Perjalanan Mahend Craft Kulon Progo Bangun Usaha secara Mandiri, Kini Rutin Ekspor ke Australia

Memulai pemasaran digital lewat Instagram dan Facebook dengan unggahan seadanya, tanpa teknik promosi khusus. Kini sukses ekspor ke pasar global.

Nisa Mutia Sari
Oleh Nisa Mutia Sari - Reporter
Perjalanan Mahend Craft Kulon Progo Bangun Usaha secara Mandiri, Kini Rutin Ekspor ke Australia
Perjalanan Mahend Craft Kulon Progo Bangun Usaha secara Mandiri, Kini Rutin Ekspor ke Australia (Merdeka.com)

Mahend Craft bukan hanya sekadar UMKM dari Dusun Turus, Kulonprogo. Ia tumbuh sebagai gerakan lokal yang memberi makna lebih pada kerajinan tangan. Di balik tiap keranjang anyam, kap lampu serat alam, atau taplak meja dari mendong, tersimpan nilai sosial dan ekologis yang begitu dalam.

Seluruh produk Mahend Craft dibuat 100 persen secara handmade oleh warga desa, terutama ibu-ibu rumah tangga, pemuda, hingga lansia yang menggantungkan harapan pada pekerjaan rumahan untuk menambah penghasilan. Keterlibatan mereka bukan sekadar tenaga kerja, tapi bagian dari ekosistem usaha yang hidup dan berkesinambungan.

Produk-produk Mahend Craft juga sarat dengan keunggulan fungsional dan filosofis. Desainnya sederhana namun multifungsi—keranjang tak hanya jadi tempat penyimpanan, tapi bisa menjadi bagian dari dekorasi; taplak tak sekadar alas meja, tapi membawa nuansa alam ke dalam rumah.

Semua produk memiliki sentuhan khas kearifan lokal dan estetika alami. Lebih dari itu, seluruh bahan yang digunakan berasal dari serat alam seperti seagrass, mendong, dan pelepah pisang yang ramah lingkungan dan dapat terurai secara alami, menjadikannya alternatif berkelanjutan dibanding produk-produk pabrikan berbahan sintetis.

“Jika membeli produk kami artinya membantu kesejahteraan masyarakat di desa. Dan produk kami juga ramah lingkungan, produknya sederhana tapi multifungsi dan berguna,” ujar Priyo Nugroho, pemilik Mahend Craft.

Usaha Mahend Craft tidak serta-merta muncul dengan nama dan konsep seperti sekarang. Semuanya berawal dari usaha sederhana yang diberi nama Mandiri Craft, yang didirikan oleh Priyo Nugroho.

Pria berusia 37 tahun yang kini lebih dikenal pelanggan dengan panggilan Mas Hendi, menceritakan nama Mandiri dipilih bukan tanpa alasan. Nama itu dipilih sebagai bentuk representasi atas keberanian mereka memulai usaha dari nol—mandiri secara ilmu, modal, hingga jaringan pemasaran.

Di masa awal pandemi Covid-19, saat kebanyakan aktivitas ekonomi melambat, Mandiri Craft justru mengambil langkah awal dengan memproduksi bahan kerajinan seperti tali pandan dan rafia sintetis yang saat itu banyak dibutuhkan oleh para perajin.

Namun, ketika Mandiri Craft mulai berkembang dan Mas Hendi ingin mengajukan pendaftaran merek secara resmi untuk perlindungan HAKI, ternyata nama “Mandiri” sudah banyak digunakan dan akhirnya ditolak pendaftarannya. Hal ini menjadi batu sandungan sekaligus momen refleksi penting.

Tidak menyerah, Mas Hendi bersama istrinya kemudian meramu identitas baru yang tetap membawa semangat awal mereka, tetapi sekaligus lebih khas dan berkarakter. Mereka menggali dari aset yang sudah mereka miliki, yaitu akun media sosial yang selama ini menjadi wadah pemasaran produk mereka secara online, khususnya Instagram dan Facebook yang bernama “Hendikrefku”.

Nama ini awalnya digunakan untuk berjualan di media sosial, bukan di toko offline. Namun justru dari sinilah muncul ide untuk menyatukan semangat “Mandiri” dengan citra “Hendikrefku” yang telah lebih dulu dikenal oleh audiens online.

Maka lahirlah nama baru, yaitu Mahend, sebuah akronim dari MAndiriHENDikrefku, yang kemudian menjadi identitas resmi brand mereka hingga saat ini. Nama ini tidak hanya mencerminkan proses kreatif dan adaptif dalam membangun merek, tetapi juga membawa nilai lokalitas yang kuat.

“Pada awalnya Mandiri Craft dibentuk sebagai tanda bahwa kami memulai usaha benar-benar mandiri, baik secara ilmu, modal maupun relasi dan pemasaran. Mandiri Craft awal mula produksi bahan kerajinan yaitu berupa tali pandan dan sintetis rafia,” cerita Mas Hendi kepada merdeka.com pada Rabu (23/4/2025).

Mahend Craft berlokasi di Dusun Turus, Desa Tanjungharjo, Kulon Progo—daerah yang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan anyaman di Yogyakarta. Mahend Craft tumbuh di tengah lingkungan masyarakat yang secara turun-temurun telah menghasilkan produk anyaman berkualitas untuk pasar domestik dan mancanegara.

Selama ini, pola produksi di daerah tersebut berjalan secara konvensional, dimana para perajin memproduksi barang, lalu menjualnya ke toko-toko atau pabrik ekspor yang berada di kota-kota besar seperti Jogja, Bali, Semarang, hingga Jakarta. Dari tangan para pengepul inilah produk anyaman kemudian dipasarkan kembali secara online oleh pihak ketiga. Para perajin sendiri tetap berada dalam jalur distribusi offline dan tak terlibat langsung dalam ekosistem digital.

Melihat realita ini, Mas Hendi memilih jalur berbeda. Ia menyadari bahwa sebagai pemain baru, Mahend Craft harus memiliki keunikan dibanding perajin lama yang lebih dulu eksis di wilayahnya. Maka, ia memutuskan untuk langsung menyasar pasar grosir luar daerah dengan pendekatan digital.

Produk-produk Mahend Craft diproduksi secara massal dan dijual dalam jumlah besar kepada pemilik toko di luar Jogja dan Bali, termasuk ke wilayah Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Strategi ini tidak hanya memperluas jangkauan pasar, tetapi juga memotong rantai distribusi panjang yang selama ini hanya menguntungkan perantara.

Meski tidak memiliki latar belakang bisnis—Mas Hendi berasal dari dunia otomotif, sementara istrinya seorang pendidik matematika—namun mereka tetap berani memulai pemasaran digital lewat Instagram dan Facebook. Awalnya hanya dengan unggahan seadanya di akun pribadi, tanpa teknik promosi khusus.

Namun justru di masa pandemi tahun 2020–2022, strategi ini membuahkan hasil. Ketika sebagian besar pabrik kerajinan lokal berhenti produksi akibat pembatasan aktivitas, Mahend Craft justru banjir pesanan dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka melayani transaksi dalam jumlah besar dari pembeli yang bahkan belum pernah mereka temui secara langsung, hanya bermodal komunikasi daring, kepercayaan, dan konsistensi dalam menjaga kualitas.

“Di saat Corona itu sekitar kami yang mengerjakan pabrik lokal (offline) pada berhenti produksi. Kami di tahun 2020-2022 malah kebanjiran order,” kenang Mas Hendi.

Tanpa pernah bertemu langsung dengan pembeli, Mahend Craft berhasil membangun jaringan pelanggan setia di berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara. Bermodal kepercayaan dan konsistensi menjaga kualitas, pelanggan tetap dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Cirebon rutin melakukan pemesanan melalui jalur online.

Pola hubungan dagang ini menjadi bukti bahwa digitalisasi pemasaran, meski sederhana, mampu menciptakan konektivitas bisnis yang luas bahkan dari desa terpencil sekalipun. Kepercayaan menjadi fondasi utama, dan Mahend Craft mampu menjaganya melalui pelayanan yang transparan dan produk yang konsisten.

Tak hanya domestik, Mahend Craft juga telah melangkah ke panggung global. Peluang ekspor terbuka ketika Mas Hendi dan tim mengikuti berbagai pameran, termasuk ajang BRILianpreneur yang diselenggarakan oleh Bank BRI.

Dari sana, Mahend Craft menjalin relasi dengan pelanggan luar negeri seperti buyer dari Belanda yang sempat singgah langsung ke lokasi produksi di Kulon Progo. Selain itu, calon mitra dari Malaysia juga pernah datang untuk menyaksikan langsung proses pembuatan produk handmade mereka, sebagai bentuk verifikasi kualitas dan orisinalitas sebelum melakukan kerja sama lebih jauh.

Saat ini, Mahend Craft rutin ekspor ke Australia dengan seorang pelanggan tetap yang bahkan belum pernah bertemu langsung dengan tim Mahend Craft secara langsung. Meski komunikasi hanya berlangsung secara daring, hubungan bisnis tetap terjalin erat dan lancar.

Produk-produk seperti stool anyam, keranjang besar, dan dekorasi rumah yang berukuran besar menjadi favorit pasar luar negeri karena fungsionalitas dan estetika tropisnya yang unik. Selain Australia, Mahend Craft juga telah mengirim produknya ke Amerika Serikat, Inggris, Timur Tengah, dan Malaysia—semuanya melalui mekanisme direct order yang disesuaikan kebutuhan buyer.

“Kalau pelanggan dari luar negeri ada ketemu di pameran. Untuk ekspor kami masih rutin ke Australia (ada customer tetap yang selalu order walau belum pernah ketemu) Amerika, Inggris, Timur Tengah dan lainnya,” jelas Mas Hendi.

Berawal dari ketidaktahuan soal strategi bisnis, Mahend Craft membangun jalur pemasarannya secara autodidak. Mas Hendi, mengaku bahwa ia dan istrinya tidak memiliki latar belakang wirausaha.

Namun, ketekunan dan naluri bertahan di masa sulit mendorong mereka memanfaatkan apa yang mereka miliki—akun media sosial pribadi di Instagram dan Facebook. Dengan hanya bermodal foto sederhana hasil dokumentasi sendiri, produk Mahend Craft mulai mencuri perhatian para pemilik toko dan reseller dari berbagai daerah yang mencari produk kerajinan tangan berbasis serat alam.

Menariknya, tanpa memiliki toko offline resmi, Mahend Craft tetap berhasil membangun jejaring pelanggan yang luas. Hingga kini, mereka hanya memiliki rumah produksi, gudang bahan, dan rumah-rumah penganyam yang tersebar di kampung. Pendekatan digital dan pemasaran berbasis konten natural menjadi nilai lebih yang membuat calon mitra merasa lebih dekat secara emosional dan percaya terhadap keaslian produk.

“Untuk pemasaran kami awalnya autodidak. Berawal dari basic dan mengandalkan posting di media sosial Instagram dan Facebook. Dengan foto-foto sederhana, ternyata malah banyak diminati para pengusaha untuk menjual kembali produk kita,” kenang Mas Hendi.

Untuk eksposur, Mahend Craft tak ragu mengikuti berbagai proses kurasi untuk bisa tampil di pameran-pameran kerajinan bergengsi. Mulai dari event lokal di Yogyakarta hingga ajang internasional seperti IFEX dan JIFFINA, Mahend Craft secara mandiri mengupayakan keikutsertaannya.

Pada tahun 2022, Mas Hendi bahkan sempat terpilih sebagai salah satu dari 10 besar peserta kompetisi Pengusaha Muda BRILiaN wilayah Jogja-Jateng, program dari Bank BRI yang turut membentuk jejaring dan wawasan bisnis untuk UMKM binaan.

Mahend Craft mencatat prestasi gemilang saat berpartisipasi dalam event BRI UMKM EXPO(RT) 2025 yang digelar di ICE BSD, sebuah ajang bergengsi yang mempertemukan ratusan UMKM dengan buyer nasional dan internasional. Kesempatan ini dimanfaatkan tim Mahend Craft untuk memamerkan kerajinan anyaman serat alam mereka di hadapan khalayak luas.

Dalam persiapan menuju pameran, Mahend Craft menyiapkan 16 kardus penuh produk anyaman—mulai stool, keranjang besar, hingga kap lampu—dan berhasil menjual habis hampir semuanya dalam waktu hanya empat hari pameran, dari 30 Januari – 2 Februari 2025.

“Alhamdulilah, kita bawa 16 kardus barang kerajinan anyaman dan terjual habis di hari ke 3. Kita juga dapat reseller baru dari acara BRI UMKM EXPO(RT) 2025 kemarin,” cerita Mas Hendi bangga.

Menariknya, banyak customer yang pada awalnya ragu karena mengira harga produk anyaman tergolong mahal. Namun persepsi itu segera berubah ketika mereka mengetahui bahwa Mahend Craft langsung memproduksi tanpa perantara, sehingga mampu menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif dan tetap memberikan margin bagi reseller untuk berjualan kembali.

Selain berhasil meningkatkan penjualan retail secara signifikan, keikutsertaan di BRI UMKM EXPO(RT) 2025 juga membuka pintu relasi baru. Mahend Craft mencatat sejumlah reseller potensial yang menawarkan kerja sama jangka panjang, memperluas jaringan bisnis hingga ke berbagai provinsi, dan bahkan menambah “keluarga” baru dalam industri kerajinan, sekaligus menjadi sumber rezeki baru bagi warga desa yang terlibat di dalamnya.

Bank BRI terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelaku UMKM melalui akses pembiayaan, program pemberdayaan, hingga perluasan pasar ke kancah internasional. Tak sekadar menghimpun dana, BRI aktif menggelar berbagai inisiatif untuk membantu UMKM naik kelas, mulai dari pelatihan, pembinaan, hingga pameran skala global.

Mengutip akun Instagram BRI Regional Yogyakarta, terdapat empat program unggulan yang dihadirkan untuk memperkuat langkah UMKM menuju pasar dunia, yakni Rumah BUMN, Growpreneur, BRIncubator, dan Pengusaha Muda BRILiaN. Keempat program ini dirancang untuk memperkenalkan dan mempersiapkan UMKM Indonesia bersaing di level global.

Rumah BUMN, salah satu program andalan, merupakan bentuk kolaborasi antar-BUMN untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas UMKM, yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN sejak 2016. Di Yogyakarta, Rumah BUMN bekerja sama dengan BRI untuk menghadirkan pelatihan, pembinaan, fasilitas co-working space, hingga menjadi pusat aktivitas millennial dan Satgas Bencana. Selain itu, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga disalurkan melalui Rumah BUMN.

Sejak berdiri pada 2017, BRI telah mendirikan 54 Rumah BUMN di berbagai wilayah di Indonesia. Berdasarkan data dari situs resmi Rumah BUMN, terdapat lebih dari 444.617 UMKM binaan dengan 15.604 pelatihan yang telah terselenggara.

Di Yogyakarta, Rumah BUMN dikenal dengan nama RuBY (Rumah BUMN Yogyakarta) resmi beroperasi sejak 12 Januari 2017. Hingga kini, tercatat sebanyak 15.368 UMKM terdaftar dan 1.660 pelatihan telah digelar di RuBY.

“Per Agustus 2024, tercatat sekitar 400-500 UMKM baru yang bergabung dengan kami,” ujar Bagaskara Priyambodo, Koordinator RuBY, Rabu (12/3/2025).

Sektor usaha yang dibina di Rumah BUMN Yogyakarta mencakup fashion, makanan dan minuman, aksesoris & kecantikan, serta home décor & craft. RuBY terus mengembangkan berbagai program pelatihan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis para pelaku UMKM.

Sedangkan Pengusaha Muda BRILiaN (PMB) adalah program akselerasi dari Bank BRI untuk pengusaha muda Indonesia maksimal berusia 40 tahun, yang memiliki usaha di bidang food & beverage, fashion, handicraft, dan beauty & health care, dengan omzet Rp50–Rp500 juta.

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas UMKM lewat pengembangan SDM unggul, inovasi teknologi, dan penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance). Peserta akan didampingi oleh Super Mentor dan Mentor dari berbagai daerah.

“BRI berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kapabilitas dan daya saing pengusaha muda agar dapat naik kelas dan memperluas pasar hingga ke skala global. Kami berharap alumni PMB dapat menjadi lokomotif perubahan yang menginspirasi lebih banyak wirausaha muda di seluruh Indonesia,” mengutip rilis BRI “Pengusaha Muda BRILiaN 2024, Bukti Keberpihakan BRI dalam Mengembangkan UMKM Berdaya Saing Global” yang diunggah pada Jumat (7/2/2025).

Setelah mengikuti pembinaan di Rumah BUMN dan mengikuti program Pengusaha Muda BRILiaN, UMKM berkesempatan untuk berpartisipasi dalam pameran produk di ajang BRILianpreneur. Sejak 2019, BRILianpreneur telah menjadi agenda tahunan BRI yang sangat dinanti oleh pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Event ini bertujuan mempertemukan UMKM dengan pembeli internasional, membuka peluang ekspor, dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.

Rumah BUMN, PMB dan BRILianpreneur merupakan tiga inisiatif berbeda namun saling melengkapi dalam upaya BRI memberdayakan UMKM. Melalui program ini, BRI berharap mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor UMKM nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memperkuat posisi UMKM di kancah internasional.

“BRI UMKM EXPO(RT) merupakan kategori dari BRILianpreneur yang menjadi puncak rangkaian kegiatan ini. Semua UMKM binaan dari berbagai program bisa mengikuti proses seleksi untuk tampil di Brilianpreneur,” tambah Bagas.

Rekomendasi