Trump Tak Tertarik Lagi Dapat Nobel Perdamaian
Trump menyampaikan pengakuan tersebut kepada Perdana Menteri Norwegia.
Pada hari Senin, 19 Januari 2026, Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Store, mengonfirmasi bahwa ia telah menerima pesan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada akhir pekan sebelumnya.
Dalam pesan tersebut, Trump menyatakan ketidaktertarikannya untuk melanjutkan upaya perdamaian karena merasa tidak mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian.
Dalam pesan yang dikirim pada tanggal 18 Januari, Trump menuliskan, "Mengingat negara Anda memutuskan untuk tidak memberikan saya Nobel Perdamaian atas keberhasilan menghentikan 8 Perang PLUS, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk berpikir semata-mata tentang Perdamaian, meskipun itu akan selalu menjadi hal yang dominan. Namun kini saya dapat memikirkan apa yang baik dan pantas bagi AS."
Selain itu, Trump juga menegaskan kembali keinginannya untuk memiliki Kendali Penuh dan Total atas Greenland.
Store menjelaskan kepada media Norwegia, VG, sebagaimana dilaporkan oleh Politico, bahwa pesan Trump—yang pertama kali dilaporkan oleh PBS—merupakan tanggapan atas pesan singkat yang dikirimnya sebelumnya pada hari yang sama atas nama dirinya dan Presiden Finlandia, Alexander Stubb.
Dalam pesan awal tersebut, kedua pemimpin negara Nordik itu mengajak untuk meredakan ketegangan dan meminta untuk melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon trilateral.
Trump Salah Mengenai Nobel
Store menekankan bahwa pemerintah Norwegia tidak memiliki wewenang dalam memberikan penghargaan Nobel Perdamaian. Penghargaan tersebut diserahkan oleh sebuah komite independen yang terpisah dari pemerintah.
Pernyataan Trump mengenai berkurangnya fokusnya sebagai pegiat perdamaian muncul di tengah meningkatnya retorika agresif terkait Greenland, sebuah wilayah otonom yang dimiliki oleh Denmark, yang sebelumnya ingin ia kuasai.
Pada akhir pekan yang sama, Trump mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif 10 persen mulai 1 Februari terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencananya untuk menganeksasi Greenland.
Trump diketahui secara aktif mengkampanyekan dirinya sebagai kandidat peraih Nobel Perdamaian. Ia sering membandingkan dirinya dengan mantan Presiden AS Barack Obama, yang memenangkan penghargaan tersebut pada tahun 2009.
Trump juga berulang kali mengklaim telah mengakhiri setidaknya delapan konflik bersenjata, meskipun klaim tersebut dipersoalkan oleh sejumlah pemeriksa fakta.
Nobel Perdamaian 2025 dianugerahkan kepada pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. Pada pekan lalu, Machado menyerahkan medali Nobel yang ia terima kepada Trump.
Namun, Komite Nobel kemudian menegaskan bahwa meskipun medali fisik dapat berpindah tangan, kehormatan dan status penerima Nobel Perdamaian tidak dapat dialihkan kepada pihak lain. Hal ini menunjukkan pentingnya integritas dan keaslian dari penghargaan tersebut, yang tidak hanya bergantung pada kepemilikan fisik medali.
Dengan demikian, meskipun ada upaya untuk mengaitkan diri dengan penghargaan bergengsi ini, substansi dan makna dari Nobel Perdamaian tetap harus dihormati. Ini menjadi pengingat bahwa penghargaan ini tidak sekadar simbol, melainkan merupakan pengakuan atas kontribusi nyata dalam menciptakan perdamaian di dunia.