Sebelum Berkurban, Kenali Dulu Ciri Hewan yang Sehat agar Ibadah Lebih Bermakna dan Aman
Jelang Idul Adha, pastikan hewan kurban Anda sehat dan legal. Simak panduan lengkap dari dokter hewan berikut ini.
Menjelang perayaan Idul Adha 1444 H, suasana lapak-lapak hewan kurban di sepanjang jalan kian semarak. Sapaan penjual bersahut-sahutan dengan calon pembeli yang meneliti kambing, domba, kerbau, maupun sapi untuk disembelih pada hari raya. Di tengah hiruk-pikuk itu, satu pertanyaan penting selalu muncul: apakah hewan yang dipilih benar-benar sehat?
Menunaikan ibadah kurban tidak sekadar menyembelih—ada amanah besar dalam memastikan daging yang kelak dibagikan aman, halal, dan layak konsumsi. Dokter hewan Ahmad Syifa Sidik mengingatkan, “Memilih hewan kurban yang sehat dan tidak berpenyakit merupakan sesuatu yang harus untuk menjaga kualitas daging kurban yang akan dibagikan.” Pernyataan ini menegaskan urgensi ketelitian sebelum transaksi terjadi.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menentukan pilihan hanya berdasarkan ukuran tubuh atau harga. Padahal, ciri fisik, nafsu makan, kondisi kotoran, serta kelengkapan dokumen kesehatan adalah indikator utama. Artikel ini merangkum tips praktis memilih hewan kurban sehat, menautkan tradisi ibadah dengan ilmu veteriner mutakhir, agar kurban tahun ini benar-benar membawa berkah bagi pekurban, penerima, dan—yang tak kalah penting—kesejahteraan hewan itu sendiri.
Urgensi Memastikan Kesehatan Hewan Kurban
Menjaga kualitas daging kurban bukan hanya soal rasa; ia berkait erat dengan food safety dan animal welfare. Hewan yang terinfeksi penyakit zoonosis—misalnya antraks atau brucellosis—berpotensi menulari manusia melalui daging, darah, atau limbah penyembelihan. Risiko inilah yang coba ditekan pemerintah lewat regulasi dan inspeksi lapangan.
Lebih jauh, syariat pun menegaskan hewan kurban harus terbebas dari cacat. Dalam fikih, cacat meliputi pincang parah, kurus kering, buta, atau sakit nyata. Memastikan hewan sehat berarti memenuhi standar kehalalan kurban dari hulu ke hilir. “Setiap orang yang hendak membeli hewan kurban harus teliti mengenali ciri hewan yang layak,” tutur Ahmad Syifa Sidik. Pernyataan ini memperkuat pesan bahwa selektif bukan sikap berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab ibadah.
Panduan Praktis Mengamati Ciri Fisik
Langkah pertama adalah menilai postur tubuh. Hewan sehat berdiri tegap, keempat kaki menapak kokoh, dan bergerak lincah tanpa tanda pincang. Kaki yang kuat menjamin proses penyembelihan aman serta memudahkan distribusi daging karena berat badan ideal.
Perhatikan pula kuku. “Kuku mengilap natural, tidak pecah, dan tidak ada pangkal kuku,” jelas drh. Ahmad. Kuku retak bisa menandakan infeksi kaki atau kekurangan mineral. Rambut harus tampak bersih, mengilap, dan bebas lesi kulit; bulu kusam acap kali berkorelasi dengan parasit atau gangguan metabolisme. Jangan lupakan mata—pandangan jernih tanpa belekan menandakan sistem imun baik.
Bagian hidung (cermin) seharusnya basah alami, bukan kering atau berkerak. Mulut juga wajib mulus. “Bagian mulut tidak ada keropeng atau luka, lidah tidak menjulur keluar serta tidak ada air liur yang berlebihan sampai keluar mulut,” papar Ahmad Syifa. Air liur berlebih bisa mengindikasikan stomatitis atau penyakit mulut dan kuku (PMK). Melalui observasi sederhana ini, pembeli sudah mampu menyingkirkan kandidat hewan berisiko tinggi.
Nafsu Makan dan Kotoran: Cermin Vitalitas Tersembunyi
Faktor berikutnya—sering terabaikan—adalah nafsu makan. Hewan kurban sehat akan antusias saat pakan ditawarkan, kunyahan ritmis, dan tidak memilih-milih. Nafsu makan turun drastis menjadi gejala awal banyak penyakit metabolik maupun infeksius. Pantau minimal 10-15 menit; kegairahan makan yang stabil menjadi sinyal hijau.
Selanjutnya, kotoran menyediakan petunjuk internal. Tekstur ideal tidak cair, tidak terlalu keras, serta mempertahankan bentuk saat jatuh ke tanah. “Kotoran dari hewan yang sehat teksturnya tidak lembek atau cair dan tidak kering,” terang Ahmad Syifa. Perubahan warna ekstrem, bau menusuk, atau bercampur darah adalah alarm kuat gangguan pencernaan. Meski terdengar merepotkan, inspeksi kotoran efektif menyaring hewan yang tampak sehat di luar tetapi bermasalah di dalam.
Dokumen Kesehatan: Garansi Legalitas dan Keamanan
Setelah yakin secara visual, calon pekurban wajib menuntut surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) asli. Dokumen ini diterbitkan dinas peternakan kabupaten atau kota asal dan harus ditandatangani dokter hewan berwenang lengkap dengan cap basah. “Paling utama cek kelengkapan dokumen,” tegas Ahmad Syifa. Tanpa SKKH, status kesehatan hewan sulit dipertanggungjawabkan, apalagi jika dikirim antardaerah.
SKKH mencakup data vaksinasi, hasil uji laboratorium (jika ada), serta catatan pemeriksaan terkini. Legalitas ini melindungi pembeli dari praktik peredaran hewan ilegal atau berpenyakit. Lebih luas, pencatatan resmi memudahkan tracing apabila terjadi wabah pasca-kurban. Karenanya, jangan sungkan menolak hewan tanpa dokumen lengkap—langkah tegas justru memperkuat mata rantai keamanan pangan.
Menguatkan Kesadaran Kolektif demi Kurban Berkualitas
Meningkatkan literasi masyarakat tentang cara memilih hewan kurban sehat akan berdampak ganda: kesejahteraan hewan terjamin dan daging kurban berkualitas sampai ke tangan mustahik. Penjual pun diuntungkan karena reputasi lapak terangkat; hewan terjual lebih cepat dan harga stabil. Salah satu kunci keberhasilan adalah kolaborasi antara pemerintah daerah, asosiasi peternak, dan takmir masjid untuk menyediakan pos pemeriksaan kesehatan gratis di lokasi penjualan.
Kesadaran juga perlu dibarengi edukasi pasca-pembelian, seperti manajemen stres hewan, penempatan kandang teduh, dan pemberian pakan cukup jelang penyembelihan. Hewan yang tenang menghasilkan daging lebih empuk dan higienis. Dengan begitu, semangat berbagi di hari raya dibarengi standar kesehatan prima—cerminan ibadah yang rahmatan lil ‘alamin.
Pada akhirnya, memilih hewan kurban bukan transaksi biasa, melainkan wujud tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial. Mulailah dengan observasi fisik—postur tegap, kuku mulus, bulu bersih, mata cerah, hidung basah—lanjutkan dengan mengecek nafsu makan, memeriksa kotoran, lalu pastikan dokumen kesehatan sah.
Idul Adha sejatinya momentum berbagi kebaikan; pastikan kebaikan itu bermula dari hewan kurban yang benar-benar sehat, legal, dan berkualitas. Dengan langkah cermat, pekurban menunaikan syariat sekaligus menjaga kesehatan masyarakat luas—sebuah kurban yang paripurna dalam makna dan manfaat.