadi pemateri pelatihan bagi pelaku UMKM lainnya, membagikan pengalaman dan pengetahuannya di bidang kriya. Dukungan lain datang dari akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Peni memanfaatkan fasilitas ini sebanyak dua kali untuk memperkuat fondasi bisnisnya.
Pinjaman pertama sebesar Rp20-25 juta digunakan untuk pengembangan awal usaha. Sementara pinjaman kedua senilai Rp100 juta dimanfaatkan untuk merenovasi rumah sekaligus membangun mini galeri.
"Meskipun lokasi usaha saya berada di dalam gang, kehadiran mini galeri di rumah hasil dukungan BRI ini terbukti meningkatkan kepercayaan konsumen. Pernah ada rombongan ibu-ibu sampai membawa tiga mobil masuk ke gang hanya untuk melihat koleksi kami secara langsung," ceritanya.
Hadirkan Dampak Nyata Pemberdayaan Perempuan
Lebih dari sekadar bisnis, diOpeni berkembang menjadi ruang pemberdayaan. Peni mendirikan komunitas bernama Preman Super, singkatan dari Perempuan Mandiri Sumber Perubahan.
Komunitas ini menjadi wadah bagi perempuan, terutama lansia dan ibu tunggal, untuk tetap produktif. Banyak di antara mereka yang kemudian bergabung sebagai bagian dari tim diOpeni.
"Kami memberikan keleluasaan yang berkaitan dengan kreativitas. Misalnya kalau selama ini menerima jahitan sebatas model dan ukuran sesuai permintaan pelanggan, di diOpeni terbuka dengan bagaimana para karyawan ini bisa menuangkan ide-idenya sendiri yang dituangkan ke dalam kain lurik," ungkapnya.
Bagi Peni, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari perubahan yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
"Saya benar-benar senang sekali bisa membantu karyawan. Ada karyawan yang usianya sudah 60 tahun, bisa membeli mesin cuci dari upah bekerja bersama diOpeni. Dan bahkan beliau juga pernah mengatakan Alhamdulillah punya mesin cuci, saya pada akhirnya bisa bekerja mengerjakan jahitan ini semakin banyak. Itulah yang menggerakkan hati saya untuk terus mengembangkan usaha ini," kisahnya.
Ia percaya, kekuatan terbesar diOpeni justru terletak pada kolaborasi antarperempuan yang saling mendukung.
"Ini adalah sumber kekuatan yang luar biasa untuk bisa membangun sebuah bisnis menjadi sukses. Dengan tangan-tangan terampil para perempuan ini juga harapannya menjadi sebuah usaha yang menginspirasi pada perempuan yang lainnya," ujar Peni.
Harapan ke depan pun terus ia rajut. Peni ingin diOpeni semakin berkembang dan menjangkau lebih banyak peluang, termasuk melalui pameran berskala lebih besar.
"Sesuai dengan namanya, saya ingin usaha ini benar-benar terus 'diopeni' (dirawat) agar manfaatnya tidak berhenti di saya saja. Sebaik-baiknya perempuan adalah yang memiliki kegiatan produktif, yang mampu menambah kesejahteraan keluarga tanpa meninggalkan perannya di rumah," tutur Peni dengan penuh keyakinan.
Di sisi lain, dukungan terhadap UMKM seperti diOpeni menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BRI. Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyebutkan bahwa Rumah BUMN hadir sebagai wadah kolaboratif untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha.
Ia menjelaskan, hingga kini BRI telah membina 54 Rumah BUMN serta menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi UMKM di seluruh Indonesia.
“Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses, UMKM didorong untuk memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar. Kisah pelaku usaha Diopeni jadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha lainnya di berbagai daerah,” pungkasnya.