Uniknya Desa Cikahuripan Lembang, Warganya Antisipasi Bencana Alam Pakai Seni Tarik Suara
Warga sekitar menamai kesenian ini dengan Engko. Bentuknya serupa seni tarik suara tetembangan yang menyampaikan sebuah pesan mitigasi kebencanaan.
Seni tarik suara mungkin selama ini hanya digunakan sebagai media hiburan. Para penyanyi biasanya memanfaatkan kemerduan suara untuk menarik banyak pendengar, sekaligus mengungkapkan perasaan yang dibawa oleh lagu.
Namun ada fenomena menarik di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di sana, warganya justru menggunakan seni tarik suara sebagai bentuk antisipasi dari dampak bencana alam.
Warga sekitar menamai kesenian ini dengan Engko. Bentuknya serupa dengan Beluk, yakni seni tarik suara yang menyampaikan sebuah pesan kehidupan. Penegasan pesan akan disampaikan dengan cara meninggikan nyanyian sehingga siapapun dapat menyadari sebuah ajakan yang tersirat.
Hal yang sama terjadi pada Engko, di mana warga yang menyaksikan pertunjukannya akan diajak untuk selamat dari bahaya bencana alam.
Berangkat dari Kontur Alam yang Rawan
Mengutip Napak Jagat Pasundan, kesenian Engko sebenarnya merupakan kesenian buhun atau nenek moyang yang sudah ada sejak lebih dari puluhan tahun silam. Persisnya, kesenian ini lahir dari keadaan kawasan Bandung Barat yang berada di atas patahan sesar Lembang dan Gunung Tangkuban Perahu sehingga rawan terjadi gempa bumi dan erupsi berapi.
Ketika belum menyadari adanya keadaan demikian, warga berpotensi menjadi korban karena kurangnya kesadaran dan antisipasi dari dampak yang ditimbulkan. Hadirnya kesenian Engko setidaknya bisa membangun kesadaran melalui pesan-pesan yang disampaikan.
“Desa Cikahuripan melestarikan Engko, salah satu seni Sunda buhun. Seni Engko inilah yang kemudian menjadi sarana edukasi untuk mitigasi bencana,” tulis keterangan di laman Napak Jagat Pasundan.
Menyampaikan Pesan Evakuasi dan Antisipasi Bencana Lewat Tetembangan
Seperti dijelaskan sebelumnya, kesenian ini kemudian lestari dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Cikahuripan, Lembang. Sudah sejak lama, mereka menggunakannya untuk mengajak warga sekitar agar senantiasa peka terhadap keadaan alam dan lingkungan yang mereka tinggali.
Melalui kesenian Engko, pesan-pesan bahaya bencana alam hingga cara menyelamatkan diri tersampaikan oleh juru Engko yang umumnya adalah laki-laki. Dalam penampilannya, Engko akan disaksikan oleh warga yang duduk di hadapan penembang Engko.
Diiringi Musik Tradisional dan Warga Boleh Ikut Berjoget
Keunikan kesenian ini adalah terdapatnya pola interaksi, yakni dari warga sebagai penonton akan sangat diperbolehkan untuk naik ke atas panggung. Di kesempatan itu, mereka akan ikut berjoget sesuai iringan musik yang dimainkan.
Dalam sebuah pertunjukan Engko terdapat seperangkat alat musik gamelan Sunda, seperti kendang rampak, kecrek, saron, kacapi dan gong.
Sebagai musik pengiring pesan mitigasi, temponya akan disesuaikan dengan tema yang disampaikan. Namun, di awal pementasan biasanya alunan musik cenderung pelan hingga temponya perlahan meningkat.
Melekat dengan Keseharian Warga
Mengutip Instagram Gunung Puntang, kesenian Engko sampai sekarang masih dilestarikan dan melekat dengan keseharian warga. Biasanya, kesenian ini dihadirkan di acara-acara pesta panen adat, acara kebudayaan kampung, hajatan sunat hingga resepsi pernikahan.
Sesuai esensinya, seni ini serupa dengan Beluk yang juga sudah ada dan masih dilestarikan dan biasanya menyampaikan pesan kehidupan seperti bagaimana bertingkah laku, berinteraksi dengan sesama dan saling menjaga silaturahmi antar warga.
Engko diketahui sempat popular di Lembang sejak tahun 1950-an, bahkan dimungkinkan sejak jauh sebelumnya. Beruntung saat ini kesenian Engko masih lestari dan dipertahankan oleh warga Cikahuripan, Lembang.