VIDEO Iran Pamer Terowongan Rudal Bawah Laut, Selat Hormuz “Tak Akan Aman” Jika AS Menyerang
Stasiun televisi pemerintah Iran menayangkan cuplikan video terowongan rudal bawah laut yang memuat sejumlah rudal canggih.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menegaskan pasukan Iran memiliki “jari di pelatuk”.
Teheran mengungkap jaringan “terowongan rudal bawah laut” dan memperingatkan bahwa Selat Hormuz tidak akan aman jika Republik Islam Iran diserang oleh Amerika Serikat, demikian dilaporkan televisi pemerintah Iran.
Dilansir the Cradle, Kamis (29/1), rekaman yang ditayangkan televisi pemerintah menunjukkan Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, berada di dalam fasilitas rudal bawah laut tersebut. Terlihat deretan rudal jelajah yang dilaporkan mampu menghantam target hingga lebih dari 1.000 kilometer dengan sistem pemandu pintar.
Siap Hadapi Ancaman di Level Apa pun
“Kemampuan kami terus berkembang,” kata Tangsiri, seraya menambahkan bahwa pasukan Iran siap menghadapi ancaman di level apa pun dan di wilayah mana pun.
Awal pekan ini, Wakil Politik Angkatan Laut IRGC, Mohammed Akbarzadeh, memperingatkan bahwa Teheran dapat mengganggu pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Iran sebelumnya menahan diri untuk tidak memblokade selat tersebut selama perang 12 hari antara AS–Israel melawan Republik Islam Iran pada Juni lalu, namun berulang kali memperingatkan bahwa langkah itu bisa menjadi opsi jika terjadi serangan baru terhadap Iran.
37 Persen Lalu Lintas Minyak Dunia
Akbarzadeh mengatakan Iran memperoleh informasi intelijen secara real-time “dari udara, permukaan, dan bawah laut Selat Hormuz”.
Sekitar 37 persen lalu lintas minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan mengunjungi Turki pada Jumat untuk melakukan pembicaraan guna mencegah serangan AS dan eskalasi konflik di kawasan.
Teheran juga telah memperingatkan negara-negara Teluk dan Ankara bahwa meski Iran tidak menginginkan perang, pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan akan menjadi sasaran jika Iran diserang.
Sementara itu, kapal induk AS USS Abraham Lincoln telah tiba di kawasan Asia Barat bersama sejumlah kapal perang pendamping. Washington juga mengerahkan tambahan skuadron jet tempur ke wilayah tersebut.
Pelajaran Berharga Perang 12 Hari
Trump sebelumnya mengatakan bahwa sebuah “armada yang indah” sedang bergerak menuju Iran, sambil mendesak Republik Islam Iran untuk menyerah pada syarat-syarat AS dan kembali ke meja perundingan. Washington menuntut Teheran menghancurkan uranium yang telah diperkaya, membatasi program rudal, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok perlawanan di kawasan.
“Angkatan Bersenjata kami yang pemberani siap—dengan jari di pelatuk—untuk segera dan dengan kekuatan penuh merespons SETIAP agresi terhadap darat, udara, dan laut tanah air kami. Pelajaran berharga dari Perang 12 Hari telah membuat kami mampu merespons dengan lebih kuat, cepat, dan mendalam,” kata Araghchi pada Rabu.
Misi Iran di PBB juga menyatakan pekan ini bahwa Teheran siap merespons “seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika negara itu diserang.